Lhoksukon, Harianpaparazzi.com – Angin barat akhirnya tiba di pesisir Pantai Lhok Puuk, Aceh Utara. Jumat malam (15/04), gelombang tinggi menghantam bibir pantai tanpa jeda. Rumah-rumah warga bergetar diterjang ombak. Kayu penyangga patah. Air laut masuk hingga ke pekarangan rumah yang tersisa beberapa meter dari garis abrasi.
Di tengah suara angin dan dentuman ombak, warga berlarian menyelamatkan barang-barang mereka. Kasur diangkat ke tempat lebih tinggi. Lemari diseret keluar rumah. Pakaian dimasukkan ke dalam karung. Anak-anak menangis sambil memegang tangan orang tua mereka.
“Di mana pemimpin kami…,” teriak seorang warga di tengah kepanikan malam itu.
Di sudut lain, seorang ibu tampak memanggil anaknya sambil menahan tangis.
“Ayo nak, ambil barang mu… cepat,” ujarnya lirih.
Bagi warga pesisir Lhok Puuk, angin barat bukan lagi musim biasa. Mereka menyebutnya ancaman tahunan yang datang berulang tanpa kepastian perlindungan.
Gelombang terus menghantam garis pantai yang sebelumnya sudah rusak akibat abrasi dan banjir bandang 2025. Pohon kelapa tumbang satu per satu. Akar-akar kayu tercabut lalu hanyut dibawa arus. Sebagian bangunan di tepi pantai mulai miring. Warga hanya bisa berdiri memandang laut sambil memegang barang yang masih tersisa.
Di lokasi abrasi, air laut terlihat terus mengikis daratan. Jarak ombak dengan rumah warga kini hanya beberapa langkah kaki. Sebagian warga memilih berjaga sepanjang malam karena takut rumah mereka roboh sewaktu-waktu.
Kondisi itu memperpanjang kecemasan 520 kepala keluarga yang selama ini hidup di bawah ancaman abrasi. Sebagian dari mereka sebelumnya sudah kehilangan rumah akibat gelombang laut dan banjir bandang yang membelah daratan pesisir.
Desa Lhok Puuk sendiri hingga kini masih menunggu pembangunan tanggul abrasi yang direncanakan pemerintah. Namun proses pembangunan baru dijadwalkan masuk tahap tender pada Juli 2026.
Sementara gelombang datang lebih cepat dari rencana perlindungan.
Geuchik Lhok Puuk Rajuli sebelumnya mengaku warga tidak lagi memperdebatkan besar anggaran pembangunan tanggul. Masyarakat hanya meminta perlindungan segera direalisasikan sebelum lebih banyak rumah hilang diterjang laut.
“Yang penting tanggul dibangun. Warga sudah terlalu lama menunggu,” ujarnya.
Data desa menunjukkan abrasi di kawasan itu terus bergerak sejak 2019. Sedikitnya 38 rumah dilaporkan hilang tersapu laut. Tambak warga rusak. Jalan desa putus. Aktivitas nelayan terganggu.
Kini, memasuki musim angin barat, warga kembali berada di garis cemas yang sama.
Mereka tidak lagi berbicara tentang proyek miliaran rupiah. Mereka hanya berusaha menyelamatkan pakaian, kasur, dan anak-anak mereka sebelum ombak berikutnya datang menghantam rumah. (firdaus)







