Menu

Mode Gelap
Aparat Gagalkan Pengiriman 2 Kg Sabu, Tersangka Disergap di Tol RSUD Cut Meutia Gratiskan Biaya Perawatan Korban Penusukan di Aceh Utara Sanksi Tegas ASN yang Menyalahgunakan WFH, Bisa Berujung Pemecatan Gerakan Peduli Keadilan Layangkan Petisi ke Pejabat Aceh Timur dan BNPB Pusat, Tuntut Hak Korban Banjir Dipenuhi Banjir dan Longsor Terjang Sejumlah Wilayah Sumatera, Aceh Tengah hingga Medan Terdampak Jangan Panik! Harga BBM Pertamina April 2026 Tetap, Ini Rincian Tarif di Sejumlah Daerah

Aceh

Banjir Belum Surut, Kayu Tetap Meluncur: Aceh Seolah Tak Pernah Belajar

badge-check


					Banjir Belum Surut, Kayu Tetap Meluncur: Aceh Seolah Tak Pernah Belajar Perbesar

Aceh Utara, Harianpaparazzi.com — Banjir besar baru saja menggenangi rumah warga, merobohkan sekolah, melumpuhkan akses jalan, serta meninggalkan lumpur di berbagai sudut permukiman. Namun di tengah duka itu, pemandangan yang seolah sudah “biasa” kembali muncul. Mobil pengangkut kayu tampak melenggang mulus di Jalan Nasional Medan–Banda Aceh, Kamis (1/1/2025). Kayu tersebut disebut-sebut berasal dari Kabupaten Aceh Timur.

Seolah banjir hanyalah gangguan kecil bagi roda bisnis kayu, bukan peringatan keras dari alam yang selama ini diperlakukan semena-mena. Padahal, hampir setiap musim hujan, Aceh kembali dihantui bencana serupa: banjir, longsor, dan sungai meluap. Penyebabnya pun berulang kali disebut—kerusakan hutan, alih fungsi lahan, serta lemahnya pengawasan.

Ironisnya, ketika air bah belum sepenuhnya surut dari halaman rumah warga, truk-truk kayu tetap bebas berlalu-lalang. Pemandangan ini seakan menyampaikan pesan sinis: hutan boleh habis, asalkan roda ekonomi terus berputar. Warga yang menyaksikan langsung angkutan kayu tersebut pun bertanya-tanya—apakah kayu itu legal, apakah dokumennya lengkap, atau justru pertanyaan-pertanyaan itu memang tak pernah benar-benar ingin dijawab.

Pemerintah dan aparat kerap tampil di garis depan saat bencana, berbicara tentang pemulihan, rehabilitasi, dan mitigasi. Namun di lapangan, situasi seperti ini memunculkan kesan pahit: negara tampak sigap saat membagikan bantuan, tetapi memalingkan wajah ketika sumber persoalan melintas terang-terangan di depan mata.

Lebih menyedihkan lagi, masyarakat terdampak banjir diminta bersabar, sementara alam terus diperas tanpa jeda. Sungai disalahkan, hujan dituding, cuaca ekstrem dijadikan kambing hitam. Padahal, kayu-kayu yang kini melaju di atas aspal itu mungkin pernah berdiri tegak di hulu, menjadi benteng terakhir penahan air.

Jika setiap bencana hanya diakhiri dengan seremonial dan janji, sementara truk kayu tetap aman melintas di jalan nasional, maka jangan heran jika Aceh terus “berlangganan” banjir. Sebab di negeri ini, air memang cepat surut, tetapi ingatan dan tanggung jawab sering kali lebih cepat menghilang. (Tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Kejari Aceh Timur Dalami Dugaan Pengalihan Lahan dan Tidak Setor PAD oleh KSO PT Wajar Corpora

17 April 2026 - 21:20 WIB

Kapolda Aceh Terima Audiensi Dekan Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Aceh

17 April 2026 - 15:12 WIB

Pembukaan Lahan Sawit Masif Picu Banjir, Petani Menjerit Menanggung Kerugian

16 April 2026 - 17:08 WIB

Janji Bantuan Mengalir, Petani Menjerit Gagal Tanam di Aceh Utara

16 April 2026 - 15:18 WIB

“Paktam” Harus Dievaluasi: Konten TikTok di Jam Dinas dan Informasi Keliru Ancam Citra Bupati Aceh Utara

11 April 2026 - 23:50 WIB

Trending di Aceh