Menu

Otomatis
Breaking News

Opini

Waktu, Minat, dan Kejujuran Kita

badge-check

Waktu, Minat, dan Kejujuran Kita Perbesar

Harianpaparazzi.com

Kesibukan kerap dijadikan alasan paling sah untuk menunda banyak hal. Dari urusan keluarga hingga pengembangan diri, dari refleksi batin hingga ibadah. Padahal, waktu tidak pernah benar-benar habis. Ia hanya berpindah mengikuti arah minat dan prioritas seseorang.

Ungkapan “Nobody is ever too busy, if they’re interested they’ll make time” mengandung kritik sederhana tetapi tajam. Ia menegaskan bahwa kesibukan sering kali bukan persoalan objektif, melainkan cermin dari pilihan. Ketika sesuatu dianggap penting, waktu selalu bisa diciptakan, entah dengan mengurangi, menata ulang, atau bahkan mengorbankan hal lain.

Dalam kehidupan modern, kesibukan telah menjadi simbol produktivitas. Kalender penuh dipersepsikan sebagai tanda keberhasilan. Namun, di balik itu, banyak hal esensial justru tersisih. Kita rajin memenuhi tenggat kerja, tetapi abai pada tenggat kehidupan: kesehatan, relasi, dan ketenangan batin. Kesibukan akhirnya berubah menjadi dalih yang rapi untuk menunda kehadiran yang utuh.

Tradisi spiritual memberi perspektif yang berbeda. Praktik seperti tahajud yang dikerjakan di waktu paling sunyi, bukan dilakukan oleh orang-orang yang kekurangan aktivitas, melainkan oleh mereka yang sadar bahwa tidak semua hal penting dapat ditunaikan di sela-sela kesibukan. Ada nilai yang hanya bisa dijumpai ketika seseorang sengaja menyediakan waktu, bukan ketika waktu tersisa.

Di titik ini, waktu menjadi alat uji kejujuran. Apa yang kita klaim penting akan selalu terlihat dari alokasi jam, bukan dari pernyataan lisan. Minat yang sejati tidak menunggu kelonggaran; ia menciptakan ruang. Sebaliknya, ketidakpedulian kerap bersembunyi di balik kalimat “tidak sempat”.

Maka persoalan utama bukanlah bagaimana mengatur waktu, melainkan bagaimana menata prioritas. Masyarakat yang sehat bukan hanya diukur dari tingkat kesibukannya, tetapi dari kemampuannya memberi ruang bagi hal-hal yang bermakna. Tanpa itu, kita mungkin tampak bergerak cepat, tetapi sejatinya menjauh dari diri sendiri.

Waktu selalu netral. Ia tidak pernah menolak. Manusialah yang menentukan kepada siapa dan untuk apa ia diberikan.

Oleh: Ir. Muhammad Hatta, SST. MT, 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Catatan Menggelitik Fraksi Demokrat Terkait Transfer TKD Rp 74 Miliar ke Taput

5 Sep 2026 - 14:42 WIB

Catatan Menggelitik Fraksi Demokrat Terkait Transfer TKD Rp 74 Miliar ke Taput

Direktur Diganti, Plt. Dilantik: Ada Apa di Balik Pergantian Pimpinan RSU Cut Meutia?

27 Agu 2026 - 17:32 WIB

Direktur Diganti, Plt. Dilantik: Ada Apa di Balik Pergantian Pimpinan RSU Cut Meutia?

Akuntansi Sektor Publik dan Krisis Makna: Ketika Pengukuran Kinerja Kehilangan Substansi

29 Apr 2026 - 15:25 WIB

Akuntansi Sektor Publik dan Krisis Makna: Ketika Pengukuran Kinerja Kehilangan Substansi

TOLERANSI SEBAGAI KUNCI INVESTASI DAN PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA

4 Apr 2026 - 11:59 WIB

TOLERANSI SEBAGAI KUNCI INVESTASI DAN PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA

PERTUMBUHAN TINGGI, DOMPET MENIPIS: PARADOKS STABILITAS EKONOMI INDONESIA DI ERA TEKANAN GLOBAL

26 Feb 2026 - 11:54 WIB

PERTUMBUHAN TINGGI, DOMPET MENIPIS: PARADOKS STABILITAS EKONOMI INDONESIA DI ERA TEKANAN GLOBAL
Trending di Opini