Menu

Otomatis
Breaking News

Aceh

Laut Bukan Tempat Sampah: Sulfur Tumpah, PEMA Cuci Tangan

badge-check

Laut Bukan Tempat Sampah: Sulfur Tumpah, PEMA Cuci Tangan Perbesar

Langsa – Harianpaparazzi.com
Ada yang salah ketika perusahaan milik rakyat justru bikin rakyat muak. PT Pembangunan Aceh (PEMA), yang katanya dibentuk untuk menyejahterakan Aceh, kini sibuk “menyejahterakan” air laut dengan tumpahan sulfur. Laut menangis, tapi PEMA mungkin terlalu sibuk menghitung lifting dan menyusun presentasi, lupa bahwa yang mereka kelola bukan kolam buatan.

Beberapa hari terakhir, aktivitas lifting sulfur di Pelabuhan Kuala Langsa menjadi buah bibir. Tapi bukan karena profesionalisme, melainkan karena lifting sulfur limbah B3 yang tercecer ke laut tanpa pengawasan oleh management PEMA, dan di lakukan seperti tanpa ada prosedur SOP. Padahal aktifitas yang di lakukan merupakan transportasi limbah B3 yang sangat berbahaya jika dilakukan tanpa menggunakan SOP yang ketat, namun tidak ada penerapan standar safety dari management PEMA. Seolah-olah PP Nomor 22 Tahun 2021 hanya brosur seminar yang bisa diabaikan.

“Saya lihat sendiri, sulfur tumpah ke laut. Tidak ada yang bertindak. Diam saja. Laut ini dianggap halaman belakang mereka,” ujar saksi di lokasi.
“Padahal kegiatan gini udah beberapa kali di lakukan, tapi ga pernah kaya gini, bang.”

Kalau sulfur tumpah ke darat, bisa-bisa heboh. Tapi karena laut diam, semua jadi biasa. Padahal sulfur bukan air kelapa, kalau tumpah bisa merusak pH, membunuh mikroorganisme laut, dan menciptakan gas beracun. Tapi siapa peduli? Asal lifting jalan, asal laporan rapi, soal pencemaran biarlah laut yang tanggung.

Ironisnya, ini bukan sembarang perusahaan swasta. Ini perusahaan milik Pemerintah Aceh. Dibentuk dengan nama besar, tapi bertindak kecil: tak transparan, tak akuntabel, tak profesional, tak peduli lingkungan. PAD? Entah ke mana. Yang jelas, Kuala Langsa kini harus ikut menanggung beban.

Tak ada klarifikasi. Tak ada permintaan maaf. Hanya sunyi dan lembaran kertas yang dicetak untuk formalitas.

Kalau lifting saja dilakukan sembarangan, bagaimana publik bisa percaya bahwa miliaran uang migas tidak ikut menguap bersama bau sulfur?

Rakyat Aceh layak bertanya: ini perusahaan daerah atau pencemar daerah?. Pemerintah Aceh sebagai pemilik PEMA juga harus bertanggung jawab membenahi.

Jika lifting lebih penting daripada lingkungan, jika pencitraan lebih utama daripada keselamatan ekosistem, maka PEMA bukan sedang mengelola sumber daya tapi sedang bermain-main dengan masa depan generasi Aceh.

Ingat, laut bukan tempat sampah. Dan Aceh bukan warisan pribadi atau sekelompok pihak.
Berhentilah mencemari, sebelum rakyat mulai bersuara lebih keras dari ombak. (tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

PDAM Bangun Jaringan Baru, Warga Pesisir Seunuddon 25 Tahun Menunggu Air Bersih

20 Agu 2026 - 22:59 WIB

PDAM Bangun Jaringan Baru, Warga Pesisir Seunuddon 25 Tahun Menunggu Air Bersih

Kapolres Lhokseumawe dan Dandim 0103/Aceh Utara Bekali Mahasiswa Baru PNL Wawasan Kebangsaan

19 Agu 2026 - 19:32 WIB

Kapolres Lhokseumawe dan Dandim 0103/Aceh Utara Bekali Mahasiswa Baru PNL Wawasan Kebangsaan

Ketika Kadis Membuka Sendiri Kotak Pandora Anggaran: Seremoni 17 Agustus Bakesbangpol Rp850 Juta Lebih Jadi Sorotan

17 Agu 2026 - 17:35 WIB

Ketika Kadis Membuka Sendiri Kotak Pandora Anggaran: Seremoni 17 Agustus Bakesbangpol Rp850 Juta Lebih Jadi Sorotan

Menuai Kritik, Pejabat Aceh Utara Lebih Pilih Warung Kopi Ketimbang Upacara HUT RI

17 Agu 2026 - 11:15 WIB

Menuai Kritik, Pejabat Aceh Utara Lebih Pilih Warung Kopi Ketimbang Upacara HUT RI

Kredit Belum Lunas, Motor Masih di Tangan, Kok Bisa Berujung Dugaan Penggelapan?

16 Agu 2026 - 19:31 WIB

Kredit Belum Lunas, Motor Masih di Tangan, Kok Bisa Berujung Dugaan Penggelapan?
Trending di Aceh