Menu

Mode Gelap
Menunggu Bantuan di Tengah Lumpur, Jerit Pengungsi Baktiya di Tanggap Darurat Keempat Proyek Pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih di Aceh Utara Masih Tertunda, Baru Capai 53 Persen Menyingkap Akar Bencana: Banjir Bandang Aceh dan Dugaan Okupasi Hutan Ilegal Saat Jalan Terputus, Bantuan Tak Cukup Datang: Apa yang Harus Dilakukan untuk Bener Meriah, Takengon? Aceh Utara Dilanda Banjir Parah, Ayahwa Nilai Perhatian Pemerintah Pusat Belum Maksimal Komunikasi Pemkab Aceh Utara Tersumbat, Penanganan Banjir Dinilai Lambat!

Aceh

Abrasi Lhok Puuk Masuki Fase Darurat: 38 Rumah Hilang, Ribuan Warga Terancam, Mualem Turun ke Lokasi, Politik Anggaran Mulai terlihat jelas

badge-check


					Abrasi Lhok Puuk Masuki Fase Darurat: 38 Rumah Hilang, Ribuan Warga Terancam, Mualem Turun ke Lokasi, Politik Anggaran Mulai terlihat jelas Perbesar

Lhoksukon, Harianpaparazzi.com — Bencana abrasi di pesisir Gampong Lhok Puuk, Kecamatan Seunuddon, Aceh Utara, memasuki fase kedaruratan ekstrem setelah 38 rumah warga hilang tersapu laut tanpa menyisakan jejak. Di titik paling kritis, daratan yang dulunya berjarak 200 meter dari garis pantai kini menyempit hanya tinggal 10 meter. Situasi gawat ini mendorong Gubernur Aceh Muzakir Manaf (Mualem) turun langsung ke lokasi pada Minggu (16/11/2025). Ia menyebut kondisi tersebut “darurat” dan menuntut percepatan penanganan.

“Ini darurat. Kalau bisa harus cepat diperbaiki sebelum makin meluas,” tegas Mualem di hadapan warga. Mualem memastikan akan segera memanggil Tim Anggaran Pemerintah Aceh (TAPA) untuk merumuskan langkah mitigasi cepat.

Bupati Aceh Utara, Ismail A. Jalil (Ayahwa), yang mendampingi kunjungan itu mengaku lega atas perhatian Pemerintah Aceh. “InsyaAllah Pak Gubernur akan mendorong percepatan. Masyarakat Lhok Puuk butuh rasa aman,” ujarnya.

Keuchik Lhok Puuk, T. Bakhtiar, menyebut abrasi telah berlangsung sejak 2019 dan kini mencapai titik paling parah.

Data gampong mencatat: 475 KK tinggal di Lhok Puuk, 214 KK terdampak langsung abrasi, 38 rumah hanyut tanpa sisa bangunan, 215 hektare tambak rusak dihantam ombak. Sumur warga tak lagi dapat dipakai saat pasang purnama, Jalan utama desa amblas diterjang laut, Pipa PDAM ada, tetapi air tidak mengalir.

“Ini tanah bersertifikat. Tempat kita berdiri sekarang dulunya rumah warga, kini sudah jadi pantai,” kata Bakhtiar pilu. Ia menyebut warganya seperti “diusir dua kali” pertama oleh tsunami, kini oleh abrasi.

Reaksi Politik Memanas: HRD dan DPRA Berbeda

Narasi Soal Anggaran Penyelamatan
Krisis di Lhok Puuk sebenarnya telah lama memanggil perhatian publik. Pada 6 Oktober lalu, Anggota DPR-RI H. Ruslan M. Daud (HRD) telah meninjau lokasi abrasi dan menjanjikan percepatan penanganan melalui Kementerian PUPR. HRD menegaskan abrasi Lhok Puuk harus masuk program nasional melalui penyusunan Detail Identification Design (DID) sebagai pintu pengerjaan fisik.

“Kalau tidak segera dikerjakan, bukan hanya rumah warga hilang, tapi sumber ekonomi masyarakat juga musnah,” tegas HRD. HRD mendorong agar DID dimulai dengan anggaran awal Rp100 juta, agar bisa dikerjakan cepat melalui penunjukan langsung oleh Dinas Pengairan.

Namun narasi berbeda muncul dari Anggota DPRA Tgk. Muharuddin yang menyebut DID Rp750 juta baru masuk rencana perubahan Tahun Anggaran 2026. “Tidak mungkin dikerjakan dengan sisa dua bulan tahun ini. Tendernya panjang,” tegasnya.

Warga: Bantuan Bukan Janji, Tapi Tindakan

Dalam pernyataannya, Tengku Bahktiar dan tokoh-tokoh masyarakat lainnya menegaskan bahwa mereka kini hidup dalam ketakutan setiap malam pasang naik. Lebih dari 412 KK berada dalam kondisi rawan relokasi darurat.

Tokoh masyarakat, yang juga anggota DPRK Aceh Utara Tengku Meulaboh, menilai kunjungan HRD dan Gubernur memberi harapan, namun PR terbesar masih pada: kejelasan DID, kepastian anggaran, dan tindakan cepat di lapangan.

“Warga tidak butuh janji. Mereka butuh langkah nyata untuk menyelamatkan hidup mereka dari laut yang terus mendekat,” katanya.

Menurut Tengku Meulaboh Mengapa Abrasi Lhok Puuk Jadi Ancaman Serius hal ini dikarenkan Faktor Geografi, Garis pantai di utara Aceh sangat terbuka terhadap angin timur dan arah gelombang langsung menghantam pemukiman dan tambak. Lanjutnya, dari sisi Faktor Sosial-Ekonomi, 70% warga menggantungkan hidup pada tambak dan perikanan.

Pemerintah Aceh Janji Bertindak Cepat

Mualem menegaskan bahwa pemerintah provinsi tidak akan menunggu abrasi menelan lebih banyak rumah. “Kita tidak ingin ada korban lebih besar lagi. Semua harus dilakukan cepat,” tegas Gubernur Aceh. Warga kini menanti apakah kunjungan para pemimpin itu akan berbuah tindakan nyatabukan sekadar rangkaian foto seremonial. (Firdaus)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Menunggu Bantuan di Tengah Lumpur, Jerit Pengungsi Baktiya di Tanggap Darurat Keempat

11 Januari 2026 - 22:56 WIB

Brimob Aceh dan Brimob Banten Gotong Royong Bersihkan Mesjid Di Aceh Utara

10 Januari 2026 - 16:15 WIB

Didampingi Pengacara, Warga Blang Panyang Laporkan Dugaan Perusakan Kebun Libatkan PJ Geuchik

10 Januari 2026 - 16:14 WIB

Proyek Jalan PT Krung Meuh Putuskan Listrik Warga, Kodim dan Danramil Diminta Klarifikasi

10 Januari 2026 - 12:09 WIB

Dana Desa Gampong Meunye Peut Disorot: Dugaan Indikasi Penyimpangan Aset, Program Berubah Sepihak, hingga BLT Dipotong Oknum Geuchik

9 Januari 2026 - 15:33 WIB

Trending di Aceh