Menu

Mode Gelap
Belum Genap Sebulan, Kades dan Perangkat Desa Taput akan Bimtek di Medan  BUMDes Merugi, Tim Inspektorat Taput akan Monitoring 5 Butir Ekstasi Gagal Edar, 3 Pelaku Dibekuk Satresnarkoba Polres Aceh Tenggara SPPG dan KMP Tak Miliki PBG, Dinas Perizinan Taput Jemput Bola Kadis PMD Taput Siap Evaluasi Lembaga Bimtek Bermasalah, PDIP Dorong Pelaksanaan di Daerah Jalan Samping Kantor PWI Agara Tergerus Sungai, Satu Pengendara Jatuh ke Kali Bulan

Nasional

Mercu Buana Kukuhkan Dua Guru Besar Perempuan di Hari Kartini

badge-check

Mercu Buana Kukuhkan Dua Guru Besar Perempuan di Hari Kartini Perbesar

Jakarta — Universitas Mercu Buana (UMB) mengukuhkan dua guru besar perempuan sekaligus pada Selasa (21/4), bertepatan dengan Hari Kartini. Prosesi berlangsung di Auditorium Lantai 7 Gedung Tower, Kampus UMB, Meruya, Jakarta Barat.

Keduanya ialah Prof. Dr. Dra. Nurhayani Saragih, M.Si., dalam bidang Media dan Komunikasi, serta Prof. Dr. Augustina Kurniasih, M.E., dalam bidang Manajemen Keuangan. Pengukuhan dihadiri Tri Munanto selaku Kepala Bagian Umum LLDIKTI Wilayah III, Ketua Yayasan Menara Bhakti, dan sejumlah tamu undangan.

Rektor UMB Prof. Dr. Andi Adriansyah, M.Eng., menegaskan bahwa jabatan guru besar bukan sekadar puncak karier akademik, melainkan amanah intelektual dan moral.

“Guru besar adalah penjaga api keilmuan sekaligus penjaga arah peradaban. Mereka tidak hanya mengembangkan ilmu pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai, etika, dan kebijaksanaan bagi generasi mendatang,” ujar Andi.

Andi menambahkan, kehadiran dua perempuan sebagai guru besar mencerminkan pergeseran peran perempuan—dari sekadar partisipan menjadi pemimpin pemikiran atau thought leader. Hal ini, kata dia, selaras dengan gagasan R.A. Kartini yang menempatkan perempuan sebagai agen perubahan dan pendidik dalam masyarakat.

Literasi Media dan Ekonomi Berkeadilan
Dalam orasi ilmiahnya, Prof. Nurhayani Saragih menyoroti pergeseran mendasar ekologi komunikasi dari media massa konvensional ke platform digital. Ia menegaskan bahwa transformasi ini mengubah posisi publik dari penerima informasi menjadi produsen makna.
“Arus informasi yang masif, termasuk disinformasi dan fenomena hiperrealitas, menuntut peran akademisi dalam menjaga kualitas wacana publik. Literasi media dan etika komunikasi menjadi krusial agar komunikasi tidak hanya efektif, tetapi juga berkeadaban,” kata Nurhayani.

Adapun Prof. Augustina Kurniasih menekankan bahwa pendekatan manajemen keuangan modern tidak lagi semata bertumpu pada efisiensi dan kalkulasi angka. Menurutnya, isu keadilan distribusi, keberlanjutan, dan orientasi nilai kemanusiaan kini menjadi bagian tak terpisahkan dari pengelolaan sistem ekonomi.

Momentum Hari Kartini dipandang memperkuat makna simbolis pengukuhan tersebut. Semangat kesetaraan, akses pendidikan, dan kebebasan berpikir yang diwariskan Kartini dinilai terus menemukan relevansinya dalam lanskap akademik Indonesia masa kini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Dua Mahasiswa JTM PNL Raih Juara I pada National Welding Competition 2026 di PPNS Surabaya

17 Juli 2026 - 11:19 WIB

Klaim Bobby Nasution Dipertanyakan, Pengamat: Keberhasilan Diukur dari Hasil, Bukan Siapa yang Memulai

3 Juli 2026 - 13:55 WIB

Kejagung Ungkap Dugaan Mark Up Motor Listrik MBG, Harga Dinaikkan hingga Rp47 Juta per Unit

13 Juni 2026 - 14:30 WIB

PWI-IPB Bahas Beasiswa S2 untuk Wartawan, Ada 10 Prodi Magister yang Ditawarkan

4 Juni 2026 - 11:21 WIB

Wisuda di JCC, Haji Uma Raih Gelar Magister Ilmu Politik, Putranya Lulus Sarjana Ilmu Komunikasi

1 Juni 2026 - 16:22 WIB

Trending di Nasional