Menu

Mode Gelap
Menunggu Bantuan di Tengah Lumpur, Jerit Pengungsi Baktiya di Tanggap Darurat Keempat Proyek Pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih di Aceh Utara Masih Tertunda, Baru Capai 53 Persen Menyingkap Akar Bencana: Banjir Bandang Aceh dan Dugaan Okupasi Hutan Ilegal Saat Jalan Terputus, Bantuan Tak Cukup Datang: Apa yang Harus Dilakukan untuk Bener Meriah, Takengon? Aceh Utara Dilanda Banjir Parah, Ayahwa Nilai Perhatian Pemerintah Pusat Belum Maksimal Komunikasi Pemkab Aceh Utara Tersumbat, Penanganan Banjir Dinilai Lambat!

Aceh

Alumni Tanoh Mirah Nilai Tertinggi, Tapi Gagal Jadi Komisioner Baitul Mal Aceh

badge-check


					Alumni Tanoh Mirah Nilai Tertinggi, Tapi Gagal Jadi Komisioner Baitul Mal Aceh Perbesar

Banda Aceh, Harianpaparazzi.com – Nama Dr Tgk H Ajidar Matsyah Lc MA sempat menjadi sorotan dalam seleksi Komisioner Baitul Mal Aceh 2025. Alumni Dayah Darul Ulum Tanoh Mirah, Peusangan, Bireuen, ini mencatat nilai tertinggi dalam seluruh tahapan seleksi, mulai dari administrasi, ujian CAT, hingga wawancara. Keberhasilan akademis dan integritasnya semestinya mengantarkannya ke kursi komisioner, namun nasib berkata lain.

Tgk Ajidar, yang juga pimpinan Dayah Tinggi Islam Samudera Pase di Baktiya, Aceh Utara, dikenal sebagai cendekiawan yang memadukan tradisi pesantren dengan pendidikan tinggi modern. Ia mengajar di Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry Banda Aceh serta mendirikan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Syariah (STIES) Baktiya. Kiprah akademis dan sosialnya membuatnya menjadi kandidat ideal untuk lembaga yang mengelola zakat, infak, dan dana sosial umat di Aceh.

Namun, meski menempati peringkat pertama versi Panitia Seleksi (Pansel), nama Tgk Ajidar kandas di tahap akhir pembahasan Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA). Komisi yang beranggotakan perwakilan partai politik seperti PPP, PA, Demokrat, NasDem, Golkar, PKB, Gerindra, PKS, PAN, dan PAS memiliki kewenangan penuh menentukan hasil akhir, yang dinilai sebagian pihak lebih dipengaruhi oleh politik daripada kompetensi.

Ketua Ikatan Alumni Tanoh Mirah, Tgk Mustafa Isa (Waled Pulo), menyatakan kekecewaannya: “Semua proses sudah beliau lalui, bahkan dengan nilai tertinggi. Kami tentu sedikit kecewa karena kapasitas dan rekam jejak beliau sudah sangat jelas.” Fakta ini menegaskan adanya kontras antara prestasi individu dan keputusan politik, yang membuat publik bertanya-tanya tentang objektivitas seleksi lembaga publik di Aceh.

Prestasi dan integritas tidak selalu mendapatkan penghargaan jabatan, tetapi tetap memiliki nilai tersendiri dalam masyarakat. Kegagalan Tgk Ajidar menjadi pengingat bahwa amanah dan kontribusi nyata tidak harus datang dari posisi resmi. Bahkan tanpa jabatan formal, pengaruh dan dedikasi dalam pendidikan serta pemberdayaan umat tetap berdampak luas.

Keputusan yang menyingkirkan kandidat berintegritas tinggi menunjukkan dominasi kepentingan politik di atas meritokrasi. Publik Aceh diingatkan agar terus mengawasi proses seleksi, sehingga kualitas lembaga publik tidak tergerus oleh kompromi politik semata.

Tgk Ajidar menjadi simbol cendekiawan yang “ditakuti” oleh politik yang biasa berjalan di belakang layar. Namanya mencerminkan kompetensi, integritas, dan keberanian akademik, yang seharusnya menjadi tolok ukur utama dalam penentuan pejabat publik.

Meski gagal menempati kursi komisioner, kisah Tgk Ajidar memberi inspirasi bahwa prestasi, integritas, dan dedikasi nyata lebih berharga daripada jabatan formal. Amanah sosial dan kontribusi dalam pendidikan Islam tetap menjadi warisan yang hidup, bahkan ketika politik partai mencoba menggeser kandidat terbaik.( Tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Brimob Aceh dan Brimob Banten Gotong Royong Bersihkan Mesjid Di Aceh Utara

10 Januari 2026 - 16:15 WIB

Didampingi Pengacara, Warga Blang Panyang Laporkan Dugaan Perusakan Kebun Libatkan PJ Geuchik

10 Januari 2026 - 16:14 WIB

Proyek Jalan PT Krung Meuh Putuskan Listrik Warga, Kodim dan Danramil Diminta Klarifikasi

10 Januari 2026 - 12:09 WIB

Dana Desa Gampong Meunye Peut Disorot: Dugaan Indikasi Penyimpangan Aset, Program Berubah Sepihak, hingga BLT Dipotong Oknum Geuchik

9 Januari 2026 - 15:33 WIB

Tanggul Krueng Peuto Bobol, Ribuan Warga Desa Kumbang Terancam Mengungsi

8 Januari 2026 - 19:47 WIB

Trending di Aceh