Menu

Mode Gelap
SPPG dan KMP Tak Miliki PBG, Dinas Perizinan Taput Jemput Bola Kadis PMD Taput Siap Evaluasi Lembaga Bimtek Bermasalah, PDIP Dorong Pelaksanaan di Daerah Jalan Samping Kantor PWI Agara Tergerus Sungai, Satu Pengendara Jatuh ke Kali Bulan Massa Bakal Gelar Aksi ke Polres Jika Hingga Kamis Pelaku Penganiayaan Anak Belum Ditangkap Kejari Batu Bara Eksekusi DPO Kasus Penipuan, Buronan Sejak 2022 Akhirnya Ditahan Empat Rumah di Sipoholon Hangus Terbakar, Wabup Taput Langsung Tinjau Lokasi

News

Ketua Satgas Anti Hoax PWI Pusat: “Etika Jurnalistik adalah Kunci Menjaga Kepercayaan Publik”

badge-check

Ketua Satgas Anti Hoax PWI Pusat: “Etika Jurnalistik adalah Kunci Menjaga Kepercayaan Publik” Perbesar

Jakarta, harianpaparazzi.com — Tantangan menjaga etika jurnalistik di tengah maraknya berita hoaks dan derasnya arus digitalisasi menjadi sorotan utama dalam webinar bertajuk “Trust & Truth: Ethical Journalism in the Age of Digital Hoax”, Kamis (21/11/2024).

Dalam acara yang digelar oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat bersama Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Mercu Buana (FIKOM UMB), Dr. Budi Nugraha, M. I. Kom., Ketua Satgas Anti Hoax PWI Pusat, menegaskan etika jurnalistik adalah kunci untuk melindungi akurasi informasi dan menjaga kepercayaan publik.

Budi juga membahas tantangan yang dihadapi media tradisional akibat perkembangan media sosial, yang di satu sisi membuka peluang bagi siapa saja menjadi kreator konten, namun di sisi lain memunculkan risiko terhadap kredibilitas informasi.

“Media harus tetap menjalankan verifikasi fakta dan mematuhi kode etik jurnalistik,” ujarnya.

Dalam acara yang merupakan implementasi praktik dari Mata Kuliah Event Management (Dosen Pengampu Riki Arswendi, M. I. Kom) ini, Pemred suaramerdeka.com, ini menegaskan jurnalis harus tetap mematuhi kode etik jurnalistik dengan melakukan verifikasi fakta secara ketat sebelum mempublikasikan informasi.

“Untuk mempertahankan kepercayaan publik, media harus tetap mematuhi aturan yang ada, meskipun berada di lingkungan digital,” ujarnya.

Budi yang juga Dosen Komunikasi, menyoroti tantangan besar yang dihadapi media tradisional akibat dominasi media sosial.

“Media sosial telah menyebabkan banyak media cetak gulung tikar. Namun, di sisi lain, platform ini membuka peluang bagi siapa saja untuk menjadi jurnalis, penulis, atau bahkan content creator,” jelasnya.

Namun demikian, ia menegaskan siapa pun yang ingin berkiprah di dunia jurnalistik tetap harus bersikap profesional dan mematuhi regulasi yang ditetapkan oleh PWI.

Etika Dalam Pemberitaan Sensitif

Menjawab pertanyaan peserta webinar terkait akurasi informasi, Dr. Budi menekankan pentingnya konfirmasi dalam pemberitaan, terutama untuk berita-berita sensitif.

“Misalnya, berita tentang perceraian, perselisihan, atau protes masyarakat terhadap kebijakan seperti penggunaan aplikasi MyPertamina untuk pembelian BBM harus melalui proses verifikasi yang ketat,” ujarnya.

Ia juga menekankan kewajiban media besar untuk mengonfirmasi informasi terkait artis melalui manajer yang bersangkutan guna menjaga kredibilitas dan menghindari kesalahan data.

Dr. Budi membahas perubahan signifikan dalam praktik jurnalistik, terutama dalam menanggapi isu-isu sensitif.

Ia mengingatkan bahwa pada era 1990-an hingga awal 2000-an, media sering mengandalkan rilis resmi. Namun kini, konfirmasi langsung menjadi kewajiban, terutama dalam pemberitaan yang melibatkan tokoh publik atau kebijakan kontroversial.

Ia mencontohkan kasus seorang menteri yang memprotes media karena kesalahan data dalam pemberitaan.

“Kasus seperti ini biasanya diselesaikan di Dewan Pers. Oleh karena itu, penting bagi media untuk memastikan semua informasi telah dikonfirmasi sebelum dipublikasikan,” tambahnya.

Webinar COMNECTION 2024 ini menjadi ajang inspiratif bagi mahasiswa dan generasi muda yang tertarik terjun ke dunia jurnalistik.

Peserta diajak memahami bahwa di era digital yang penuh tantangan, praktik jurnalistik yang beretika adalah kunci utama untuk menjaga kredibilitas dan kepercayaan publik.

Acara ini menjadi pengingat bahwa di tengah derasnya arus informasi, jurnalis harus tetap teguh pada prinsip profesionalisme dan etika.

“Etika adalah benteng terakhir jurnalis dalam melindungi akurasi informasi dan menjaga integritas media,” pungkas Dr. Budi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Khaidir Basrah Tegaskan Pengawasan Tak Boleh Lepas dari Kepastian Hukum

12 Juli 2026 - 11:32 WIB

Kejari Batu Bara Eksekusi DPO Kasus Penipuan, Buronan Sejak 2022 Akhirnya Ditahan

7 Juli 2026 - 18:16 WIB

Satresnarkoba Polresta Deli Serdang Ringkus Pria di Tanjung Morawa

7 Juli 2026 - 10:57 WIB

Patroli Sambil Berbagi, Satlantas Polres Batu Bara Salurkan Sembako kepada Masyarakat yang Membutuhkan

5 Juli 2026 - 15:08 WIB

Farianda: Pengurus PWI Diamanatkan Melayani Anggota, Bukan Hanya Mau Dilayani

5 Juli 2026 - 10:32 WIB

Trending di News