Menu

Mode Gelap
Belum Genap Sebulan, Kades dan Perangkat Desa Taput akan Bimtek di Medan  BUMDes Merugi, Tim Inspektorat Taput akan Monitoring 5 Butir Ekstasi Gagal Edar, 3 Pelaku Dibekuk Satresnarkoba Polres Aceh Tenggara SPPG dan KMP Tak Miliki PBG, Dinas Perizinan Taput Jemput Bola Kadis PMD Taput Siap Evaluasi Lembaga Bimtek Bermasalah, PDIP Dorong Pelaksanaan di Daerah Jalan Samping Kantor PWI Agara Tergerus Sungai, Satu Pengendara Jatuh ke Kali Bulan

Aceh

Malam zikir perdamian : 20 tahun janji Mou Helsinki yang terus hidup di Aceh

badge-check

Malam zikir perdamian : 20 tahun janji Mou Helsinki yang terus hidup di Aceh Perbesar

Lhokseumawe, Harianpaparazzi.com — Langit Kamis malam (14/8/2025) di Lhokseumawe terasa berbeda. Dari kejauhan, cahaya lampu Masjid Agung Islamic Centre memantulkan siluet megahnya, seakan menjadi mercusuar spiritual bagi ratusan orang yang perlahan berdatangan sejak sebelum Magrib. Mereka datang dari berbagai penjuru kota, meninggalkan riuh urusan sehari-hari, untuk larut dalam satu tujuan: mengenang, mensyukuri, dan mendoakan perdamaian Aceh yang sudah berumur 20 tahun sejak penandatanganan MoU Helsinki.

Begitu azan Magrib berkumandang, masjid kian padat. Usai salat, lantunan zikir yang dipimpin Tgk. Munzir bersama tim mengalun pelan, lalu menguat, mengisi setiap sudut ruang. Suara itu bukan sekadar rangkaian lafaz, melainkan gema harapan yang ingin terus dihidupkan. Seorang ibu muda di barisan belakang terlihat menahan haru, bibirnya bergerak mengikuti bacaan, sementara tangannya menggenggam erat jemari putranya yang masih kecil.

Di deretan depan, Wali Kota Lhokseumawe, Dr. Sayuti Abubakar, duduk bersila. Tidak ada jarak yang kaku, ia berbaur dengan jamaah, berdampingan dengan tokoh masyarakat, unsur Forkopimda, pimpinan DPRK, pejabat eselon, dan ASN. Malam itu, jabatan tidak menjadi sekat.

“Damai ini amanah yang mahal harganya,” ucap Sayuti dalam sambutannya. “Ia lahir dari keberanian memaafkan, kekuatan untuk berubah, dan keyakinan bahwa masa depan bisa lebih baik dari masa lalu. Perdamaian sejati bukan sekadar berhentinya kekerasan, tapi hadirnya keadilan, penghormatan hak asasi manusia, kesejahteraan, dan partisipasi yang bermakna dalam pembangunan.”

Kata-katanya seperti menegaskan bahwa MoU Helsinki bukan hanya peristiwa sejarah, melainkan napas yang harus terus dijaga.

Acara berlanjut hingga salat Isya berjamaah. Setelah doa penutup, jamaah mulai beranjak, namun gema zikir seolah masih tertinggal di udara. Malam itu, Lhokseumawe menjadi saksi bahwa perdamaian bukan sekadar kenangan yang dibingkai, melainkan janji yang diwariskan, dari generasi yang pernah merasakan getirnya konflik, kepada generasi yang diharapkan hanya mengenalnya dari cerita . (firdaus)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Setahun Disidik, Dugaan Pemalsuan Tanda Tangan Dokumen Pembayaran BLT Gampong Blang Majron Berakhir SP3, Temuan Audit Rp107,8 Juta Jadi Sorotan

25 Juli 2026 - 19:59 WIB

Tokoh Masyarakat Darul Ihsan Desak Pemerintah Segera Legalkan Pengelolaan Sumur Minyak Rakyat

19 Juli 2026 - 19:16 WIB

Konflik Cot Girek Memasuki Titik Kritis, Nasib 500 Pekerja dan Perpanjangan HGU Berkejaran dengan Waktu

17 Juli 2026 - 22:52 WIB

Latih Kesiapsiagaan, PHE NSO Edukasi Anak Desa Kuala Cangkoi Tanggap Bencana

16 Juli 2026 - 19:24 WIB

Sukseskan Gerakan Indonesia Asri, Brimob Aceh Bersihkan Sekolah TK Al Jabal Nur

16 Juli 2026 - 12:34 WIB

Trending di Aceh