Menu

Mode Gelap
APBK Aceh Utara Dinilai Masih Sehat, Pemulihan Pascabanjir Rp26 Triliun Jadi Beban Berat Daerah Dua Unit Rumah Semi Permanen Tanpa Penghuni Hangus Terbakar Aparat Gagalkan Pengiriman 2 Kg Sabu, Tersangka Disergap di Tol RSUD Cut Meutia Gratiskan Biaya Perawatan Korban Penusukan di Aceh Utara Sanksi Tegas ASN yang Menyalahgunakan WFH, Bisa Berujung Pemecatan Gerakan Peduli Keadilan Layangkan Petisi ke Pejabat Aceh Timur dan BNPB Pusat, Tuntut Hak Korban Banjir Dipenuhi

News

Ketua Satgas Anti Hoax PWI Pusat: “Etika Jurnalistik adalah Kunci Menjaga Kepercayaan Publik”

badge-check


					Ketua Satgas Anti Hoax PWI Pusat: “Etika Jurnalistik adalah Kunci Menjaga Kepercayaan Publik” Perbesar

Jakarta, harianpaparazzi.com — Tantangan menjaga etika jurnalistik di tengah maraknya berita hoaks dan derasnya arus digitalisasi menjadi sorotan utama dalam webinar bertajuk “Trust & Truth: Ethical Journalism in the Age of Digital Hoax”, Kamis (21/11/2024).

Dalam acara yang digelar oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat bersama Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Mercu Buana (FIKOM UMB), Dr. Budi Nugraha, M. I. Kom., Ketua Satgas Anti Hoax PWI Pusat, menegaskan etika jurnalistik adalah kunci untuk melindungi akurasi informasi dan menjaga kepercayaan publik.

Budi juga membahas tantangan yang dihadapi media tradisional akibat perkembangan media sosial, yang di satu sisi membuka peluang bagi siapa saja menjadi kreator konten, namun di sisi lain memunculkan risiko terhadap kredibilitas informasi.

“Media harus tetap menjalankan verifikasi fakta dan mematuhi kode etik jurnalistik,” ujarnya.

Dalam acara yang merupakan implementasi praktik dari Mata Kuliah Event Management (Dosen Pengampu Riki Arswendi, M. I. Kom) ini, Pemred suaramerdeka.com, ini menegaskan jurnalis harus tetap mematuhi kode etik jurnalistik dengan melakukan verifikasi fakta secara ketat sebelum mempublikasikan informasi.

“Untuk mempertahankan kepercayaan publik, media harus tetap mematuhi aturan yang ada, meskipun berada di lingkungan digital,” ujarnya.

Budi yang juga Dosen Komunikasi, menyoroti tantangan besar yang dihadapi media tradisional akibat dominasi media sosial.

“Media sosial telah menyebabkan banyak media cetak gulung tikar. Namun, di sisi lain, platform ini membuka peluang bagi siapa saja untuk menjadi jurnalis, penulis, atau bahkan content creator,” jelasnya.

Namun demikian, ia menegaskan siapa pun yang ingin berkiprah di dunia jurnalistik tetap harus bersikap profesional dan mematuhi regulasi yang ditetapkan oleh PWI.

Etika Dalam Pemberitaan Sensitif

Menjawab pertanyaan peserta webinar terkait akurasi informasi, Dr. Budi menekankan pentingnya konfirmasi dalam pemberitaan, terutama untuk berita-berita sensitif.

“Misalnya, berita tentang perceraian, perselisihan, atau protes masyarakat terhadap kebijakan seperti penggunaan aplikasi MyPertamina untuk pembelian BBM harus melalui proses verifikasi yang ketat,” ujarnya.

Ia juga menekankan kewajiban media besar untuk mengonfirmasi informasi terkait artis melalui manajer yang bersangkutan guna menjaga kredibilitas dan menghindari kesalahan data.

Dr. Budi membahas perubahan signifikan dalam praktik jurnalistik, terutama dalam menanggapi isu-isu sensitif.

Ia mengingatkan bahwa pada era 1990-an hingga awal 2000-an, media sering mengandalkan rilis resmi. Namun kini, konfirmasi langsung menjadi kewajiban, terutama dalam pemberitaan yang melibatkan tokoh publik atau kebijakan kontroversial.

Ia mencontohkan kasus seorang menteri yang memprotes media karena kesalahan data dalam pemberitaan.

“Kasus seperti ini biasanya diselesaikan di Dewan Pers. Oleh karena itu, penting bagi media untuk memastikan semua informasi telah dikonfirmasi sebelum dipublikasikan,” tambahnya.

Webinar COMNECTION 2024 ini menjadi ajang inspiratif bagi mahasiswa dan generasi muda yang tertarik terjun ke dunia jurnalistik.

Peserta diajak memahami bahwa di era digital yang penuh tantangan, praktik jurnalistik yang beretika adalah kunci utama untuk menjaga kredibilitas dan kepercayaan publik.

Acara ini menjadi pengingat bahwa di tengah derasnya arus informasi, jurnalis harus tetap teguh pada prinsip profesionalisme dan etika.

“Etika adalah benteng terakhir jurnalis dalam melindungi akurasi informasi dan menjaga integritas media,” pungkas Dr. Budi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

92 Gram Sabu Diamankan, Polisi Ringkus Target Operasi Antik Toba 2026

18 Mei 2026 - 11:49 WIB

Rico Waas Jalani Pengobatan di Luar Negeri, Izin dan Laporan ke Mendagri Sudah Disampaikan

17 Mei 2026 - 20:35 WIB

Teater Sawah 2026 Angkat Tradisi Agraris Lewat Tubuh, Lumpur, dan Bunyi Alam

17 Mei 2026 - 10:09 WIB

Ops Antik Batu Bara Kembali Bergerak, Barang Bukti Sabu dan Timbangan Digital Diamankan

15 Mei 2026 - 18:14 WIB

Lawan Peredaran Narkoba di Sekitar Tahfidz, Guru di Pantai Labu Dapat Dukungan Polisi

15 Mei 2026 - 14:59 WIB

Trending di News