Menu

Mode Gelap
Oknum Mantan Ketua PWI Aceh Utara Diduga Masih Kuasai Aset Organisasi, PWI Aceh: Seluruh Aset di Bawah Kendali PWI Aceh Abdul Halim Dituding Gelapkan Uang Organisasi, Bendahara Ungkap Fakta Mengejutkan Dugaan Penyimpangan Dana Organisasi, PWI Aceh Ambil Alih Kepengurusan PWI Aceh Utara Menguak Krisis Air Bersih Kuala Simpang: Dua Jam Mengalir, Lima Hari Menunggu Kabar Gubernur Aceh Nikah Lagi Beredar di Medsos, Pemerintah Aceh Belum Beri Klarifikasi Diduga Tanpa Izin Camat dan Pemkab, Geuchik di Nibong Ikuti Bimtek Tertutup ke Medan, Per Desa Dipungut Rp15 Juta

Headline

Skandal Pungli Rp500 Ribu di Razia Pondok Kelapa: Bukti “Jalan Raya Jadi ATM”, Kapolri Harus Bertindak

badge-check


					Skandal Pungli Rp500 Ribu di Razia Pondok Kelapa: Bukti “Jalan Raya Jadi ATM”, Kapolri Harus Bertindak Perbesar

Medan, Harianpaparazzi.com — Malu, memalukan, dan mencoreng habis-habisan nama institusi! Seorang sopir asal Aceh mengaku dipalak Rp500 ribu oleh oknum polisi saat razia di Pondok Kelapa. Bukan karena melanggar berat, tapi hanya gara-gara bak truk terbuka tanpa terpal, padahal kendaraan sedang kosong tanpa muatan.

Dalam video yang beredar, terdengar suara yang disebut “Pak Juntak” meminta uang. Semua surat lengkap—SIM, STNK, dan dokumen angkutan—tetap tidak menyelamatkan sang sopir. Dinas Perhubungan Kota Medan saja tak mempermasalahkan, tapi oknum polisi ini justru menyita STNK.

Ketika sopir mencoba memberi Rp200 ribu, tawaran ditolak. “Mereka minta Rp500 ribu, kalau tidak, STNK tidak dikembalikan,” kata korban dengan nada kesal.

Jika ini benar, maka inilah potret telanjang penyakit kronis di tubuh kepolisian—jalan raya dijadikan ATM berjalan, razia berubah jadi lahan bisnis, dan rakyat kecil yang mencari nafkah jadi korban pemerasan.

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo seharusnya murka besar! Ini bukan lagi sekadar “ulah oknum” yang bisa ditutup dengan permintaan maaf. Video ada, suara ada, korban ada. Bukti begitu terang benderang, hanya pimpinan pengecut yang akan diam.

Kapolda Sumut wajib bergerak cepat, bukan hanya memanggil pelaku tapi menyeretnya ke meja sidang etik dan pidana. Jangan sampai masyarakat melihat Polri cuma garang pada pelanggar kecil, tapi tumpul ketika anggota sendiri terlibat pemerasan.

Jika kasus seperti ini dibiarkan, maka pesan reformasi Polri hanya akan terdengar seperti slogan kosong—dan rakyat akan semakin kehilangan rasa hormat pada seragam cokelat itu.(tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Wamen PAN-RB Datangi Aceh Tamiang, Menyasar PNS, P3K dan CPNS

24 Februari 2026 - 18:50 WIB

Rapim Polda Aceh 2026, Kapolda Aceh Tegaskan Komitmen Implementasi Arahan Presiden dan Kapolri

24 Februari 2026 - 18:48 WIB

Gunakan Surat Palsu Berkop DPRA, Sindikat Penipuan Proyek Rumah Duafa Rugikan Kontraktor Lebih dari Rp200 Juta —Yahdi Hasan Bantah Terlibat

24 Februari 2026 - 11:49 WIB

Bupati dan Plt Sekda Aceh Utara Bersilaturahmi dengan Kasubdit Tipikor Polda Aceh

23 Februari 2026 - 13:55 WIB

Penanganan Sampah Kayu Pascabencana Aceh Tertahan Administrasi, Satgas Diminta Tunggu Kejelasan

22 Februari 2026 - 09:54 WIB

Trending di Aceh