Menu

Mode Gelap
Menguak Krisis Air Bersih Kuala Simpang: Dua Jam Mengalir, Lima Hari Menunggu Kabar Gubernur Aceh Nikah Lagi Beredar di Medsos, Pemerintah Aceh Belum Beri Klarifikasi Diduga Tanpa Izin Camat dan Pemkab, Geuchik di Nibong Ikuti Bimtek Tertutup ke Medan, Per Desa Dipungut Rp15 Juta Begini Cara Warga Aceh Timur Akhirnya Mendapat Air Minum Layak Pascabanjir Menguak Keadaan di Kuala Simpang: Dua Bulan Pascabanjir, Lumpur dan Sampah Masih Mengurung Permukiman Warga Menunggu Bantuan di Tengah Lumpur, Jerit Pengungsi Baktiya di Tanggap Darurat Keempat

Opini

Waktu, Minat, dan Kejujuran Kita

badge-check


					Waktu, Minat, dan Kejujuran Kita Perbesar

Harianpaparazzi.com

Kesibukan kerap dijadikan alasan paling sah untuk menunda banyak hal. Dari urusan keluarga hingga pengembangan diri, dari refleksi batin hingga ibadah. Padahal, waktu tidak pernah benar-benar habis. Ia hanya berpindah mengikuti arah minat dan prioritas seseorang.

Ungkapan “Nobody is ever too busy, if they’re interested they’ll make time” mengandung kritik sederhana tetapi tajam. Ia menegaskan bahwa kesibukan sering kali bukan persoalan objektif, melainkan cermin dari pilihan. Ketika sesuatu dianggap penting, waktu selalu bisa diciptakan, entah dengan mengurangi, menata ulang, atau bahkan mengorbankan hal lain.

Dalam kehidupan modern, kesibukan telah menjadi simbol produktivitas. Kalender penuh dipersepsikan sebagai tanda keberhasilan. Namun, di balik itu, banyak hal esensial justru tersisih. Kita rajin memenuhi tenggat kerja, tetapi abai pada tenggat kehidupan: kesehatan, relasi, dan ketenangan batin. Kesibukan akhirnya berubah menjadi dalih yang rapi untuk menunda kehadiran yang utuh.

Tradisi spiritual memberi perspektif yang berbeda. Praktik seperti tahajud yang dikerjakan di waktu paling sunyi, bukan dilakukan oleh orang-orang yang kekurangan aktivitas, melainkan oleh mereka yang sadar bahwa tidak semua hal penting dapat ditunaikan di sela-sela kesibukan. Ada nilai yang hanya bisa dijumpai ketika seseorang sengaja menyediakan waktu, bukan ketika waktu tersisa.

Di titik ini, waktu menjadi alat uji kejujuran. Apa yang kita klaim penting akan selalu terlihat dari alokasi jam, bukan dari pernyataan lisan. Minat yang sejati tidak menunggu kelonggaran; ia menciptakan ruang. Sebaliknya, ketidakpedulian kerap bersembunyi di balik kalimat “tidak sempat”.

Maka persoalan utama bukanlah bagaimana mengatur waktu, melainkan bagaimana menata prioritas. Masyarakat yang sehat bukan hanya diukur dari tingkat kesibukannya, tetapi dari kemampuannya memberi ruang bagi hal-hal yang bermakna. Tanpa itu, kita mungkin tampak bergerak cepat, tetapi sejatinya menjauh dari diri sendiri.

Waktu selalu netral. Ia tidak pernah menolak. Manusialah yang menentukan kepada siapa dan untuk apa ia diberikan.

Oleh: Ir. Muhammad Hatta, SST. MT, 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Ketika Kritik Dianggap Musuh, Negara Sedang Kehilangan Cermin

24 Januari 2026 - 11:55 WIB

Sedikit Kegembiraan di Tengah Kecemasan

20 Januari 2026 - 07:54 WIB

INALUM Sambut Kejatisu dengan Sikap Terbuka, IWO Batu Bara: Inilah Standar BUMN Sehat”

14 November 2025 - 17:27 WIB

Teguh untuk meneguhkan PWI

10 Agustus 2025 - 18:22 WIB

Trending di Opini