Menu

Mode Gelap
BWS Dinilai Lambat, Petani Aceh Timur Terancam Gagal Tanam Lagi Mualem Bawa Isu Perdamaian Aceh Kembali ke Meja Nasional Diduga Ketua Kelompok Ternak Bukit Rata Jaya Jual 24 Ekor Sapi Bantuan DPR RI dan UPPO Satresnarkoba Polresta Deli Serdang Bergerak Cepat, Kasus Langsung Terungkap APBK Aceh Utara Dinilai Masih Sehat, Pemulihan Pascabanjir Rp26 Triliun Jadi Beban Berat Daerah Dua Unit Rumah Semi Permanen Tanpa Penghuni Hangus Terbakar

Aceh

Harga pangan di Kota Lhokseumawe relatif stabil, beras mengalami sedikit penurunan

badge-check


					Harga pangan di Kota Lhokseumawe relatif stabil, beras mengalami sedikit penurunan Perbesar

Harian Paparazi.com, Lhokseumawe – Harga kebutuhan pangan di pusat pasar kota Lhokseumawe relatif stabil, untuk beras sedikit mengalami penurunan harga, sementara harga cabe rawit terus mengalami kenaikan hingga tembus 60 ri bu rupiah perkilonya di tingkat pedagang eceran.

Alem salah seorang pedagang grosir di pasar inpres kepada wartawan Paparazi.com sabtu ( 14/09) kebutuhan menyebutkan kebutuhan pokok mengalami penurunan harga yakni beras medium dari 2 ratus 12 ribu rupiah menjadi 208 ribu rupiah.

Untuk Cabe Rawit dipusat pasar grosir tersebut masih stabil 40 ribu perkoligram, sedangkan pantauan waratwan harga cabe rawit tembus 60 ribu rupiah di tingkat pedagang eceran dipusat pasar Kota Panton Labu.

Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Mohammad Rizal, S.Sos, M.S.I, menjelaskan untuk jenis ikan segar hanya ikan Tuna mengalami penurunan dari 40 ribu menjadi 35 ribu rupiah perkilogram atau turun 12 persen,

Sedangkan kebutuhan lainnya seperti gula pasir, minyak goreng curah, tepung terigu, daging sapi, daging sapi beku, telur ayam bawang, Ikan segar, susu, kacang kacangan dan beberapa kebutuhan pokok lainnya, masih relatif sama dengan harga sebelumnya.

Sementara itu, Pj Walikota Lhokseumawe, A Hanan SP. MM,mengungkapkan dari kestabilan harga kebutuhan pokok saat ini akan berdampak kepada inflasi. Karena itu perlu adanya kerja sama dengan daerah guna mengendalikan laju inflasi dari tahun ke tahun.

Program kerjasama ini sebutnya, (KAD). Sebuah program kerja sama pengendalian inflasi daerah, salah satunya dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pidie.

Lanjutnya, sektor utama yang perlu pengendalian, yaitu ketahanan pangan daerah, sektor perdagangan komoditas pertanian, pertanian, dan sektor lainnya sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

“Kami menjalin komunikasi dengan Kabupaten Pidie ini, karena Pidie salah satu penghasil beras dan bawang terbesar nomor 3 di Aceh,” ungkap A Hanan.

A Hanan juga menekankan pentingnya untuk meningkatkan produksi komoditas lokal, memperkuat distribusi pangan, serta memastikan ketersediaan barang-barang pokok di pasaran. Kerja sama ini juga salah satu langkah strategi dalam upaya saling memberikan dukungan potensial yang dimiliki oleh salah satu daerah bagi daerah lainnya yang bersifat menguntungkan.

Sementara itu ketika wartawan ingin memintai keterangan soal inflasi di Kota Lhokseumawe dan sekitarnya, Humas Bank Indonesia tidak memberikan jawaban.

Padahak Pihak Bank Indonesia salah satu Keanggotaan tim pengendal Inflasi daerah (TPID) salah satu instansi selain Biro Perekonomian, Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait, Bulog, BUMD, serta pihak terkait lainnya yang mampu membuka jalan bagi sinergi koordinasi kebijakan dan kegiatan dalam kerangka stabilitas harga. (firdaus)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Rayakan Idul Adha 1447 H, Warga Dusun Buket Rata Punteut Sembelih 5 Ekor Lembu dan 5 Ekor Kambing

27 Mei 2026 - 14:45 WIB

Enam Bulan Pascabanjir, Korban Masih di Tenda, DPR RI dan Kemendagri Turun ke Aceh Tamiang

26 Mei 2026 - 14:43 WIB

SPS Aceh Gelar Doa Bersama untuk Ibunda Sekjen SPS Pusat Asmono Wikan

25 Mei 2026 - 21:47 WIB

BWS Dinilai Lambat, Petani Aceh Timur Terancam Gagal Tanam Lagi

24 Mei 2026 - 21:28 WIB

Mualem Bawa Isu Perdamaian Aceh Kembali ke Meja Nasional

24 Mei 2026 - 20:26 WIB

Trending di Aceh