Menu

Mode Gelap
Aparat Gagalkan Pengiriman 2 Kg Sabu, Tersangka Disergap di Tol RSUD Cut Meutia Gratiskan Biaya Perawatan Korban Penusukan di Aceh Utara Sanksi Tegas ASN yang Menyalahgunakan WFH, Bisa Berujung Pemecatan Gerakan Peduli Keadilan Layangkan Petisi ke Pejabat Aceh Timur dan BNPB Pusat, Tuntut Hak Korban Banjir Dipenuhi Banjir dan Longsor Terjang Sejumlah Wilayah Sumatera, Aceh Tengah hingga Medan Terdampak Jangan Panik! Harga BBM Pertamina April 2026 Tetap, Ini Rincian Tarif di Sejumlah Daerah

Aceh

Abrasi Lhok Puuk Masuki Fase Darurat: 38 Rumah Hilang, Ribuan Warga Terancam, Mualem Turun ke Lokasi, Politik Anggaran Mulai terlihat jelas

badge-check


					Abrasi Lhok Puuk Masuki Fase Darurat: 38 Rumah Hilang, Ribuan Warga Terancam, Mualem Turun ke Lokasi, Politik Anggaran Mulai terlihat jelas Perbesar

Lhoksukon, Harianpaparazzi.com — Bencana abrasi di pesisir Gampong Lhok Puuk, Kecamatan Seunuddon, Aceh Utara, memasuki fase kedaruratan ekstrem setelah 38 rumah warga hilang tersapu laut tanpa menyisakan jejak. Di titik paling kritis, daratan yang dulunya berjarak 200 meter dari garis pantai kini menyempit hanya tinggal 10 meter. Situasi gawat ini mendorong Gubernur Aceh Muzakir Manaf (Mualem) turun langsung ke lokasi pada Minggu (16/11/2025). Ia menyebut kondisi tersebut “darurat” dan menuntut percepatan penanganan.

“Ini darurat. Kalau bisa harus cepat diperbaiki sebelum makin meluas,” tegas Mualem di hadapan warga. Mualem memastikan akan segera memanggil Tim Anggaran Pemerintah Aceh (TAPA) untuk merumuskan langkah mitigasi cepat.

Bupati Aceh Utara, Ismail A. Jalil (Ayahwa), yang mendampingi kunjungan itu mengaku lega atas perhatian Pemerintah Aceh. “InsyaAllah Pak Gubernur akan mendorong percepatan. Masyarakat Lhok Puuk butuh rasa aman,” ujarnya.

Keuchik Lhok Puuk, T. Bakhtiar, menyebut abrasi telah berlangsung sejak 2019 dan kini mencapai titik paling parah.

Data gampong mencatat: 475 KK tinggal di Lhok Puuk, 214 KK terdampak langsung abrasi, 38 rumah hanyut tanpa sisa bangunan, 215 hektare tambak rusak dihantam ombak. Sumur warga tak lagi dapat dipakai saat pasang purnama, Jalan utama desa amblas diterjang laut, Pipa PDAM ada, tetapi air tidak mengalir.

“Ini tanah bersertifikat. Tempat kita berdiri sekarang dulunya rumah warga, kini sudah jadi pantai,” kata Bakhtiar pilu. Ia menyebut warganya seperti “diusir dua kali” pertama oleh tsunami, kini oleh abrasi.

Reaksi Politik Memanas: HRD dan DPRA Berbeda

Narasi Soal Anggaran Penyelamatan
Krisis di Lhok Puuk sebenarnya telah lama memanggil perhatian publik. Pada 6 Oktober lalu, Anggota DPR-RI H. Ruslan M. Daud (HRD) telah meninjau lokasi abrasi dan menjanjikan percepatan penanganan melalui Kementerian PUPR. HRD menegaskan abrasi Lhok Puuk harus masuk program nasional melalui penyusunan Detail Identification Design (DID) sebagai pintu pengerjaan fisik.

“Kalau tidak segera dikerjakan, bukan hanya rumah warga hilang, tapi sumber ekonomi masyarakat juga musnah,” tegas HRD. HRD mendorong agar DID dimulai dengan anggaran awal Rp100 juta, agar bisa dikerjakan cepat melalui penunjukan langsung oleh Dinas Pengairan.

Namun narasi berbeda muncul dari Anggota DPRA Tgk. Muharuddin yang menyebut DID Rp750 juta baru masuk rencana perubahan Tahun Anggaran 2026. “Tidak mungkin dikerjakan dengan sisa dua bulan tahun ini. Tendernya panjang,” tegasnya.

Warga: Bantuan Bukan Janji, Tapi Tindakan

Dalam pernyataannya, Tengku Bahktiar dan tokoh-tokoh masyarakat lainnya menegaskan bahwa mereka kini hidup dalam ketakutan setiap malam pasang naik. Lebih dari 412 KK berada dalam kondisi rawan relokasi darurat.

Tokoh masyarakat, yang juga anggota DPRK Aceh Utara Tengku Meulaboh, menilai kunjungan HRD dan Gubernur memberi harapan, namun PR terbesar masih pada: kejelasan DID, kepastian anggaran, dan tindakan cepat di lapangan.

“Warga tidak butuh janji. Mereka butuh langkah nyata untuk menyelamatkan hidup mereka dari laut yang terus mendekat,” katanya.

Menurut Tengku Meulaboh Mengapa Abrasi Lhok Puuk Jadi Ancaman Serius hal ini dikarenkan Faktor Geografi, Garis pantai di utara Aceh sangat terbuka terhadap angin timur dan arah gelombang langsung menghantam pemukiman dan tambak. Lanjutnya, dari sisi Faktor Sosial-Ekonomi, 70% warga menggantungkan hidup pada tambak dan perikanan.

Pemerintah Aceh Janji Bertindak Cepat

Mualem menegaskan bahwa pemerintah provinsi tidak akan menunggu abrasi menelan lebih banyak rumah. “Kita tidak ingin ada korban lebih besar lagi. Semua harus dilakukan cepat,” tegas Gubernur Aceh. Warga kini menanti apakah kunjungan para pemimpin itu akan berbuah tindakan nyatabukan sekadar rangkaian foto seremonial. (Firdaus)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Kejari Aceh Timur Dalami Dugaan Pengalihan Lahan dan Tidak Setor PAD oleh KSO PT Wajar Corpora

17 April 2026 - 21:20 WIB

Kapolda Aceh Terima Audiensi Dekan Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Aceh

17 April 2026 - 15:12 WIB

Pembukaan Lahan Sawit Masif Picu Banjir, Petani Menjerit Menanggung Kerugian

16 April 2026 - 17:08 WIB

Janji Bantuan Mengalir, Petani Menjerit Gagal Tanam di Aceh Utara

16 April 2026 - 15:18 WIB

“Paktam” Harus Dievaluasi: Konten TikTok di Jam Dinas dan Informasi Keliru Ancam Citra Bupati Aceh Utara

11 April 2026 - 23:50 WIB

Trending di Aceh