Menu

Mode Gelap
11 Ribu Hektar Kebun Kopi Gayo Hancur, Hampir 20 Ribu Petani Aceh Tengah Menunggu Bantuan Komisi Informasi Aceh Desak Sekolah Transparan Umumkan Informasi Penerimaan Siswa Baru SMP dan SMA Transparansi Dipertanyakan, Warga Mengaku Belum Terima Salinan LPJ Desa Lubuk Cuik Tahun 2025 Bus Aceh Tujuan Pekanbaru Dilempari Batu di Labura, Balita dan Ibunya Selamat dari Bahaya Data Bencana Simpang Siur, Camat Cot Girek Sebut Satu Korban Tewas, Pemkab Aceh Utara Masih Nihil Laporan Jiwa Perlintasan Simpang Durian Kembali Berduka, Pejalan Kaki Tewas Disambar Kereta Api

Aceh

11 Ribu Hektar Kebun Kopi Gayo Hancur, Hampir 20 Ribu Petani Aceh Tengah Menunggu Bantuan

badge-check


					11 Ribu Hektar Kebun Kopi Gayo Hancur, Hampir 20 Ribu Petani Aceh Tengah Menunggu Bantuan Perbesar

Takengon, Harianpaparazzi.com – Sedikitnya 11.105 hektar kebun kopi Gayo di Kabupaten Aceh Tengah mengalami kerusakan berat akibat banjir bandang dan tanah longsor yang melanda daerah tersebut pada November 2025. Bencana yang menghantam salah satu sentra kopi terbesar di Indonesia itu kini mengancam penghidupan hampir 20 ribu petani serta keberlangsungan produksi kopi ekspor dari dataran tinggi Gayo.

Data Dinas Perkebunan Aceh Tengah menunjukkan, dari total luas perkebunan kopi rakyat mencapai 52.074 hektar, sekitar 12.637 hektar terdampak langsung bencana hidrometeorologi. Dari jumlah tersebut, 1.035 hektar mengalami kerusakan ringan, 496 hektar rusak sedang, dan 11.105 hektar lainnya rusak berat akibat tertimbun maupun terbawa material longsor.

Selain merusak lahan, bencana juga berdampak langsung terhadap 19.867 petani kopi yang telah terdata secara by name by address (BNBA).

Pemerintah memperkirakan kerugian ekonomi sektor perkebunan kopi mencapai Rp32,68 miliar. Nilai tersebut dihitung berdasarkan kehilangan produksi serta kerusakan kebun yang selama ini menjadi sumber pendapatan utama masyarakat.

“Kabupaten Aceh Tengah memiliki luas kebun kopi sekitar 52 ribu hektar dan hampir 80 persen masyarakat menggantungkan perekonomiannya pada sektor perkebunan kopi,” demikian keterangan yang diperoleh HarianPaparazzi.com dari Dinas Perkebunan Aceh Tengah.

Dampak bencana juga mulai dirasakan pada sektor produksi. Pemerintah memperkirakan produksi kopi Gayo tahun ini turun sekitar 40 persen dibandingkan kondisi normal.

Penurunan produksi dipicu kerusakan lahan yang terjadi menjelang musim panen raya. Selain itu, banyak petani tidak dapat menjangkau kebun karena akses jalan produksi tertutup longsor dan masih tingginya risiko longsor susulan.

Kondisi tersebut turut memengaruhi rantai pasok kopi Gayo yang selama ini menjadi komoditas ekspor unggulan Aceh. Selain pasokan menurun, distribusi hasil panen menuju Pelabuhan Belawan, Sumatera Utara, masih menghadapi kendala akibat kerusakan infrastruktur jalan.

Truk berkapasitas besar belum sepenuhnya dapat melintas sehingga pengiriman harus menggunakan kendaraan dengan kapasitas lebih kecil. Kondisi ini menyebabkan biaya distribusi meningkat dan berdampak pada daya saing kopi Gayo di pasar ekspor.

Meski pemerintah pusat dan Pemerintah Aceh telah menerima laporan kerusakan, hingga awal Juni 2026 bantuan sektor perkebunan belum terealisasi kepada petani.

Pemerintah saat ini mengusulkan berbagai program pemulihan, di antaranya perbaikan jalan produksi, pembangunan jembatan perkebunan, bantuan alat dan mesin pertanian, pupuk organik, rehabilitasi lahan, serta penyediaan 12 juta bibit kopi melalui APBN.

Dalam waktu dekat, Balai Pengelolaan Hutan Lestari (BPHL) juga direncanakan mulai melakukan pembersihan lahan yang tertimbun kayu dan material longsor agar petani dapat kembali mengelola kebun mereka.

Namun bagi petani kopi Gayo, proses pemulihan diperkirakan tidak berlangsung singkat. Pemerintah memperkirakan lahan yang mengalami kerusakan berat membutuhkan waktu antara tiga hingga lima tahun sebelum kembali produktif.

Karena itu, selain bantuan rehabilitasi lahan, petani juga berharap pemerintah segera menghadirkan program pemulihan ekonomi yang mampu menjaga keberlangsungan hidup mereka selama masa pemulihan berlangsung. (daus husen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Komisi Informasi Aceh Desak Sekolah Transparan Umumkan Informasi Penerimaan Siswa Baru SMP dan SMA

9 Juni 2026 - 16:54 WIB

PHE NSO Tanamkan Budaya Peduli Lingkungan, Siswa SMPN 6 Lhokseumawe Dilatih Kelola Sampah

9 Juni 2026 - 14:35 WIB

Transparansi Dipertanyakan, Warga Mengaku Belum Terima Salinan LPJ Desa Lubuk Cuik Tahun 2025

9 Juni 2026 - 11:27 WIB

Dalam Rangka Menyambut Milad UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe, FEBI Gelar PKM Berkolaborasi dengan IAEB

7 Juni 2026 - 14:20 WIB

Data Bencana Simpang Siur, Camat Cot Girek Sebut Satu Korban Tewas, Pemkab Aceh Utara Masih Nihil Laporan Jiwa

6 Juni 2026 - 15:59 WIB

Trending di Aceh