Menu

Mode Gelap
Aparat Gagalkan Pengiriman 2 Kg Sabu, Tersangka Disergap di Tol RSUD Cut Meutia Gratiskan Biaya Perawatan Korban Penusukan di Aceh Utara Sanksi Tegas ASN yang Menyalahgunakan WFH, Bisa Berujung Pemecatan Gerakan Peduli Keadilan Layangkan Petisi ke Pejabat Aceh Timur dan BNPB Pusat, Tuntut Hak Korban Banjir Dipenuhi Banjir dan Longsor Terjang Sejumlah Wilayah Sumatera, Aceh Tengah hingga Medan Terdampak Jangan Panik! Harga BBM Pertamina April 2026 Tetap, Ini Rincian Tarif di Sejumlah Daerah

Aceh

Malam zikir perdamian : 20 tahun janji Mou Helsinki yang terus hidup di Aceh

badge-check


					Malam zikir perdamian : 20 tahun janji Mou Helsinki yang terus hidup di Aceh Perbesar

Lhokseumawe, Harianpaparazzi.com — Langit Kamis malam (14/8/2025) di Lhokseumawe terasa berbeda. Dari kejauhan, cahaya lampu Masjid Agung Islamic Centre memantulkan siluet megahnya, seakan menjadi mercusuar spiritual bagi ratusan orang yang perlahan berdatangan sejak sebelum Magrib. Mereka datang dari berbagai penjuru kota, meninggalkan riuh urusan sehari-hari, untuk larut dalam satu tujuan: mengenang, mensyukuri, dan mendoakan perdamaian Aceh yang sudah berumur 20 tahun sejak penandatanganan MoU Helsinki.

Begitu azan Magrib berkumandang, masjid kian padat. Usai salat, lantunan zikir yang dipimpin Tgk. Munzir bersama tim mengalun pelan, lalu menguat, mengisi setiap sudut ruang. Suara itu bukan sekadar rangkaian lafaz, melainkan gema harapan yang ingin terus dihidupkan. Seorang ibu muda di barisan belakang terlihat menahan haru, bibirnya bergerak mengikuti bacaan, sementara tangannya menggenggam erat jemari putranya yang masih kecil.

Di deretan depan, Wali Kota Lhokseumawe, Dr. Sayuti Abubakar, duduk bersila. Tidak ada jarak yang kaku, ia berbaur dengan jamaah, berdampingan dengan tokoh masyarakat, unsur Forkopimda, pimpinan DPRK, pejabat eselon, dan ASN. Malam itu, jabatan tidak menjadi sekat.

“Damai ini amanah yang mahal harganya,” ucap Sayuti dalam sambutannya. “Ia lahir dari keberanian memaafkan, kekuatan untuk berubah, dan keyakinan bahwa masa depan bisa lebih baik dari masa lalu. Perdamaian sejati bukan sekadar berhentinya kekerasan, tapi hadirnya keadilan, penghormatan hak asasi manusia, kesejahteraan, dan partisipasi yang bermakna dalam pembangunan.”

Kata-katanya seperti menegaskan bahwa MoU Helsinki bukan hanya peristiwa sejarah, melainkan napas yang harus terus dijaga.

Acara berlanjut hingga salat Isya berjamaah. Setelah doa penutup, jamaah mulai beranjak, namun gema zikir seolah masih tertinggal di udara. Malam itu, Lhokseumawe menjadi saksi bahwa perdamaian bukan sekadar kenangan yang dibingkai, melainkan janji yang diwariskan, dari generasi yang pernah merasakan getirnya konflik, kepada generasi yang diharapkan hanya mengenalnya dari cerita . (firdaus)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Kejari Aceh Timur Dalami Dugaan Pengalihan Lahan dan Tidak Setor PAD oleh KSO PT Wajar Corpora

17 April 2026 - 21:20 WIB

Kapolda Aceh Terima Audiensi Dekan Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Aceh

17 April 2026 - 15:12 WIB

Pembukaan Lahan Sawit Masif Picu Banjir, Petani Menjerit Menanggung Kerugian

16 April 2026 - 17:08 WIB

Janji Bantuan Mengalir, Petani Menjerit Gagal Tanam di Aceh Utara

16 April 2026 - 15:18 WIB

“Paktam” Harus Dievaluasi: Konten TikTok di Jam Dinas dan Informasi Keliru Ancam Citra Bupati Aceh Utara

11 April 2026 - 23:50 WIB

Trending di Aceh