Menu

Mode Gelap
Abu Doto Pergi, Jejak Perdamaian yang Ia Tinggalkan Tetap Hidup di Aceh Kejagung Ungkap Dugaan Mark Up Motor Listrik MBG, Harga Dinaikkan hingga Rp47 Juta per Unit Oknum Pendeta Ditahan Polres Taput Diduga Pelaku Pedofilia Restrukturisasi Pengurus PWI Batu Bara, Perkuat Fondasi Organisasi untuk Tingkatkan Kualitas Pers 11 Ribu Hektar Kebun Kopi Gayo Hancur, Hampir 20 Ribu Petani Aceh Tengah Menunggu Bantuan Komisi Informasi Aceh Desak Sekolah Transparan Umumkan Informasi Penerimaan Siswa Baru SMP dan SMA

Aceh

Banjir Belum Surut, Kayu Tetap Meluncur: Aceh Seolah Tak Pernah Belajar

badge-check


					Banjir Belum Surut, Kayu Tetap Meluncur: Aceh Seolah Tak Pernah Belajar Perbesar

Aceh Utara, Harianpaparazzi.com — Banjir besar baru saja menggenangi rumah warga, merobohkan sekolah, melumpuhkan akses jalan, serta meninggalkan lumpur di berbagai sudut permukiman. Namun di tengah duka itu, pemandangan yang seolah sudah “biasa” kembali muncul. Mobil pengangkut kayu tampak melenggang mulus di Jalan Nasional Medan–Banda Aceh, Kamis (1/1/2025). Kayu tersebut disebut-sebut berasal dari Kabupaten Aceh Timur.

Seolah banjir hanyalah gangguan kecil bagi roda bisnis kayu, bukan peringatan keras dari alam yang selama ini diperlakukan semena-mena. Padahal, hampir setiap musim hujan, Aceh kembali dihantui bencana serupa: banjir, longsor, dan sungai meluap. Penyebabnya pun berulang kali disebut—kerusakan hutan, alih fungsi lahan, serta lemahnya pengawasan.

Ironisnya, ketika air bah belum sepenuhnya surut dari halaman rumah warga, truk-truk kayu tetap bebas berlalu-lalang. Pemandangan ini seakan menyampaikan pesan sinis: hutan boleh habis, asalkan roda ekonomi terus berputar. Warga yang menyaksikan langsung angkutan kayu tersebut pun bertanya-tanya—apakah kayu itu legal, apakah dokumennya lengkap, atau justru pertanyaan-pertanyaan itu memang tak pernah benar-benar ingin dijawab.

Pemerintah dan aparat kerap tampil di garis depan saat bencana, berbicara tentang pemulihan, rehabilitasi, dan mitigasi. Namun di lapangan, situasi seperti ini memunculkan kesan pahit: negara tampak sigap saat membagikan bantuan, tetapi memalingkan wajah ketika sumber persoalan melintas terang-terangan di depan mata.

Lebih menyedihkan lagi, masyarakat terdampak banjir diminta bersabar, sementara alam terus diperas tanpa jeda. Sungai disalahkan, hujan dituding, cuaca ekstrem dijadikan kambing hitam. Padahal, kayu-kayu yang kini melaju di atas aspal itu mungkin pernah berdiri tegak di hulu, menjadi benteng terakhir penahan air.

Jika setiap bencana hanya diakhiri dengan seremonial dan janji, sementara truk kayu tetap aman melintas di jalan nasional, maka jangan heran jika Aceh terus “berlangganan” banjir. Sebab di negeri ini, air memang cepat surut, tetapi ingatan dan tanggung jawab sering kali lebih cepat menghilang. (Tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Satgas PPA Kecam Dugaan Penganiayaan Konsumen oleh Oknum Kolektor FIF di Aceh Utara

14 Juni 2026 - 18:14 WIB

Pengangkatan Mantan Direktur PT Beurata Maju Tersangka Korupsi Rp1,2 Miliar Diduga Bermasalah, Sejumlah Nama Disebut di Persidangan

13 Juni 2026 - 22:27 WIB

Diduga Diancam, Tanaman Ditebang, dan Gubuk Dibakar, Warga Laporkan Geuchik ke Aparat Penegak Hukum

13 Juni 2026 - 22:21 WIB

Abu Doto Pergi, Jejak Perdamaian yang Ia Tinggalkan Tetap Hidup di Aceh

13 Juni 2026 - 16:56 WIB

Ledakan KM Aceh Hebat 2 Lukai 14 Orang, TNI AL Turun Tangan Evakuasi Korban

13 Juni 2026 - 14:48 WIB

Trending di Aceh