Menu

Mode Gelap
Jufri Sitompul Terpilih Jadi Ketua PKB Taput: Memperkuat Struktur Menghadapi Pemilu Legislatif Operasi Satresnarkoba Polresta Deli Serdang Berhasil Ungkap Kasus Ganja di Kecamatan Galang Belum Genap Sebulan, Kades dan Perangkat Desa Taput akan Bimtek di Medan  BUMDes Merugi, Tim Inspektorat Taput akan Monitoring 5 Butir Ekstasi Gagal Edar, 3 Pelaku Dibekuk Satresnarkoba Polres Aceh Tenggara SPPG dan KMP Tak Miliki PBG, Dinas Perizinan Taput Jemput Bola

Opini

Ketika Kritik Dianggap Musuh, Negara Sedang Kehilangan Cermin

badge-check

Ketika Kritik Dianggap Musuh, Negara Sedang Kehilangan Cermin Perbesar

Oleh: Trinugroho

Ketika kritik diposisikan sebagai ancaman dan wartawan diperlakukan layaknya lawan, sesungguhnya yang sedang runtuh bukan sekadar komunikasi publik. Yang ambruk perlahan adalah fondasi kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.

Dalam negara demokrasi, kritik bukanlah bentuk pembangkangan. Ia adalah mekanisme koreksi. Wartawan pun bukan oposisi kekuasaan, melainkan jembatan antara fakta dan publik. Namun ketika kritik disambut dengan kecurigaan, pembungkaman, atau pelabelan negatif, negara tengah mengirim sinyal berbahaya: kekuasaan mulai alergi terhadap kebenaran.

Komunikasi publik yang sehat menuntut keberanian untuk mendengar hal-hal yang tidak menyenangkan. Pemerintah yang kuat justru lahir dari kemampuannya mengelola kritik, bukan meniadakannya. Sebab, kepercayaan publik tidak dibangun dari narasi sepihak, melainkan dari transparansi dan akuntabilitas.

Sejarah mencatat, setiap rezim yang memusuhi pers selalu memulai keruntuhannya dari titik yang sama: menutup telinga, mengeras dalam kekuasaan, dan menjauh dari rakyat. Ketika wartawan diperlakukan sebagai ancaman, masyarakat pun wajar bertanya—apa yang sebenarnya sedang ditutupi?

Negara tidak runtuh karena kritik. Negara runtuh ketika berhenti dikritik.

Maka, jika hari ini kritik dianggap musuh, esok yang tersisa hanyalah keheningan palsu. Dan dalam keheningan itu, kepercayaan publik pelan-pelan mati. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Akuntansi Sektor Publik dan Krisis Makna: Ketika Pengukuran Kinerja Kehilangan Substansi

29 April 2026 - 15:25 WIB

TOLERANSI SEBAGAI KUNCI INVESTASI DAN PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA

4 April 2026 - 11:59 WIB

PERTUMBUHAN TINGGI, DOMPET MENIPIS: PARADOKS STABILITAS EKONOMI INDONESIA DI ERA TEKANAN GLOBAL

26 Februari 2026 - 11:54 WIB

ANTARA TARAWIH DAN TROLI BELANJA: WAJAH GANDA RAMADHAN KITA

26 Februari 2026 - 11:35 WIB

KELAS MENENGAH DI UJUNG TANDUK, SIAPA SEBENARNYA YANG MENIKMATI PERTUMBUHAN?

13 Februari 2026 - 11:57 WIB

Trending di Opini