Menu

Mode Gelap
Menunggu Bantuan di Tengah Lumpur, Jerit Pengungsi Baktiya di Tanggap Darurat Keempat Proyek Pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih di Aceh Utara Masih Tertunda, Baru Capai 53 Persen Menyingkap Akar Bencana: Banjir Bandang Aceh dan Dugaan Okupasi Hutan Ilegal Saat Jalan Terputus, Bantuan Tak Cukup Datang: Apa yang Harus Dilakukan untuk Bener Meriah, Takengon? Aceh Utara Dilanda Banjir Parah, Ayahwa Nilai Perhatian Pemerintah Pusat Belum Maksimal Komunikasi Pemkab Aceh Utara Tersumbat, Penanganan Banjir Dinilai Lambat!

Aceh

Sepanduk Larangan Masuk Hutan di Aceh Utara Kerap Hilang

badge-check


					Sepanduk Larangan Masuk Hutan di Aceh Utara Kerap Hilang Perbesar

Aceh Utara, Harianpaparazzi.com – Petugas Balai Konservasi dan Pengelolaan Hutan (BKPH) wilayah 3 Aceh Utara menghadapi kendala unik dalam upaya pencegahan perusakan hutan. Sepanduk berisi peringatan hukum terhadap aktivitas ilegal di kawasan hutan, seperti penebangan, perambahan, atau pendudukan tanpa izin, kerap hilang atau dicabut oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

“Setiap orang dilarang menebang, merambah, atau menduduki kawasan hutan tanpa izin pejabat yang berwenang. Pelanggar terhadap larangan ini diancam pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp10.000.000,00 sesuai Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan,” ujar M. Yasuf, Kepala BKPH wilayah 3 Aceh Utara, kepada wartawan pada Senin (27/10/2025).

Menurut Yasuf, meskipun pihaknya rutin memasang sepanduk peringatan di sejumlah titik rawan perusakan hutan, sepanduk tersebut sering hilang dalam waktu singkat. Kejadian ini diduga dilakukan oleh pihak-pihak yang ingin melanjutkan aktivitas ilegal di kawasan hutan tanpa takut terdeteksi.

“Ini menjadi tantangan tersendiri bagi kami. Pemasangan sepanduk sebenarnya merupakan langkah preventif untuk mengingatkan masyarakat tentang risiko hukum dan pentingnya menjaga kelestarian hutan,” tambah Yasuf.

BKPH wilayah 3 Aceh Utara menegaskan akan terus melakukan pengawasan rutin serta koordinasi dengan aparat penegak hukum untuk menindak aktivitas ilegal yang merusak hutan. Selain itu, pihaknya juga berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan agar sumber daya hutan tetap lestari.

Pihak berwenang berharap masyarakat dapat mendukung upaya perlindungan hutan dengan tidak melakukan perambahan maupun kegiatan ilegal lainnya. Hilangnya sepanduk peringatan menjadi peringatan bagi semua pihak bahwa pengawasan hutan harus terus ditingkatkan, agar ekosistem hutan di Aceh Utara tetap terjaga.( Tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Brimob Aceh dan Brimob Banten Gotong Royong Bersihkan Mesjid Di Aceh Utara

10 Januari 2026 - 16:15 WIB

Didampingi Pengacara, Warga Blang Panyang Laporkan Dugaan Perusakan Kebun Libatkan PJ Geuchik

10 Januari 2026 - 16:14 WIB

Proyek Jalan PT Krung Meuh Putuskan Listrik Warga, Kodim dan Danramil Diminta Klarifikasi

10 Januari 2026 - 12:09 WIB

Dana Desa Gampong Meunye Peut Disorot: Dugaan Indikasi Penyimpangan Aset, Program Berubah Sepihak, hingga BLT Dipotong Oknum Geuchik

9 Januari 2026 - 15:33 WIB

Tanggul Krueng Peuto Bobol, Ribuan Warga Desa Kumbang Terancam Mengungsi

8 Januari 2026 - 19:47 WIB

Trending di Aceh