Menu

Mode Gelap
Empat Rumah di Sipoholon Hangus Terbakar, Wabup Taput Langsung Tinjau Lokasi Komisi C DPRD Taput Sikapi Keresahan Warga  Seputar Status Desil, BPJS Agar Lebih Cermat Satres Narkoba Polresta Deli Serdang Tangkap Pria di Biru-Biru, Sita Sabu 5,79 Gram PWI Bonapasogit Mekar, Edward Sinaga Pimpin PWI Toba dan Tumpal Sijabat Ketua PWI Samosir Empat Paket Sabu Disita, Sat Res Narkoba Polresta Deli Serdang Amankan Warga Pantai Labu Polres Taput Sita 112 Paket Ganja, 2 Kurir Turut Diamankan 

Aceh

UMKM Korban Banjir Aceh Tamiang Dijanjikan Bantuan Tunai, Pemda Akui Ribuan Pedagang Terpaksa Berutang

badge-check

UMKM Korban Banjir Aceh Tamiang Dijanjikan Bantuan Tunai, Pemda Akui Ribuan Pedagang Terpaksa Berutang Perbesar

Aceh Tamiang, Harianpaparazzi.com — Pemerintah pusat melalui Kementerian UMKM berencana menyalurkan bantuan tunai bagi pelaku usaha mikro korban banjir di Kabupaten Aceh Tamiang mulai Juni 2026. Bantuan itu diproyeksikan menyasar pedagang kuliner dan pedagang sembako kecil yang selama lima bulan terakhir bertahan memulihkan usaha dengan modal pinjaman.

Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian, Perdagangan dan UMKM Aceh Tamiang, Ibnu Aziz, Kamis (14/05), mengatakan pencairan bantuan masih menunggu surat keputusan dari kementerian. Bantuan tersebut akan disalurkan langsung ke rekening penerima dalam bentuk hibah.

“Rencana pencairan diperkirakan Juni 2026. Saat ini tinggal menunggu keputusan kementerian,” kata Ibnu.

Menurutnya, usulan awal bantuan mencapai Rp5 juta per pelaku usaha. Namun hingga kini pemerintah daerah belum menerima rincian final terkait besaran bantuan per orang maupun total penerima yang disetujui pemerintah pusat.

“Yang terpenting ada perhatian pemerintah terhadap UMKM korban banjir,” ujarnya.

Ibnu mengakui sebagian besar modal usaha pelaku UMKM rusak saat banjir bandang melanda Aceh Tamiang akhir 2025 lalu. Kondisi itu memaksa banyak pedagang mencari pinjaman ke lembaga keuangan informal maupun pembiayaan mingguan dengan bunga tinggi.

“Banyak pelaku UMKM akhirnya meminjam ke lembaga finansial seperti Mekar. Bunganya bisa mencapai 10 hingga 15 persen,” katanya.

Data Dinas Koperasi mencatat jumlah UMKM yang terdata secara online mencapai hampir 40 ribu pelaku usaha. Dari jumlah itu, sekitar 35 ribu telah masuk dalam pendataan kementerian. Sementara pelaku usaha yang memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB) sekitar 15 ribu.

Namun, kata Ibnu, jika dihitung seluruh usaha kecil yang belum memiliki legalitas usaha, jumlah pelaku UMKM di Aceh Tamiang diperkirakan mencapai 60 ribu orang.

Bantuan tunai tersebut diprioritaskan bagi pelaku usaha yang tidak memiliki pinjaman perbankan maupun bantuan pembiayaan lain.

Selama lima bulan pascabanjir, bantuan yang diterima pelaku usaha baru sebatas peralatan usaha seperti 300,tenda dan 170 kompor gas serta alat pemasak nasi. Bantuan itu telah disalurkan kepada dan pedagang kuliner dan hampir 2 ribu pedagang pasar di 12 kecamatan.

“Persoalan di lapangan bukan lagi soal besar kecil bantuan. Tapi seberapa cepat bantuan itu sampai ke masyarakat,” ujar Ibnu.

Di sisi lain, kerugian pelaku usaha kecil di lapangan jauh lebih besar dibanding nilai bantuan yang direncanakan pemerintah. Sejumlah pedagang kuliner di kawasan Taman Kesehatan, Desa Kesehatan, Kuala Simpang, mengaku mengalami kerugian antara Rp10 juta hingga Rp20 juta akibat banjir.

Sebagian besar pelaku usaha terpaksa kembali berdagang menggunakan modal pinjaman keluarga maupun utang dari lembaga pembiayaan agar usaha mereka tetap berjalan.

Ibnu menyebut pemerintah daerah sengaja memprioritaskan penyaluran bantuan lain seperti biaya hidup (jadup), bantuan perabot rumah tangga dan pemulihan ekonomi dasar sebelum bantuan UMKM dicairkan.

“Target pemerintah daerah sekarang bagaimana usaha kecil kembali hidup dulu,” katanya.

Ia mengklaim sekitar 90 persen pelaku usaha kecil mulai bangkit pascabanjir, terutama pedagang pasar, warung kopi dan usaha kuliner kecil.

Selain menunggu bantuan dari kementerian, Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang juga berencana melobi Pemerintah Aceh agar ikut membantu tambahan modal usaha bagi pelaku UMKM korban banjir.

Sebelumnya, warga Kampung Kesehatan, Kecamatan Karang Baru, mengaku belum menerima bantuan pemulihan ekonomi meski banjir telah berlalu selama lima bulan. Sebagian warga bahkan masih membersihkan lumpur dan memperbaiki usaha menggunakan uang pinjaman pribadi. (firdaus)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Artificial Intelligence Mengubah Dunia, Jurusan TIK PNL Mempersiapkan Generasi Penakluk Masa Depan

6 Juli 2026 - 14:55 WIB

WCP Peduli Fakir Miskin Lingkungan Cluster IV PGE

4 Juli 2026 - 15:07 WIB

Ketua PC 0113 FKPPI Kota Lhokseumawe Serahkan Bibit Mangga kepada Polres Lhokseumawe dalam Rangka HUT Bhayangkara ke-80

30 Juni 2026 - 22:57 WIB

Danone Indonesia Bangun Sumur Bor untuk RSUD Cut Meutia, Dukung Ketersediaan Air Bersih di Aceh Utara

24 Juni 2026 - 10:14 WIB

Camat Idi Rayeuk Belum Beri Klarifikasi Terkait Dugaan Pengumpulan Dana Peringatan 1 Muharram

23 Juni 2026 - 08:37 WIB

Trending di Aceh