Menu

Mode Gelap
BWS Dinilai Lambat, Petani Aceh Timur Terancam Gagal Tanam Lagi Mualem Bawa Isu Perdamaian Aceh Kembali ke Meja Nasional Diduga Ketua Kelompok Ternak Bukit Rata Jaya Jual 24 Ekor Sapi Bantuan DPR RI dan UPPO Satresnarkoba Polresta Deli Serdang Bergerak Cepat, Kasus Langsung Terungkap APBK Aceh Utara Dinilai Masih Sehat, Pemulihan Pascabanjir Rp26 Triliun Jadi Beban Berat Daerah Dua Unit Rumah Semi Permanen Tanpa Penghuni Hangus Terbakar

Aceh

Saat JAC–STR Menembus Sunyi Pengungsian Sekumur

badge-check


					Saat JAC–STR Menembus Sunyi Pengungsian Sekumur Perbesar

KUALA SIMPANG, harianpaparazzi.com – Jalan menuju Kampung Sekumur, Kecamatan Sekrak, Aceh Tamiang, tak lagi layak disebut jalan. Lumpur setebal betis orang dewasa, bekas longsoran bukit, serta batang kayu yang melintang menjadi penanda bahwa wilayah ini masih terkurung luka panjang bencana ekologis November 2025 lalu.

Di ujung jalur terputus itulah rombongan Jeep Adventure Club (JAC) Indonesia bersama Saturday Trail Racing (STR) menghentikan kendaraan. Mesin dimatikan. Sunyi sejenak. Lalu tangis pecah—bukan dari warga pengungsian, melainkan dari relawan yang tak kuasa menahan haru melihat senyum dan lambaian tangan penduduk Sekumur.

“Inilah alasan kami datang. Medannya sangat ekstrem. Karena itu teman-teman STR dan IDI Jakarta mempercayakan JAC sebagai penunjuk jalan. Kami hanya ingin memastikan bantuan dan dokter benar-benar sampai,” ujar Amir, anggota JAC Indonesia.

Misi kemanusiaan ini merupakan penyaluran bantuan hari kedua JAC di Aceh Tamiang. Sepekan sebelumnya, sembako telah disalurkan ke Kampung Babo, Kecamatan Bandar Pusaka. Kali ini, Sekumur dipilih karena disebut relawan sebagai wilayah paling parah terdampak banjir dan longsor.

Kolaborasi JAC dan STR tak sekadar membawa logistik. Mereka juga memboyong dokter-dokter muda dari IDI Junior Jakarta. Permintaan itu datang dari STR yang lebih dulu melihat kondisi pengungsian: anak-anak, lansia, dan ibu-ibu mengeluhkan sakit pascabanjir, sementara akses layanan kesehatan hampir tak tersedia.

Konvoi jeep dan motor trail bergerak perlahan menembus lumpur dan tanjakan terjal. Beberapa kendaraan harus ditarik bergantian. Di kiri-kanan, sawah tertutup endapan lumpur, kebun rusak, dan rumah-rumah tinggal rangka. Setiap meter perjalanan seolah mengingatkan bahwa bencana bukan hanya menghancurkan alam, tetapi juga memutus akses hidup warga.

Sesampainya di Sekumur, bantuan diserahkan secara sederhana kepada Imam, Kepala Dusun setempat. Tak ada seremoni. Yang paling dinanti justru kehadiran dokter. Tikar digelar, alat medis dikeluarkan, praktik darurat pun dimulai. Keluhan bermunculan: infeksi kulit, demam berkepanjangan, diare, hingga tekanan darah tinggi pada lansia.

“Sudah lama tidak ada dokter masuk ke sini,” ujar seorang ibu pengungsi lirih, memeluk anaknya usai diperiksa.

Bagi warga Sekumur, bantuan dan layanan medis bukan sekadar pertolongan sesaat. “Bantuan dari donasi adalah harapan kami untuk bisa bertahan hidup setelah bencana ekologi mahadahsyat itu,” kata seorang warga.

Saat rombongan bersiap kembali, tak ada pesta perpisahan—hanya jabatan tangan dan tangisan bahagia. Jeep-jeep itu pergi meninggalkan Sekumur, sementara di belakangnya masih tersisa sunyi pengungsian dan harapan agar kemanusiaan tak berhenti pada relawan semata, melainkan dijawab dengan kehadiran negara yang berkelanjutan. (Rel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Rayakan Idul Adha 1447 H, Warga Dusun Buket Rata Punteut Sembelih 5 Ekor Lembu dan 5 Ekor Kambing

27 Mei 2026 - 14:45 WIB

Enam Bulan Pascabanjir, Korban Masih di Tenda, DPR RI dan Kemendagri Turun ke Aceh Tamiang

26 Mei 2026 - 14:43 WIB

SPS Aceh Gelar Doa Bersama untuk Ibunda Sekjen SPS Pusat Asmono Wikan

25 Mei 2026 - 21:47 WIB

BWS Dinilai Lambat, Petani Aceh Timur Terancam Gagal Tanam Lagi

24 Mei 2026 - 21:28 WIB

Mualem Bawa Isu Perdamaian Aceh Kembali ke Meja Nasional

24 Mei 2026 - 20:26 WIB

Trending di Aceh