Menu

Mode Gelap
Menyingkap Akar Bencana: Banjir Bandang Aceh dan Dugaan Okupasi Hutan Ilegal Saat Jalan Terputus, Bantuan Tak Cukup Datang: Apa yang Harus Dilakukan untuk Bener Meriah, Takengon? Aceh Utara Dilanda Banjir Parah, Ayahwa Nilai Perhatian Pemerintah Pusat Belum Maksimal Komunikasi Pemkab Aceh Utara Tersumbat, Penanganan Banjir Dinilai Lambat! Di Balik Lumpur dan Doa Keluarga: Perjalanan Menggetarkan Seorang Wartawan Bener Meriah Listrik Aceh Utara Belum Pulih: Ribuan Warga Hidup dalam Gelap, PLN Akui Sinkronisasi Pembangkit Gagal Total

Aceh

Banjir Belum Surut, Kayu Tetap Meluncur: Aceh Seolah Tak Pernah Belajar

badge-check


					Banjir Belum Surut, Kayu Tetap Meluncur: Aceh Seolah Tak Pernah Belajar Perbesar

Aceh Utara, Harianpaparazzi.com — Banjir besar baru saja menggenangi rumah warga, merobohkan sekolah, melumpuhkan akses jalan, serta meninggalkan lumpur di berbagai sudut permukiman. Namun di tengah duka itu, pemandangan yang seolah sudah “biasa” kembali muncul. Mobil pengangkut kayu tampak melenggang mulus di Jalan Nasional Medan–Banda Aceh, Kamis (1/1/2025). Kayu tersebut disebut-sebut berasal dari Kabupaten Aceh Timur.

Seolah banjir hanyalah gangguan kecil bagi roda bisnis kayu, bukan peringatan keras dari alam yang selama ini diperlakukan semena-mena. Padahal, hampir setiap musim hujan, Aceh kembali dihantui bencana serupa: banjir, longsor, dan sungai meluap. Penyebabnya pun berulang kali disebut—kerusakan hutan, alih fungsi lahan, serta lemahnya pengawasan.

Ironisnya, ketika air bah belum sepenuhnya surut dari halaman rumah warga, truk-truk kayu tetap bebas berlalu-lalang. Pemandangan ini seakan menyampaikan pesan sinis: hutan boleh habis, asalkan roda ekonomi terus berputar. Warga yang menyaksikan langsung angkutan kayu tersebut pun bertanya-tanya—apakah kayu itu legal, apakah dokumennya lengkap, atau justru pertanyaan-pertanyaan itu memang tak pernah benar-benar ingin dijawab.

Pemerintah dan aparat kerap tampil di garis depan saat bencana, berbicara tentang pemulihan, rehabilitasi, dan mitigasi. Namun di lapangan, situasi seperti ini memunculkan kesan pahit: negara tampak sigap saat membagikan bantuan, tetapi memalingkan wajah ketika sumber persoalan melintas terang-terangan di depan mata.

Lebih menyedihkan lagi, masyarakat terdampak banjir diminta bersabar, sementara alam terus diperas tanpa jeda. Sungai disalahkan, hujan dituding, cuaca ekstrem dijadikan kambing hitam. Padahal, kayu-kayu yang kini melaju di atas aspal itu mungkin pernah berdiri tegak di hulu, menjadi benteng terakhir penahan air.

Jika setiap bencana hanya diakhiri dengan seremonial dan janji, sementara truk kayu tetap aman melintas di jalan nasional, maka jangan heran jika Aceh terus “berlangganan” banjir. Sebab di negeri ini, air memang cepat surut, tetapi ingatan dan tanggung jawab sering kali lebih cepat menghilang. (Tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Dinilai Cari Panggung, Ketua IPMAT Banda Aceh Dikritik soal Tudingan Penanganan Bencana di Aceh Tenggara Lamban

7 Januari 2026 - 20:42 WIB

Proyek Pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih di Aceh Utara Masih Tertunda, Baru Capai 53 Persen

7 Januari 2026 - 16:12 WIB

Salim Fakhry Zoom Meeting dengan Presiden Prabowo dan Menteri Pertanian

7 Januari 2026 - 14:46 WIB

Dugaan Pembohongan Publik PGE: Kompresor Tak Pernah Beroperasi, Aceh Utara Merugi Miliaran Rupiah

6 Januari 2026 - 22:01 WIB

Dana Desa Dipertanyakan, Dugaan Mark Up dan Program Fiktif Gampong Riseh Baroh Mengemuka

5 Januari 2026 - 14:45 WIB

Trending di Aceh