Menu

Mode Gelap
Tiga Media Sehari, Tiga Surat Teguran: Dewan Pers Kehabisan Sabar Hadapi Media yang Ngeyel Oknum Wakil Bupati Aceh Timur Diduga Gunakan Jabatan untuk Mempengaruhi 21 Dapur MBG Plt Kepala DPPKB Aceh Tenggara Periksa Aset Kendaraan Dinas dan Fasilitas Kantor Oknum Pengembang Villa Buket Rata Serobot Aset Desa, Jalan Umum Dijadikan Jaminan Bank Direktur PNL Raih Gelar Doktor Ilmu Teknik USK, Angkat Inovasi Fly Ash untuk Pembangunan Berkelanjutan Oknum Mantan Ketua PWI Aceh Utara Diduga Masih Kuasai Aset Organisasi, PWI Aceh: Seluruh Aset di Bawah Kendali PWI Aceh

Aceh

Mahasiswa HIMA-ATE Gelar Aksi Damai di Takengon, Soroti Kasus Kekerasan Aktivis HAM dan Isu Bencana Lokal

badge-check


					Mahasiswa HIMA-ATE Gelar Aksi Damai di Takengon, Soroti Kasus Kekerasan Aktivis HAM dan Isu Bencana Lokal Perbesar

Aceh Tengah, Harianpaparazzi.com — Himpunan Mahasiswa Aceh Tengah (HIMA-ATE) menggelar aksi damai di kawasan Tugu Simpang Lima, Takengon, Kamis (19/3/2026) sore. Aksi tersebut mengangkat isu nasional terkait dugaan penyiraman air keras terhadap aktivis HAM, Andrei Yunus, serta sejumlah persoalan lokal di Kabupaten Aceh Tengah.

Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 16.00 WIB ini dipimpin oleh Maulana Alvarisi, mahasiswa Politeknik Lhokseumawe, sebagai penanggung jawab, dengan Sarjan Padli, mahasiswa Universitas Malikussaleh, bertindak sebagai koordinator lapangan. Aksi diikuti oleh enam orang mahasiswa.

Sebelum bergerak ke lokasi aksi, para peserta terlebih dahulu berkumpul di Taman Inen Mayak Teri sekitar pukul 15.30 WIB untuk melakukan persiapan. Mereka kemudian menuju Tugu Simpang Lima dengan membawa berbagai alat peraga, seperti selebaran bertuliskan dukungan terhadap Andrei Yunus, satu spanduk bertuliskan “Jeritan Masyarakat dari Pelosok Negeri Aceh Tengah #Aceh Tengah Belum Pulih”, serta satu unit pengeras suara.

Dalam aksi tersebut, Maulana Alvarisi membacakan petisi yang menyoroti kasus kekerasan terhadap aktivis HAM. Ia menegaskan bahwa tindakan penyiraman air keras bukan hanya serangan fisik, melainkan juga bentuk upaya membungkam kebebasan dan rasa aman seseorang.

“Hari ini kita berdiri sebagai suara keadilan dan kemanusiaan. Kita tidak boleh diam terhadap ketidakadilan,” ujarnya dalam orasi.

Sementara itu, Sarjan Padli dalam orasinya mendesak aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas kasus tersebut secara transparan dan profesional. Ia juga menekankan pentingnya penegakan hukum yang adil tanpa pandang bulu serta perlindungan terhadap korban dan saksi.

“Kami menolak segala bentuk impunitas dan menuntut agar seluruh pelaku, termasuk aktor intelektual, diungkap,” tegasnya.

Selain isu nasional, massa aksi juga menyoroti persoalan lokal di Aceh Tengah, khususnya terkait penanganan bencana yang terjadi pada akhir November 2025. Dalam orasinya, Rudi menyampaikan kekecewaan terhadap lambannya penanganan dan pemulihan pascabencana.

Ia menilai, hingga saat ini masih banyak masyarakat terdampak yang belum mendapatkan bantuan memadai, terutama menjelang perayaan Idulfitri. Rudi juga menyoroti pentingnya keberlanjutan program pemulihan serta pembangunan fasilitas umum setelah masa tanggap darurat berakhir.

Aksi damai tersebut berakhir sekitar pukul 17.22 WIB. Selama kegiatan berlangsung, situasi terpantau aman, tertib, dan lancar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

RSUD Cut Meutia Bersama PAPDI Aceh dan ILLUNIA Gelar Bakti Sosial Ramadhan di Desa Alue Dua

15 Maret 2026 - 16:01 WIB

Oknum Wakil Bupati Aceh Timur Diduga Gunakan Jabatan untuk Mempengaruhi 21 Dapur MBG

13 Maret 2026 - 23:56 WIB

Di Bawah Kepemimpinan dr. Syarifah Rohaya, Sp.M, RSUD Cut Meutia Catat Berbagai Kemajuan Pelayanan Kesehatan

13 Maret 2026 - 19:22 WIB

Dugaan Pembalakan Liar di Hutan Lindung Langkahan, ±200 Hektare Hutan Diduga Digunduli

12 Maret 2026 - 18:39 WIB

DWP PNL Gelar “Ramadhan Berkah”, Salurkan Donasi untuk Anak Yatim, Kaum Dhuafa, dan Fii sabillah.

12 Maret 2026 - 12:29 WIB

Trending di Aceh