Menu

Mode Gelap
Tiga Media Sehari, Tiga Surat Teguran: Dewan Pers Kehabisan Sabar Hadapi Media yang Ngeyel Oknum Wakil Bupati Aceh Timur Diduga Gunakan Jabatan untuk Mempengaruhi 21 Dapur MBG Plt Kepala DPPKB Aceh Tenggara Periksa Aset Kendaraan Dinas dan Fasilitas Kantor Oknum Pengembang Villa Buket Rata Serobot Aset Desa, Jalan Umum Dijadikan Jaminan Bank Direktur PNL Raih Gelar Doktor Ilmu Teknik USK, Angkat Inovasi Fly Ash untuk Pembangunan Berkelanjutan Oknum Mantan Ketua PWI Aceh Utara Diduga Masih Kuasai Aset Organisasi, PWI Aceh: Seluruh Aset di Bawah Kendali PWI Aceh

News

Pendidikan Aceh Tamiang Menjerit, Sekolah Rusak Parah PascabanjirInilah Potret Dunia Pendidikan yang Masih Tertimbun Lumpur

badge-check


					Pendidikan Aceh Tamiang Menjerit, Sekolah Rusak Parah PascabanjirInilah Potret Dunia Pendidikan yang Masih Tertimbun Lumpur Perbesar

Aceh Tamiang, Harianpaparazzi.com – Dunia pendidikan di Kabupaten Aceh Tamiang masih menjerit pascabencana banjir bandang yang melanda wilayah tersebut pada 24 November 2025 lalu. Hingga awal Februari 2026, sejumlah sekolah di Kota Kuala Simpang dan beberapa kecamatan lain masih bergelut dengan kerusakan berat, lumpur tebal, serta keterbatasan sarana belajar mengajar.

Salah satu sekolah yang terdampak parah adalah SD Negeri 1 Kuala Simpang, bangunan tua peninggalan era Belanda yang terdiri dari dua lantai. Sekolah ini terendam lumpur lebih dari satu meter. Hingga Jumat (06/02/2026), proses pembersihan masih terus dilakukan dengan bantuan alat berat, relawan, serta personel TNI. Aktivitas pembersihan tersebut telah berlangsung hampir dua bulan terakhir.

Kerusakan fisik bangunan hanyalah satu sisi dari persoalan. Di sisi lain, ribuan siswa terpaksa mengikuti proses belajar mengajar dalam kondisi serba terbatas, sebagian tanpa meubelair, bahkan belajar di tenda-tenda darurat. Situasi ini menjadi beban tambahan bagi orang tua murid yang juga terdampak langsung secara ekonomi akibat bencana.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Aceh Tamiang, Sepriyanto, mengatakan secara umum proses belajar mengajar di sekolah terdampak sudah kembali berjalan, meski belum sepenuhnya normal.
“Sebagian sekolah sudah mulai beraktivitas kembali, walaupun tanpa mobilier dan masih menggunakan tenda darurat. Untuk sekolah yang tidak memungkinkan melaksanakan kegiatan belajar mengajar, akan direlokasi ke lokasi lain yang lebih aman, seiring perpindahan pemukiman warga,” ujarnya.

Menurut Sepriyanto, sekitar 85 persen meubelair sekolah rusak berat, sehingga sangat membutuhkan dukungan anggaran dari pemerintah pusat. Ia berharap realisasi bantuan dapat dilakukan paling tidak pada bulan Juni atau Juli mendatang.
“Kalau tidak segera dipenuhi, ini berpotensi menurunkan kualitas pendidikan di Aceh Tamiang,” katanya.

Data Dinas Pendidikan mencatat, 85 persen sekolah di Aceh Tamiang terdampak langsung banjir bandang. Total bangunan pendidikan yang mengalami kerusakan berat, sedang, dan ringan mencapai 389 unit, terdiri dari 217 PAUD, 155 SD, dan 47 SMP, termasuk satuan pendidikan nonformal seperti SKB dan PKBM.

Foto: Kondisi terkini lumpur yang menutupi gedung sekolah SDN 1 Kuala Simpang. (6/2)

Tak hanya bangunan, hampir 90 persen peralatan pendidikan digital seperti layar interaktif, smart TV, dan Chromebook dilaporkan rusak berat. Kondisi ini dinilai mengancam keberlanjutan program digitalisasi pendidikan di daerah tersebut.

Dampak bencana juga dirasakan langsung oleh sumber daya manusia pendidikan. Sekitar 42 ribu siswa dan 5 ribu guru tercatat terdampak langsung. Bahkan, tujuh siswa dan tiga guru dilaporkan meninggal dunia akibat bencana tersebut.

Selain kerugian material, persoalan trauma psikologis juga menjadi perhatian. Sepriyanto mengakui pemulihan trauma klinis bagi guru dan siswa masih dilakukan secara terbatas.
“Pemulihan trauma sejauh ini dilakukan seadanya. Kami berharap pemerintah daerah, pemerintah pusat, serta lembaga swadaya masyarakat dapat memberikan pendampingan trauma klinis psikis secara bertahap,” ujarnya.

Sementara itu, bantuan perlengkapan sekolah dari pemerintah pusat, BNPB, Kementerian Pendidikan, dan Kementerian Dalam Negeri memang sudah berjalan. Namun, dengan skala dampak yang begitu besar, bantuan tersebut dinilai masih jauh dari cukup.

Di tengah lumpur yang belum sepenuhnya kering, dunia pendidikan Aceh Tamiang kini menunggu lebih dari sekadar janji. Mereka menanti kepastian, kehadiran negara, dan keberpihakan nyata agar ruang kelas kembali menjadi tempat harapan, bukan sekadar tenda darurat yang menahan waktu. (firdaus)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Kecelakaan Tunggal di Pulau Sejuk, Gerak Sigap Polisi Jadi Sorotan

23 Maret 2026 - 12:16 WIB

Lewat Bantuan Sosial, Satresnarkoba Batu Bara Ajak Masyarakat Jauhi Narkoba

20 Maret 2026 - 16:03 WIB

Ultah ke-9 SMSI, Gusti Sinaga Serukan Soliditas Hadapi Tantangan Pers

18 Maret 2026 - 21:39 WIB

Tiga Media Sehari, Tiga Surat Teguran: Dewan Pers Kehabisan Sabar Hadapi Media yang Ngeyel

17 Maret 2026 - 01:27 WIB

Rapat Koordinasi Humas Lapas Tanjungbalai, Publikasi Kegiatan Pemasyarakatan Diperkuat

16 Maret 2026 - 10:54 WIB

Trending di News