Menu

Mode Gelap
APBK Aceh Utara Dinilai Masih Sehat, Pemulihan Pascabanjir Rp26 Triliun Jadi Beban Berat Daerah Dua Unit Rumah Semi Permanen Tanpa Penghuni Hangus Terbakar Aparat Gagalkan Pengiriman 2 Kg Sabu, Tersangka Disergap di Tol RSUD Cut Meutia Gratiskan Biaya Perawatan Korban Penusukan di Aceh Utara Sanksi Tegas ASN yang Menyalahgunakan WFH, Bisa Berujung Pemecatan Gerakan Peduli Keadilan Layangkan Petisi ke Pejabat Aceh Timur dan BNPB Pusat, Tuntut Hak Korban Banjir Dipenuhi

Aceh

Angin Barat Lebih Cepat dari Tanggul: 520 KK Lhok Puuk Menunggu di Ujung Abrasi

badge-check


					Angin Barat Lebih Cepat dari Tanggul: 520 KK Lhok Puuk Menunggu di Ujung Abrasi Perbesar

Lhoksukon, Harianpaparazzi.com – Musim angin barat belum datang, tetapi ancamannya sudah berdiri di depan pintu 520 kepala keluarga di Desa Lhok Puuk, Aceh Utara. Saat ombak setinggi empat meter terus menggerus daratan, pembangunan tanggul justru baru dijadwalkan tender pada Juli 2026, menyisakan pertanyaan, siapa lebih dulu tiba, perlindungan atau kehancuran.

Desa pesisir itu belum sempat bangkit. Banjir bandang pada 2025 membelah daratan dan memunculkan delapan muara baru. Air laut masuk tanpa kendali, menyeret rumah, perahu nelayan, dan sumber ekonomi warga. Kini abrasi bergerak lebih cepat, mengikis ratusan meter pekarangan. Warga bertahan dalam kecemasan yang berulang.

Sebanyak 133 kepala keluarga menempati hunian sementara. Sebagian lain tetap tinggal di garis pantai, menjaga sisa rumah yang sewaktu-waktu bisa hilang. Di lapangan, ombak setinggi hingga empat meter terus menghantam bibir pantai. Jalan penghubung desa putus, wilayah terisolasi, dan aktivitas ekonomi berhenti.

Geuchik Lhok Puuk Rajuli, kepada wartawan Paparazi.com, senin (04/05) menyebut rencana pembangunan tanggul abrasi baru masuk tahap tender pada Juli 2026. Ia menegaskan warga tidak lagi memperdebatkan besar anggaran, melainkan kecepatan realisasi. “Yang penting tanggul dibangun. Kalau hanya 200 meter, belum cukup melindungi warga,” ujarnya.

Data gampong menunjukkan abrasi telah berlangsung sejak 2019 dan mencapai puncaknya pada 2024. Sebelumnya, 38 rumah hilang tersapu laut, ratusan hektare tambak rusak, dan lebih dari 200 kepala keluarga terdampak langsung. Kerugian ekonomi diperkirakan puluhan miliar rupiah, mencakup sektor perikanan darat dan laut.

Di sisi lain, respons pemerintah masih berjalan dalam jalur administratif. Usulan pembangunan batu pemecah ombak senilai Rp60 miliar yang sempat muncul pada 2025 belum terealisasi karena terkendala dokumen perencanaan teknis (DID). Sementara itu, informasi terbaru menyebut alokasi sekitar Rp5 miliar hanya mampu membangun sebagian kecil dari total kebutuhan tanggul sepanjang tiga kilometer.

Kondisi ini menempatkan warga dalam situasi kejar waktu. Badai angin barat datang setiap tahun, sementara proses pembangunan belum bergerak ke tahap fisik. Geuchik mengaku tidak dapat memastikan mana yang lebih cepat, datangnya gelombang atau realisasi proyek. “Kami hanya bisa memohon. Warga butuh perlindungan sekarang,” katanya.

Secara geografis, garis pantai utara Aceh terbuka langsung terhadap gelombang laut, sementara secara sosial, mayoritas warga bergantung pada tambak dan perikanan. Tanpa intervensi cepat, ancaman abrasi tidak hanya menghilangkan rumah, tetapi juga memutus mata pencaharian dan mempercepat krisis kemanusiaan di wilayah pesisir tersebut. (firdaus)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Angin Barat Datang Lebih Dulu, Warga Lhok Puuk Menyelamatkan Hidup di Tengah Gelombang

16 Mei 2026 - 14:29 WIB

50 Huntara Bantuan PLN di Aceh Tamiang Tanpa WC, Warga Terpaksa Menumpang MCK Tetangga

15 Mei 2026 - 20:39 WIB

UMKM Korban Banjir Aceh Tamiang Dijanjikan Bantuan Tunai, Pemda Akui Ribuan Pedagang Terpaksa Berutang

14 Mei 2026 - 20:27 WIB

Lima Bulan Menunggu Janji Bantuan, Warga Kampung Kesehatan Bertahan dari Utang dan Lumpur

13 Mei 2026 - 17:48 WIB

Revitalisasi Miliaran Rupiah Masuk Aceh Utara, Kepala Sekolah Diingatkan Jangan Main Proyek

13 Mei 2026 - 14:27 WIB

Trending di Aceh