Lhokseumawe, Harianpaparazzi.com — Di tengah berbagai capaian prestasi pendidikan yang terus dibanggakan Pemerintah Kota Lhokseumawe, kondisi berbeda justru masih ditemukan di sejumlah sekolah pedalaman, khususnya di Kecamatan Blang Mangat. Sejumlah pelajar tingkat SMA masih terlihat kesulitan menjawab perkalian dasar dan memilih menghitung menggunakan jari saat ditanya secara langsung.
Pantauan Harianpaparazzi.com di lapangan, Rabu (20/05), beberapa siswa bahkan tampak kebingungan ketika diberikan pertanyaan sederhana terkait matematika dasar. Saat diajak berbicara menggunakan bahasa Inggris, sebagian hanya tersenyum dan tertawa tanpa mampu menjawab.
Kondisi tersebut kontras dengan capaian SMA Negeri 1 Lhokseumawe yang disebut-sebut meraih prestasi terbaik kedua tingkat Aceh, termasuk dalam capaian Tes Kemampuan Akademik (TKA).
Ironisnya, di sisi lain masih terdapat sekolah tingkat SMA di wilayah Lhokseumawe dengan jumlah siswa relatif minim, bahkan hanya sekitar 60 orang. Dengan jumlah siswa yang sedikit, sebagian sekolah justru lebih menonjolkan program ekstrakurikuler dibanding penguatan mata pelajaran berbasis eksakta seperti matematika, fisika, kimia dan bahasa Inggris.
Hingga kini, data jumlah guru bidang eksakta yang diminta media kepada pihak terkait juga belum diberikan.
Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kota Lhokseumawe, Supriariadi, S.Pd., M.Pd., mengakui kondisi tersebut tidak terlepas dari faktor ekonomi keluarga dan peran orang tua siswa.
“Terkadang mereka berasal dari keluarga kurang mampu untuk membiayai anaknya ikut les tambahan di bidang TKA atau mata pelajaran eksakta,” kata Supriariadi, Rabu (20/05).
Ia bahkan mengungkapkan masih ditemukan orang tua siswa yang tidak mampu membaca dan menulis.
“Ketika ditanyai pihak sekolah, ada juga orang tua siswa yang tidak bisa baca tulis,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi siswa di sekolah unggulan seperti SMA Negeri 1 Lhokseumawe berbeda karena sebagian besar siswa masih mengikuti les tambahan selepas jam sekolah dan mendapat dukungan penuh dari orang tua.
“Orang tua mereka tidak ragu mengeluarkan biaya tambahan untuk les,” katanya.
Di sisi lain, ia juga menyoroti kebiasaan sebagian pelajar yang lebih banyak menghabiskan waktu malam di warung kopi atau kafe untuk bermain game online dibanding belajar.
Meski demikian, Supriariadi menyebut capaian pendidikan Kota Lhokseumawe saat ini masih berada di posisi terbaik kedua tingkat Aceh dari sisi kelulusan.
Namun ia tidak sepakat jika seluruh siswa harus memiliki kemampuan yang sama dalam bidang bahasa Inggris, matematika maupun bahasa Indonesia.
“Tidak semua siswa harus mampu dalam semua bidang,” ujarnya.
Ia juga mengakui peningkatan kualitas kemampuan dasar siswa tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan fisik sekolah dan fasilitas pendidikan semata.
“Pendidikan bukan hanya bangunan menjulang tinggi dan fasilitas lengkap,” katanya.
Menurutnya, penguatan kemampuan dasar siswa membutuhkan tambahan program pembelajaran dan les pendukung. Namun usulan tambahan anggaran untuk program tersebut, kata dia, beberapa kali ditolak pemerintah provinsi dengan alasan keterbatasan anggaran.
Meski begitu, pihaknya tetap meminta sekolah melaksanakan les tambahan, khususnya pada mata pelajaran eksakta.
Supriariadi juga membantah anggapan bahwa kualitas guru bidang eksakta sebelum konflik Aceh lebih baik dibanding saat ini.
“Sekarang semua sudah berbasis digitalisasi. Guru-guru sekarang juga lulusan perguruan tinggi ternama seperti Unsyiah, banyak yang sudah S1 dan S2,” ujarnya.
Kendati demikian, ia tidak menampik masih ada sejumlah guru bidang eksakta yang perlu peningkatan kemampuan.
Saat ini, di Kota Lhokseumawe terdapat delapan SMA dan lima SMK yang berada di bawah kewenangan Cabang Dinas Pendidikan wilayah setempat. (firdaus)







