Catatan: Marudut Nainggolan
Sebagai seorang jurnalis, aku kerap meliput di Lembaga Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Tapanuli Utara (Kab.Taput).
Pemandangan perorangan, kemudian berganti menjadi pemandangan umum fraksi maupun pendapat akhir fraksi menjadi “ladang’ bagi aku untuk membuat sebuah berita produk pers.
Dari sajian fraksi yang satu ini maupun individu anggota dewan inilah kerap memperoleh bahan referensi bagi aku ,paling tidak dengan mengutip narasi materinya saja bisa melahirkan sebuah berita jurnalistik yang menarik.
Adalah, Fraksi Demokrat DPRD Taput, tanpa bermaksud membanding bandingkan dengan fraksi-fraksi lain, sangat -sangat jauh berbeda dalam setiap menyajikan materi pemandangan umum maupun pendapat akhir fraksi menyikapi pelaksanaan APBD kala paripurna pertanggungjawaban Bupati, termasuk pada paripurna peraturan daerah.
Namun pun memang idem dengan yang lain, Fraksi Demokrat di simpul pendapat akhir menyampaikan beberapa catatan penting untuk ditindak lanjuti pemerintah, toh juga menerima pertanggungjawaban Bupati seraya menyetujui menjadi sebuah peraturan daerah (perda) yang dilahirkan eksekutif bersama legislatif sebagai payung hukum yang sah di daerah.
Kadang kala aku menyimak “tajamnya” materi pendapat , tak lah salah bila dalam benak muncul kemungkinan, bahwa fraksi ini bakal menolak pertanggungjawaban bupati.
Tapi itu tadi, tajamnya sorotan yang dialamatkan pada item-item tertentu dari agenda paripurna ,toh ending simpul di pendapat akhir fraksi menerima dan menyetujui untuk dijadikan sebuah perda sebagai landasan hukum bagi pembangunan daerah.
Namun dibalik itu, selaku jurnalis ,aku justru membutuhkan fraksi ini menjadi sumber berita menarik. Karena dari sudut pandang jurnalistik, fraksi Demokrat DPRD Taput selalu menyajikan pendapat saran maupun kritik untuk dipoles jadi sebuah berita sebagai informasi penting bagi publik dan pemerintah daerah. Setidaknya itu bagi aku.
Ditengah perjalan pemerintahan sekarang, entahlah bagi yang teman lain, tetapi bagi aku setelah membaca mencermati pemandangan umum fraksi yang diketuai Dapot Hutabarat SE melihat muncul kesan sebuah bentuk “perubahan”.
Aku yang kerap mengutip pendapat fraksi Demokrat DPRD Taput jadi sebuah berita produk pers, kali ini melihat perubahan itu kala menyampaikan pemandangan umum terhadap ranperda tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD Taput Tahun 2025.
Sekali lagi ,setidaknya itu bagi aku, melihat ada yang berubah. Dulu “tajam” dengan menuangkan berbagai fakta hasil kunjungan di lapangan, belakangan terkesan menjadi datar-datar saja.
Contoh konkrit, pemandangan umum fraksi Demokrat DPRD Taput atas Ranperda tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD Taput Tahun Anggaran 2025 yang disampaikan pada paripurna DPRD, Kamis (9/7/2026) hanya setebal 7 lembar kertas folio termasuk sampul depan. Jauh lebih sedikit dibanding paripurna serupa saat pemerintahan sebelumnya.
Belum lagi item-item yang disampaikan pada pemandangan umumnya menjadi datar-datar saja, tak lagi “setajam silet” (meminjam istilah) seperti tahun- tahun lewat yang membuat ketar ketir perangkat daerah terkait, kala memaknai bahasa pengantar yang disajikan, itu simpul aku.
Aku tak memungkiri, setelah menyimak pemandangan umum fraksi Demokrat DPRD Taput yang diketuai Dapot Hutabarat SE dan Terri Genta Sansui SIP sebagai Sekretaris , dalam materi pembahasan tetap juga menyampaikan pendapat saran dan kritik untuk perbaikan.
Fraksi ini juga menyoroti hasil kunjungan gabungan komisi bahwa masih banyak pekerjaan yang mengabaikan saran dan masukan pada saat penyampaian LKPD 2025 lalu bahkan sudah bagian dari rekomendasi LKPD 2025 untuk mendapat perhatian. Namun kenyataannya seolah-olah tidak dianggap dari tanggung jawab OPD, (dikutip dari bagian pemandangan umum fraksi Demokrat)
Sebagai dioret di bagian awal, fraksi Demokrat DPRD Taput bagi aku jadi sumber berita menarik untuk kusajikan di media aku menulis.
Tetapi dari hasil amatan ku setelah menyimak pemandangan umum fraksi Demokrat DPRD Taput yang berkekuatan 3 personil ,belakangan ini terkesan tak lagi setajam sebelum kala paripurna dengan agenda yang sama. Namun sekali lagi, tak aku pungkiri masih saja ada yang menarik untuk dikutip jadi sebuah berita produk pers.
Tak lagi tajam memang (menurut ku) fraksi ini tetap juga menyoroti kinerja aparatur pemerintah yang berorientasi untuk perbaikan. Yang pasti keberadaan fraksi ini di gedung lembaga yang terhormat tetap menjalankan tupoksi sebagai anggota dewan.
Aku tidak bermaksud menyebut apakah karena partai Demokrat Taput yang di bidani Dapot Hutabarat salah satu pengusung pasangan bupati -wabup sekarang ,sehingga menurunkan “tensi” dalam ber paripurna?!!!.
Tentu sebagai jurnalis, untuk keseimbangan berita maupun tulisan aku wajib konfirmasi kepada pihak terkait dalam hal ini Dapot Hutabarat selaku ketua Fraksi Demokrat DPRD Tapanuli Utara.
Sebagai politisi yang mapan (menurut aku) Empat Periode jadi anggota DPRD Tapanuli Utara dari Partai Demokrat, Dapot Hutabarat menghargai dan memahami memaklumi serta menyikapi positif fungsi kontrol dan pandangan seorang jurnalis terhadap fraksi yang ia pimpin.
‘Setiap orang memiliki hak untuk menilai pemandangan umum maupun pendapat akhir fraksi kami Lae”, (sebutan Lae adalah sapaan santun dan beradab-red) dari Ketua Partai Demokrat Taput ini mengawali konfirmasi.
“Jika memang begitu penilaian yang dialamatkan kepada fraksi Demokrat dalam narasi yang tersampaikan sebagai partai pengusung pemenangan bupati sekarang, itu sah sah saja Lae.
Yang penting bagi fraksi Demokrat tidak ada yang tertinggalkan , terlupakan dari tupoksi dalam menjalankan tugas, bahkan kami akan upayakan bagi konstituen bahkan Kabupaten Tapanuli Utara yang terbaik sesuai visi dan misi Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara, kata Dapot Hutabarat yang diketahui tidak pernah ‘lompat pagar’ menduduki kursi di lembaga yang terhormat, sebagai menyahuti konfirmasi.
Untuk dipermaklumkan, fraksi Demokrat DPRD Taput bagi aku memiliki nilai tersendiri konteks menjalankan profesi sebagai seorang jurnalis untuk melahirkan sebuah berita produk pers.
Simpul akhir oretan pribadi jurnalis berharap, fraksi Demokrat DPRD Taput yang menjadi “ladang” berita produk pers bagi aku akan tetap eksis menjalankan kontrol ditengah kemitraan dengan eksekutif yang pastinya berorientasi bagi pembangunan masyarakat Bonapasogit Tapanuli Utara. Dengan satu catatan, walaupun kadar kontrol itu tidak lagi “setajam silet”. Itu saja. (*)







