Menu

Mode Gelap
Oknum Mantan Ketua PWI Aceh Utara Diduga Masih Kuasai Aset Organisasi, PWI Aceh: Seluruh Aset di Bawah Kendali PWI Aceh Abdul Halim Dituding Gelapkan Uang Organisasi, Bendahara Ungkap Fakta Mengejutkan Dugaan Penyimpangan Dana Organisasi, PWI Aceh Ambil Alih Kepengurusan PWI Aceh Utara Menguak Krisis Air Bersih Kuala Simpang: Dua Jam Mengalir, Lima Hari Menunggu Kabar Gubernur Aceh Nikah Lagi Beredar di Medsos, Pemerintah Aceh Belum Beri Klarifikasi Diduga Tanpa Izin Camat dan Pemkab, Geuchik di Nibong Ikuti Bimtek Tertutup ke Medan, Per Desa Dipungut Rp15 Juta

Aceh

Banjir Belum Surut, Kayu Tetap Meluncur: Aceh Seolah Tak Pernah Belajar

badge-check


Banjir Belum Surut, Kayu Tetap Meluncur: Aceh Seolah Tak Pernah Belajar Perbesar

Aceh Utara, Harianpaparazzi.com — Banjir besar baru saja menggenangi rumah warga, merobohkan sekolah, melumpuhkan akses jalan, serta meninggalkan lumpur di berbagai sudut permukiman. Namun di tengah duka itu, pemandangan yang seolah sudah “biasa” kembali muncul. Mobil pengangkut kayu tampak melenggang mulus di Jalan Nasional Medan–Banda Aceh, Kamis (1/1/2025). Kayu tersebut disebut-sebut berasal dari Kabupaten Aceh Timur.

Seolah banjir hanyalah gangguan kecil bagi roda bisnis kayu, bukan peringatan keras dari alam yang selama ini diperlakukan semena-mena. Padahal, hampir setiap musim hujan, Aceh kembali dihantui bencana serupa: banjir, longsor, dan sungai meluap. Penyebabnya pun berulang kali disebut—kerusakan hutan, alih fungsi lahan, serta lemahnya pengawasan.

Ironisnya, ketika air bah belum sepenuhnya surut dari halaman rumah warga, truk-truk kayu tetap bebas berlalu-lalang. Pemandangan ini seakan menyampaikan pesan sinis: hutan boleh habis, asalkan roda ekonomi terus berputar. Warga yang menyaksikan langsung angkutan kayu tersebut pun bertanya-tanya—apakah kayu itu legal, apakah dokumennya lengkap, atau justru pertanyaan-pertanyaan itu memang tak pernah benar-benar ingin dijawab.

Pemerintah dan aparat kerap tampil di garis depan saat bencana, berbicara tentang pemulihan, rehabilitasi, dan mitigasi. Namun di lapangan, situasi seperti ini memunculkan kesan pahit: negara tampak sigap saat membagikan bantuan, tetapi memalingkan wajah ketika sumber persoalan melintas terang-terangan di depan mata.

Lebih menyedihkan lagi, masyarakat terdampak banjir diminta bersabar, sementara alam terus diperas tanpa jeda. Sungai disalahkan, hujan dituding, cuaca ekstrem dijadikan kambing hitam. Padahal, kayu-kayu yang kini melaju di atas aspal itu mungkin pernah berdiri tegak di hulu, menjadi benteng terakhir penahan air.

Jika setiap bencana hanya diakhiri dengan seremonial dan janji, sementara truk kayu tetap aman melintas di jalan nasional, maka jangan heran jika Aceh terus “berlangganan” banjir. Sebab di negeri ini, air memang cepat surut, tetapi ingatan dan tanggung jawab sering kali lebih cepat menghilang. (Tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Wamen PAN-RB Datangi Aceh Tamiang, Menyasar PNS, P3K dan CPNS

24 Februari 2026 - 18:50 WIB

Rapim Polda Aceh 2026, Kapolda Aceh Tegaskan Komitmen Implementasi Arahan Presiden dan Kapolri

24 Februari 2026 - 18:48 WIB

Gunakan Surat Palsu Berkop DPRA, Sindikat Penipuan Proyek Rumah Duafa Rugikan Kontraktor Lebih dari Rp200 Juta —Yahdi Hasan Bantah Terlibat

24 Februari 2026 - 11:49 WIB

Bupati dan Plt Sekda Aceh Utara Bersilaturahmi dengan Kasubdit Tipikor Polda Aceh

23 Februari 2026 - 13:55 WIB

Penanganan Sampah Kayu Pascabencana Aceh Tertahan Administrasi, Satgas Diminta Tunggu Kejelasan

22 Februari 2026 - 09:54 WIB

Trending di Aceh