Menu

Mode Gelap
APBK Aceh Utara Dinilai Masih Sehat, Pemulihan Pascabanjir Rp26 Triliun Jadi Beban Berat Daerah Dua Unit Rumah Semi Permanen Tanpa Penghuni Hangus Terbakar Aparat Gagalkan Pengiriman 2 Kg Sabu, Tersangka Disergap di Tol RSUD Cut Meutia Gratiskan Biaya Perawatan Korban Penusukan di Aceh Utara Sanksi Tegas ASN yang Menyalahgunakan WFH, Bisa Berujung Pemecatan Gerakan Peduli Keadilan Layangkan Petisi ke Pejabat Aceh Timur dan BNPB Pusat, Tuntut Hak Korban Banjir Dipenuhi

Aceh

Dokter Ada di Kertas, Pasien Menunggu di Kursi: Skandal Sunyi di Balik Jas Putih Puskesmas

badge-check


					Dokter Ada di Kertas, Pasien Menunggu di Kursi: Skandal Sunyi di Balik Jas Putih Puskesmas Perbesar

ACEH UTARA, Harianpaparazzi.com – Jika pelayanan kesehatan adalah wajah negara, maka yang terjadi di dua puskesmas di Aceh Utara ini lebih mirip topeng retak yang dipoles rapi dari luar, tetapi rapuh di dalam.

Di UPTD Puskesmas Sawang dan Muara Batu, para tenaga kesehatan (nakes) bukan hanya dipaksa bekerja dalam keterbatasan, tetapi juga harus menyaksikan sebuah ironi yang sulit dicerna akal sehat: dokter “ada”, namun tak pernah benar-benar hadir.

Di atas kertas, jumlah dokter tampak cukup—bahkan terlihat ideal untuk menopang ribuan peserta JKN. Namun di ruang pelayanan, realitas berkata lain: yang bekerja hanya segelintir, sementara yang lain seolah hanya hidup dalam dokumen dan laporan.

Lebih pahit lagi, angka-angka itu bukan sekadar administrasi. Ia berujung pada uang, pada kapitasi, dan pada aliran dana yang seharusnya mencerminkan pelayanan nyata, bukan ilusi birokrasi.


“Dokter Fiktif, Uang Nyata”

Fenomena ini bukan sekadar dugaan teknis, tetapi telah menjelma menjadi rahasia umum yang dibisikkan dari ruang ke ruang. Dokter yang hanya tercatat secara administratif—tanpa kehadiran nyata—diduga digunakan untuk “memperindah” rasio pelayanan demi menjaga, bahkan meningkatkan, besaran dana kapitasi.

Akibatnya?
Negara membayar lebih, tetapi pelayanan tetap kurang.

Di Puskesmas Sawang, hanya dua dokter yang benar-benar aktif melayani sekitar 21 ribu peserta. Sementara di atas kertas, kebutuhan lima dokter “terpenuhi”. Sisanya? Entah hadir di mana—atau mungkin hanya hadir dalam tanda tangan.

Hal serupa terjadi di Muara Batu. Dari kebutuhan empat dokter, hanya dua yang benar-benar bekerja. Yang lain, kembali lagi, sekadar angka.


BPJS: Lalai atau Tutup Mata?

Di tengah semua ini, muncul pertanyaan yang lebih besar: di mana pengawasan?

Verifikasi yang seharusnya menjadi benteng terakhir justru terlihat seperti formalitas. Tidak ada pengecekan menyeluruh terhadap SK penempatan, jadwal praktik, hingga bukti riil pelayanan seperti rekam medis atau resep.

Jika benar demikian, maka ini bukan sekadar kelalaian—melainkan undangan terbuka bagi praktik manipulasi.


Jaspel Turun, Potongan Naik

Ironi belum berhenti di situ. Saat jasa pelayanan (jaspel) nakes turun drastis hingga 60 persen, justru muncul potongan tambahan 15–18 persen yang disebut-sebut untuk keperluan administratif, termasuk pembayaran STR dokter yang bahkan diduga tidak aktif melayani.

Pertanyaannya sederhana:
Mengapa yang bekerja harus menanggung beban dari yang “tidak terlihat”?


Pasien Jadi Korban Sunyi

Di balik semua angka dan skema, ada satu pihak yang paling dirugikan: masyarakat.

Pelayanan kesehatan yang seharusnya optimal berubah menjadi antrean panjang, keterbatasan tenaga, dan kualitas yang jauh dari standar. Pasien datang dengan harapan sembuh, tetapi justru bertemu sistem yang sakit.


Sindiran untuk Sistem

Jika kondisi ini dibiarkan, maka kita sedang membangun sistem kesehatan yang bukan berbasis pelayanan, melainkan manipulasi.

Dokter cukup hadir di berkas.
Pelayanan cukup dilaporkan.
Dana tetap mengalir.

Sementara rakyat?
Cukup menunggu.


Desakan: Audit atau Diam Selamanya

Para nakes kini tidak lagi sekadar mengeluh. Mereka menuntut audit menyeluruh, transparansi, dan sanksi tegas.

Karena jika tidak, praktik seperti ini bukan hanya akan terus terjadi—tetapi akan menjadi budaya.

Dan ketika kebohongan sudah menjadi sistem, maka kejujuran akan terlihat seperti kesalahan.


Catatan Redaksi:
Jika dokter bisa “hadir” tanpa datang, maka mungkin suatu hari pelayanan juga bisa “sembuh” tanpa pengobatan. Tinggal menunggu saja—di negeri yang kadang lebih percaya laporan daripada kenyataan.

(Tri Nugroho Panggabean)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

133 JCH Aceh Tenggara Dilepas Menuju Tanah Suci

9 Mei 2026 - 22:38 WIB

APBK Aceh Utara Dinilai Masih Sehat, Pemulihan Pascabanjir Rp26 Triliun Jadi Beban Berat Daerah

9 Mei 2026 - 17:00 WIB

Kisruh Lahan Cot Girek Belum Usai, PTPN IV Masih Tunggu Pansus dan Langkah Hukum

8 Mei 2026 - 19:37 WIB

Postingan Facebook Anggota DPRA Picu Polemik di Aceh Timur, Satgas PPA Sesalkan Narasi yang Memperkeruh Suasana

6 Mei 2026 - 19:43 WIB

PNL Mengguncang Peta Pendidikan Vokasi: Prodi Akuntansi dan Administrasi Bisnis Raih Akreditasi Unggul

6 Mei 2026 - 14:44 WIB

Trending di Aceh