Menu

Mode Gelap
Menunggu Bantuan di Tengah Lumpur, Jerit Pengungsi Baktiya di Tanggap Darurat Keempat Proyek Pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih di Aceh Utara Masih Tertunda, Baru Capai 53 Persen Menyingkap Akar Bencana: Banjir Bandang Aceh dan Dugaan Okupasi Hutan Ilegal Saat Jalan Terputus, Bantuan Tak Cukup Datang: Apa yang Harus Dilakukan untuk Bener Meriah, Takengon? Aceh Utara Dilanda Banjir Parah, Ayahwa Nilai Perhatian Pemerintah Pusat Belum Maksimal Komunikasi Pemkab Aceh Utara Tersumbat, Penanganan Banjir Dinilai Lambat!

Aceh

Ketika Legislator Aceh Kehilangan Kompas, Pujian Nasir Djamil Mengundang Curiga

badge-check


					Ketika Legislator Aceh Kehilangan Kompas, Pujian Nasir Djamil Mengundang Curiga Perbesar

Lhokseumawe, Harianpaparazzi.com – Langkah Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution yang datang langsung ke Banda Aceh untuk membahas pengelolaan potensi migas di empat pulau yang sedang menjadi polemik antara Sumut dan Aceh, memang mencuri perhatian.

Tapi yang lebih menyita perhatian publik bukan manuver Bobby, melainkan sikap Muhammad Nasir Djamil, anggota DPR RI asal Aceh, yang justru sibuk melontarkan pujian berlebihan kepada Bobby, seolah lupa bahwa ia sedang duduk sebagai wakil rakyat Aceh di Senayan.

Alih-alih bersuara tegas membela kedaulatan dan kepentingan Aceh atas empat pulau yang secara historis dan administratif punya akar panjang dalam wilayah Aceh, Nasir justru tampil seolah sebagai duta kehormatan Sumatera Utara.

Ucapannya yang menyebut perjalanan darat Bobby sebagai “niat baik yang luar biasa”, dan bahkan menyebut “layak diacungi jempol”, menunjukkan glorifikasi murahan terhadap gestur politis yang biasa saja. Ini bukan diplomasi, ini adalah kecanggungan seorang legislator yang kehilangan kompas.

Sebagai putra kelahiran Medan, Nasir memang memiliki kedekatan emosional dengan Sumut. Namun ketika duduk di Senayan sebagai perwakilan Aceh, publik berhak meminta ketegasan, bukan kepalsuan berselimut pujian.

Maka tak heran, sikapnya tersebut menuai kecurigaan. Klarifikasi yang ia lontarkan setelah narasinya viral di media nasional justru memperkuat kesan bahwa ia bukan hanya keliru, tapi juga abai terhadap sensitivitas geopolitik masyarakat Aceh.

Langkah tegas Gubernur Aceh Muzakir Manaf alias Mualem untuk mencabut jabatan Ketua Forum Bersama (Forbes) DPR dan DPD RI asal Aceh dari tangan Nasir Djamil adalah keputusan yang sangat tepat.

Posisi tersebut kini diberikan kepada T.A. Khalid, politisi yang diyakini lebih tegas dalam membawa suara Aceh di forum nasional. Pencopotan ini bukan hanya simbolik, tapi juga pesan politik: Aceh tidak butuh juru puji, melainkan pejuang.

Gubernur Mualem dan jajaran Pemerintah Aceh perlu waspada terhadap manuver-manuver politik yang terselubung di balik wajah senyum dan kalimat manis. Kehadiran Nasir dalam beberapa pertemuan strategis, termasuk di Pendopo Gubernur, patut dicermati lebih serius. Apakah ia benar membawa semangat kolektif Aceh, atau justru menyusupkan agenda lain?

Nasir Djamil mungkin sedang bermain di wilayah abu-abu. Tapi bagi Aceh, kepentingan daerah tak boleh dikaburkan oleh diplomasi palsu. Hari ini publik bertanya dengan tegas, untuk siapa sebenarnya Nasir Djamil berdiri?

TS Sani, tokoh Aceh Utara, secara terpisah menyatakan bahwa pernyataan Nasir Djamil merupakan bentuk pengkhianatan terhadap aspirasi dan harga diri rakyat Aceh. Menurutnya, Nasir telah gagal total menjalankan fungsinya sebagai representasi Aceh di parlemen nasional.

“Logika sederhananya begini,” ujar TS Sani, atau yang akrab disapa Ampon Sani, “Tanah orang tua kita dirampas oleh tetangga.

Lalu si tetangga datang menawarkan kompromi untuk mengelola tanah itu bersama dan berbagi hasil. Tapi ibu kita justru memuji langkah si tetangga. Apa yang kita rasakan sebagai anak? Sakit hati. Itulah yang dirasakan rakyat Aceh hari ini.” kata TS Sani yang juga ketua Ormas Gerakan Rakyat itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 Komentar

  1. Teuku Aqli

    Memang disayangkan sikap Nasir Djamil dlm konflik dgn Sumut, dia benar-benar kehilangan kompas,,
    Banyak konstituen nya menyesalkan sikap Nasir, dia sekarang kehilangan nilainya di Aceh,,
    Kasihan

    Balas
semua sudah ditampilkan
Baca Lainnya

Brimob Aceh dan Brimob Banten Gotong Royong Bersihkan Mesjid Di Aceh Utara

10 Januari 2026 - 16:15 WIB

Didampingi Pengacara, Warga Blang Panyang Laporkan Dugaan Perusakan Kebun Libatkan PJ Geuchik

10 Januari 2026 - 16:14 WIB

Proyek Jalan PT Krung Meuh Putuskan Listrik Warga, Kodim dan Danramil Diminta Klarifikasi

10 Januari 2026 - 12:09 WIB

Dana Desa Gampong Meunye Peut Disorot: Dugaan Indikasi Penyimpangan Aset, Program Berubah Sepihak, hingga BLT Dipotong Oknum Geuchik

9 Januari 2026 - 15:33 WIB

Tanggul Krueng Peuto Bobol, Ribuan Warga Desa Kumbang Terancam Mengungsi

8 Januari 2026 - 19:47 WIB

Trending di Aceh