Menu

Mode Gelap
Bus Aceh Tujuan Pekanbaru Dilempari Batu di Labura, Balita dan Ibunya Selamat dari Bahaya Data Bencana Simpang Siur, Camat Cot Girek Sebut Satu Korban Tewas, Pemkab Aceh Utara Masih Nihil Laporan Jiwa Perlintasan Simpang Durian Kembali Berduka, Pejalan Kaki Tewas Disambar Kereta Api Aceh Tengah Masuki Masa Transisi Pemulihan, Kerugian Pascabencana Tembus Rp6,9 Triliun BWS Dinilai Lambat, Petani Aceh Timur Terancam Gagal Tanam Lagi Mualem Bawa Isu Perdamaian Aceh Kembali ke Meja Nasional

Aceh

Perempuan Pejuang Nafkah: Dari Kebun Kakao hingga UMKM, Bangkit dari Keterbatasan

badge-check


					Perempuan Pejuang Nafkah: Dari Kebun Kakao hingga UMKM, Bangkit dari Keterbatasan Perbesar

LHOKSEUMAWE, Harianpaparazzi.com – Tidak sedikit perempuan terpaksa menjadi tulang punggung atawa kepala keluarga karena tuntutan keadaan. Stigma masyarakat yang menganggap peran ibu sekadar merawat anak dan mengurus rumah tangga kian memudar. Karena itu, upaya pemberdayaan perempuan kepala keluarga harus berjalan beriringan dengan pengentasan kemiskinan.

Nurhasanah, sehari-hari menjalani hidup sebagai petani kakao di Gampong (Desa) Blang Pante, Kecamatan Paya Bakong, Aceh Utara. Wanita sepuh ini saban hari berjuang dari pukul enam pagi sampai petang. Ia menyusuri jalan setapak demi setapak untuk mencapai kebun.

“Beberapa tahun lalu, kami belum tahu cara menanam yang benar. Hasil panen tidak menentu dan hasil panen tidak berkualitas baik,” ujarnya saat berbincang dengan penulis belum lama ini.

Nurhasanah merupakan satu dari 19 perempuan yang menerima bantuan pelatihan Program Kelompok Tani Kepala Rumah Tangga bantuan dari Pertamina Hulu Energi (PHE) North Sumatera Offshore (NSO). Kelompok perempuan kepala keluarga yang diberi nama Inong Balee ini diajarkan teknik budidaya dan peremajaan tanaman kakao.

Sebelum PHE NSO melakukan pemberdayaan perempuan kepala keluarga, lanjut dia, hasil panen kebun kakao menurun. Apalagi, pohon-pohon kakao sudah melewati usia produktif.

“Dulu kami panen, langsung jual. Tidak tahu soal kualitas,” katanya.

Ia mengaku tidak pernah menyerah dengan keadaan, selama bertahun-tahun kemiskinan menjadi teman hidupnya. Ia berkisah, suaminya tewas saat terjadi kontak senjata di desanya.

Kala itu, anaknya masih duduk di sekolah dasar. Ia memutar otak melakukan pekerjaan kasar demi memenuhi kebutuhan hidup.

“Saya dulu menjadi buruh tani agar anak tetap bisa makan. Sebab, hasil kebun peninggalan suami tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup,” ujarnya.

Tidak hanya sebagai buruh tani, ia juga kerap memanggul batu ke dalam truk di Sungai Krueng Kereuto. Upah dari pekerjaan kasar itu hanya cukup untuk menutupi kebutuhan sehari-hari.

“Saya sangat bersyukur adanya program pemberdayaan dari PHE NSO. Kami diajarkan berbagai cara untuk meningkatkan hasil panen. Seperti, praktik pertanian kakao yang baik,” katanya.

Saat ini, program Inong Balee berhasil merestorasi empat hektar laham kritis perkebunan kakao. Adapun penanaman bibit mencapai 600 bibit baru dan peremajaan lebih dari 1700 pohon kakao.

Pelatihan dan Pendampingan Perawatan Kakao dilaksanakan melalui metode sekolah lapang. Peningkatan produktivitas tanaman kakao pun mulai terlihat dari awalnya satu pohon maksimal panen satu kilogram kakao dengan harga Rp 13.000 kini satu pohon menghasilkan sekira tiga sampai lima kilogram kakao.

Baronang Crispy.

Semangat tidak jauh berbeda ditunjukkan, Sabariah dari Desa Pasar Rawa, Kecamatan Gebang, Kabupaten Langkat. Ia bersama ibu-ibu anggota Kelompok UMKM Kuliner Maju Bersama mengembangkan inovasi baru. Mereka mengubah ikan baronang yang dulunya hanya dijadikan pakan ternak menjadi cemilan bergizi.

Melalui dukungan dari PT Pertamina EP Pangkalan Susu Field bagian dari Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 1, para ibu-ibu mendapat berbagai pelatihan. Mereka diajarkan mengolah ikan baronang menjadi berbagai jenis cemilan dan makanan tambahan untuk balita.

“Program ini membantu kami, ibu rumah tangga berpenghasilan dan punya keterampilan baru,” ujarnya.

Menurutnya, hasil dari olahan ikan berkontribusi untuk menurunkan resiko stunting. Bahkan, mereka sudah punya penghasilan untuk menambah kebutuhan keluarga.

“Alhamdulillah saat ini penghasilan dari penjualan cemilan mencapai 6 juta perbulan. Tiap bulan laku terjual 400 pcs dengan Harga satuan Rp 15 ribu/pcs,” ungkapnya.

Sementara itu, Manager Community Involvement and Development (CID) Pertamina Hulu Rokan (PHR) Regional 1, Iwan Ridwan Faizal menjelaskan, program pemberdayaan yang dilakukan PHR Zona 1 sejalan dengan program pengetasan kemiskinan yang dicanangkan pemerintah.

Maka dari itu, berbagai program pemberdayaan didasarkan pertimbangan sosial dan ekonomi. Sehingga bisa meningkatkan kapasitas diri dan kemandirian ekonomi.

“Dengan peningkatan ekonomi, diharapkan dapat memberikan perubahan bagi lingkungan sekitarnya,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Dalam Rangka Menyambut Milad UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe, FEBI Gelar PKM Berkolaborasi dengan IAEB

7 Juni 2026 - 14:20 WIB

Data Bencana Simpang Siur, Camat Cot Girek Sebut Satu Korban Tewas, Pemkab Aceh Utara Masih Nihil Laporan Jiwa

6 Juni 2026 - 15:59 WIB

Korban Banjir Aceh Tamiang Menanti Realisasi Bantuan, Huntara dan Pemulihan Ekonomi Jadi Harapan Utama

5 Juni 2026 - 19:03 WIB

Satgas PPA Seret Dugaan Kejanggalan Kantor Bupati dan Gedung DPRK Aceh Timur ke Ranah Hukum

5 Juni 2026 - 18:56 WIB

3.373 KK Kehilangan Rumah, Pemulihan Aceh Tengah Masih Bergantung Perbaikan Infrastruktur

5 Juni 2026 - 16:24 WIB

Trending di Aceh