Aceh Tamiang, Harianpaparazzi.com — Menjelang tradisi meugang dan Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah, para pemilik hewan kurban di Kabupaten Aceh Tamiang dan Aceh Utara mulai memeriksakan kesehatan ternaknya ke petugas kesehatan hewan guna memastikan hewan yang akan dikonsumsi maupun dikurbankan dalam kondisi sehat dan layak.
Di Kota Kuala Simpang, sejumlah warga yang ikut berkurban kambing mengaku menyerahkan sepenuhnya penanganan kesehatan hewan kepada peternak dan petugas kesehatan hewan sebelum penyembelihan dilakukan.
“Kami ingin hewan yang dikurbankan benar-benar sehat, tidak cacat dan cukup umur,” ujar salah seorang warga.
Hal serupa juga terlihat di kawasan Panton Labu, Aceh Utara. Warga yang berkurban sapi mengaku lebih memilih memastikan kesehatan ternak terlebih dahulu agar terhindar dari penyakit yang dapat merugikan masyarakat.

Di tengah meningkatnya aktivitas jual beli ternak, pemerintah mulai memperketat pengawasan kesehatan hewan guna mengantisipasi penyakit mulut dan kuku (PMK), Lumpy Skin Disease (LSD), hingga dugaan cacing hati pada ternak.
Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Aceh Tamiang, drh. Yusbar, Selasa (19/05), mengatakan pihaknya telah menerjunkan 12 mantri hewan ke sejumlah kecamatan untuk membantu pemeriksaan kesehatan ternak.
“Selama dua hari ini, sudah ada 52 ekor hewan meugang dan kurban yang dilakukan pemeriksaan kesehatan,” kata Yusbar.
Menurutnya, sesuai Qanun Nomor 2 Tahun 2024, pemeriksaan kesehatan hewan dikenakan biaya sebesar Rp15 ribu per ekor, baik untuk sapi maupun kambing.
Ia mengimbau masyarakat agar tidak hanya mempercayai klaim pedagang terkait kondisi kesehatan ternak, melainkan tetap meminta pemeriksaan resmi dari petugas kesehatan hewan.
“Yang berhak menyatakan hewan itu sehat adalah mantri kesehatan hewan, bukan pedagang,” tegasnya.
Yusbar menjelaskan, pemeriksaan kesehatan hewan dilakukan untuk mengantisipasi sejumlah penyakit seperti PMK, LSD, hingga cacing hati yang berpotensi merugikan masyarakat.
“Terkait penyakit bengkak atau LSD dan PMK itu yang utama diperiksa,” ujarnya.
Ia juga menyinggung dugaan temuan cacing hati pada sapi bantuan presiden Prabowo meugang yang sebelumnya dibagikan di Kecamatan Banda Mulia.
“Seharusnya seluruh hewan meugang itu diperiksa terlebih dahulu,” katanya.
Sementara itu, pengawasan lalu lintas ternak dari perbatasan Sumatera Utara menuju Aceh, menurut Yusbar, sepenuhnya ditangani pihak provinsi.
Di Aceh Utara, Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Perkebunan dan Peternakan, Drh. Cut Teti Udiati, TZ mengatakan pihaknya optimistis pelaksanaan meugang dan kurban tahun ini berjalan aman meski terjadi peningkatan jumlah ternak sekitar dua persen dibanding tahun sebelumnya.
Menurutnya, peningkatan hewan kurban tahun ini didominasi para pengusaha, dengan pasokan ternak berasal dari Sumatera Utara maupun ternak lokal.
“Untuk pemeriksaan kesehatan juga dikenakan biaya Rp15 ribu per ekor,” katanya.
Ia menegaskan pihaknya tidak akan mentolerir hewan sakit masuk ke pasar kurban maupun diperjualbelikan kepada masyarakat.
“Kami akan menolak hewan ternak yang sakit untuk diperjualbelikan. Itu pernah kami lakukan tahun lalu,” tegasnya.
Pemerintah juga mengimbau masyarakat agar segera melapor kepada petugas kesehatan hewan apabila menemukan ternak dengan kondisi mencurigakan guna menghindari kerugian dan risiko kesehatan bagi masyarakat menjelang meugang dan Idul Adha. (firdaus)







