Aceh Tamiang, Harianpaparazzi.com — Lumpur setebal tiga puluh centimeter itu memang sudah lama mengering. Namun bekasnya masih melekat di dinding rumah, di lantai kedai kopi kecil, di bengkel sempit milik warga, hingga di wajah para korban banjir di Kampung Kesehatan, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang.
Lima bulan sudah berlalu sejak banjir besar menerjang kawasan yang hanya berjarak sekitar dua ratus meter dari aliran Sungai Tamiang itu. Air setinggi satu setengah meter sempat merendam ratusan rumah warga. Perabot hanyut, usaha kecil lumpuh, dan sebagian rumah bergeser dihantam arus.
Namun hingga pertengahan Mei 2026, ratusan kepala keluarga di kampung tersebut mengaku belum menerima bantuan biaya hidup (jadup), pergantian perabot rumah tangga maupun bantuan pemulihan ekonomi dari pemerintah.
Padahal di sejumlah kecamatan lain di Aceh Tamiang, bantuan itu mulai disalurkan sejak 18 Maret lalu.
Ironisnya, dari sekitar 380 kepala keluarga korban banjir di Kampung Kesehatan, warga mengaku belum sama sekali menerima bantuan.
Di lorong-lorong sempit kampung itu, sebagian warga kini mencoba bangkit dengan modal seadanya. Ada yang kembali membuka usaha kopi kecil, menjual makanan ringan, memperbaiki sepeda motor di bengkel sederhana, hingga kembali berdagang di pinggir jalan Kota Kuala Simpang.
Namun semua itu dilakukan dengan satu cara yang sama, berutang.
Calon Datok terpilih Kampung Kesehatan, Syariful Alam, Rabu (13/05), mengatakan selama lima bulan terakhir warga harus membersihkan lumpur menggunakan uang pribadi.
“Pendataan sudah beberapa kali dilakukan sesuai permintaan kecamatan. Tapi sampai hari ini bantuan jadup, pergantian perabot dan pemulihan ekonomi belum satu kepala keluarga pun menerima,” ujarnya.
Menurutnya, biaya membersihkan lumpur dari dalam rumah berkisar antara Rp3 juta hingga Rp8 juta tergantung ukuran bangunan dan tingkat kerusakan.
Tidak hanya rumah, kata dia, usaha kecil masyarakat juga ikut lumpuh. Pedagang kuliner, warung minuman hingga pelaku usaha kecil di kawasan Taman Kesehatan terpaksa mencari modal dari pinjaman keluarga maupun pihak lain agar bisa kembali berjualan.
“Ada yang meminjam sampai puluhan juta rupiah supaya usaha mereka hidup lagi,” katanya.
Di tengah kondisi itu, muncul pula persoalan lain yang mulai dibicarakan warga. Dugaan kekacauan pendataan korban banjir disebut ikut mempengaruhi lambatnya penyaluran bantuan.
Beberapa warga mengaku menemukan penerima bantuan dari kampung lain justru masuk dalam data penerima di wilayah mereka.
Sementara warga yang rumahnya benar-benar terendam dan dipenuhi lumpur justru belum tersentuh bantuan.
Kampung Kesehatan sendiri merupakan salah satu kawasan padat penduduk di pusat Kota Kuala Simpang. Sebagian besar warganya menggantungkan hidup dari sektor informal dan usaha ekonomi kecil.
Ketika banjir datang akhir tahun lalu, bukan hanya rumah yang lumpuh, tetapi juga sumber penghasilan mereka.
Kini, lima bulan setelah air surut, sebagian warga masih bertahan dengan harapan yang sama, janji bantuan itu benar-benar tiba. (firdaus)







