Menu

Mode Gelap
Kasus Anak Diduga Dianiaya Satpam PT PN, Laporan Resmi Masuk Polres Aceh Utara PTPL Siap Jadi Pemain Rantai Pasok Lokal dalam Pengembangan Blok Andaman Kasus Anak Diduga Dianiaya Satpam di Cot Girek, Korban Belum Buat Laporan Polisi Diduga “Rampok Tanah” di Lhokseumawe: UIN Arasy dan BPN Kota Jadi Sorotan Masjid Punteut Kalahkan Seneubok 2–0 di Turnamen Bola Kaki HUT RI ke-80 Forkopimcam Blang Mangat Cup 2025 Hendry Ch Bangun Daftar Calon Ketua Umum PWI, Ajak Semua Anggota Bersatu Majukan PWI

Aceh

Malam zikir perdamian : 20 tahun janji Mou Helsinki yang terus hidup di Aceh

badge-check


					Malam zikir perdamian : 20 tahun janji Mou Helsinki yang terus hidup di Aceh Perbesar

Lhokseumawe, Harianpaparazzi.com — Langit Kamis malam (14/8/2025) di Lhokseumawe terasa berbeda. Dari kejauhan, cahaya lampu Masjid Agung Islamic Centre memantulkan siluet megahnya, seakan menjadi mercusuar spiritual bagi ratusan orang yang perlahan berdatangan sejak sebelum Magrib. Mereka datang dari berbagai penjuru kota, meninggalkan riuh urusan sehari-hari, untuk larut dalam satu tujuan: mengenang, mensyukuri, dan mendoakan perdamaian Aceh yang sudah berumur 20 tahun sejak penandatanganan MoU Helsinki.

Begitu azan Magrib berkumandang, masjid kian padat. Usai salat, lantunan zikir yang dipimpin Tgk. Munzir bersama tim mengalun pelan, lalu menguat, mengisi setiap sudut ruang. Suara itu bukan sekadar rangkaian lafaz, melainkan gema harapan yang ingin terus dihidupkan. Seorang ibu muda di barisan belakang terlihat menahan haru, bibirnya bergerak mengikuti bacaan, sementara tangannya menggenggam erat jemari putranya yang masih kecil.

Di deretan depan, Wali Kota Lhokseumawe, Dr. Sayuti Abubakar, duduk bersila. Tidak ada jarak yang kaku, ia berbaur dengan jamaah, berdampingan dengan tokoh masyarakat, unsur Forkopimda, pimpinan DPRK, pejabat eselon, dan ASN. Malam itu, jabatan tidak menjadi sekat.

“Damai ini amanah yang mahal harganya,” ucap Sayuti dalam sambutannya. “Ia lahir dari keberanian memaafkan, kekuatan untuk berubah, dan keyakinan bahwa masa depan bisa lebih baik dari masa lalu. Perdamaian sejati bukan sekadar berhentinya kekerasan, tapi hadirnya keadilan, penghormatan hak asasi manusia, kesejahteraan, dan partisipasi yang bermakna dalam pembangunan.”

Kata-katanya seperti menegaskan bahwa MoU Helsinki bukan hanya peristiwa sejarah, melainkan napas yang harus terus dijaga.

Acara berlanjut hingga salat Isya berjamaah. Setelah doa penutup, jamaah mulai beranjak, namun gema zikir seolah masih tertinggal di udara. Malam itu, Lhokseumawe menjadi saksi bahwa perdamaian bukan sekadar kenangan yang dibingkai, melainkan janji yang diwariskan, dari generasi yang pernah merasakan getirnya konflik, kepada generasi yang diharapkan hanya mengenalnya dari cerita . (firdaus)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Aceh Jadi Tuan Rumah Peringatan HAM 2025, Sementara Luka Lama Belum Tuntas

29 Agustus 2025 - 18:59 WIB

Kasus Anak Diduga Dianiaya Satpam PT PN, Laporan Resmi Masuk Polres Aceh Utara

28 Agustus 2025 - 22:45 WIB

PTPL Siap Jadi Pemain Rantai Pasok Lokal dalam Pengembangan Blok Andaman

27 Agustus 2025 - 23:11 WIB

Bulog Kuasai Pasar Beras: Stok Melimpah, Kualitas dan Harga Jadi Pertanyaan

27 Agustus 2025 - 14:53 WIB

Kasus Anak Diduga Dianiaya Satpam di Cot Girek, Korban Belum Buat Laporan Polisi

26 Agustus 2025 - 23:23 WIB

Trending di Aceh