Menu

Mode Gelap
Menunggu Bantuan di Tengah Lumpur, Jerit Pengungsi Baktiya di Tanggap Darurat Keempat Proyek Pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih di Aceh Utara Masih Tertunda, Baru Capai 53 Persen Menyingkap Akar Bencana: Banjir Bandang Aceh dan Dugaan Okupasi Hutan Ilegal Saat Jalan Terputus, Bantuan Tak Cukup Datang: Apa yang Harus Dilakukan untuk Bener Meriah, Takengon? Aceh Utara Dilanda Banjir Parah, Ayahwa Nilai Perhatian Pemerintah Pusat Belum Maksimal Komunikasi Pemkab Aceh Utara Tersumbat, Penanganan Banjir Dinilai Lambat!

Aceh

Sebulan Bertahan di Balai Desa, Pengungsi Banjir Baktiya Menanti Hunian Sementara

badge-check


					Sebulan Bertahan di Balai Desa, Pengungsi Banjir Baktiya Menanti Hunian Sementara Perbesar

Lhoksukon, Harianpaparazzi.com – Setelah lebih dari satu bulan hidup dalam kondisi darurat, warga korban banjir di Desa Meunasah Alue Ie Puteh, Kecamatan Baktiya, Kabupaten Aceh Utara, masih bertahan di balai desa dan meunasah. Di tengah keterbatasan itu, pemerintah mulai membangun hunian sementara (huntara), meski jumlahnya belum sepenuhnya mencukupi.

Sedikitnya tujuh kepala keluarga (KK) hingga kini masih menempati balai desa dan meunasah setempat. Mereka terdiri dari anak-anak, ibu hamil, dan lansia, yang tidur beralaskan papan tanpa dinding. Sementara lima KK lainnya terpaksa menumpang di rumah sanak famili karena rumah mereka rusak akibat banjir.

Pantauan wartawan, lokasi pengungsian masih berlumpur dan lembap. Aktivitas pembangunan hunian sementara mulai terlihat, namun pengungsi berharap proses tersebut dapat segera dirampungkan, mengingat bulan suci Ramadan tinggal sekitar satu bulan lagi.

Salah seorang pengungsi, Halimah Tusakdiah, mengatakan kondisi bertahan di balai desa sudah sangat melelahkan, terutama bagi anak-anak dan kaum lansia.

“Sudah lebih satu bulan kami tidur di balai tanpa dinding. Anak-anak dan ibu hamil sangat butuh tempat yang layak. Kami berharap pemerintah menyegerakan pembangunan hunian sementara ini,” ujar Halimah.

Kepala Desa Meunasah Alue Ie Puteh, Suheri, membenarkan bahwa desanya mendapat jatah 11 unit hunian sementara. Saat ini, pembangunan huntara tersebut sedang berlangsung dan ditargetkan selesai dalam dua minggu ke depan.

“Huntara ini diperuntukkan bagi warga korban banjir, termasuk yang selama ini menumpang di rumah keluarga. Jumlahnya sesuai dengan data yang kami sampaikan ke pemerintah,” kata Suheri.

Namun, terkait santunan dan jatah hidup (JADUP) yang sebelumnya dijanjikan pemerintah kepada korban banjir, Suheri mengaku belum mengetahui perkembangan realisasinya. Hingga kini, bantuan tersebut belum diterima warga di desanya.

Sementara itu, Camat Baktiya, Bakhtiar, S.Sos, menyebutkan bahwa bantuan hunian sementara dari pemerintah pusat belum mencukupi kebutuhan kecamatan. Dari total 244 unit huntara yang diajukan, baru 214 unit yang terealisasi.

“Masih ada kekurangan. Untuk jatah hidup dan santunan bagi pengungsi, sampai sekarang juga belum terealisasi,” ujar Bakhtiar.

Saat ditanya kapan warga dapat kembali menempati rumah yang layak, Bakhtiar menegaskan bahwa hal tersebut sepenuhnya menjadi tanggung jawab pemerintah pusat, karena kewenangan anggaran dan program berada di tingkat pusat.

Berdasarkan data, di Kecamatan Baktiya tercatat 6.052 jiwa mengungsi dari 40 gampong, dengan total 53 desa terdampak banjir. Khusus di Desa Meunasah Alue Ie Puteh, terdapat 18 KK terdampak langsung, dengan rincian 12 rumah rusak berat dan 6 rumah rusak sedang.

Secara keseluruhan, jumlah rumah rusak berat di Kecamatan Baktiya mencapai 556 unit.

Sebelumnya, pemerintah pusat memastikan akan menyalurkan bantuan kompensasi perbaikan rumah bagi korban bencana banjir dan longsor di wilayah Aceh dan Sumatera lainnya. Untuk kategori rusak ringan, bantuan sebesar Rp15 juta per KK, ditambah bantuan perabotan dan pemulihan ekonomi masing-masing Rp3 juta. Untuk rusak sedang, kompensasi mencapai Rp30 juta per KK, ditambah bantuan perabotan dan pemulihan ekonomi.

Sementara untuk rumah rusak berat, penanganan dilakukan melalui skema penggantian hunian, berupa hunian sementara, dana tunggu hunian, hingga pembangunan hunian tetap (huntap).

Meski berbagai skema bantuan telah disiapkan, bagi para pengungsi di Baktiya, kepastian waktu dan realisasi di lapangan masih menjadi tanda tanya. Sementara itu, mereka tetap bertahan di balai desa, menunggu hunian sementara benar-benar bisa ditempati. Sebulan Bertahan di Balai Desa, Pengungsi Banjir Baktiya Menanti Hunian Sementara
Harian Paparazi.com, Lhoksukon – Setelah lebih dari satu bulan hidup dalam kondisi darurat, warga korban banjir di Desa Meunasah Alue Ie Puteh, Kecamatan Baktiya, Kabupaten Aceh Utara, masih bertahan di balai desa dan meunasah. Di tengah keterbatasan itu, pemerintah mulai membangun hunian sementara (huntara), meski jumlahnya belum sepenuhnya mencukupi.
Sedikitnya tujuh kepala keluarga (KK) hingga kini masih menempati balai desa dan meunasah setempat. Mereka terdiri dari anak-anak, ibu hamil, dan lansia, yang tidur beralaskan papan tanpa dinding. Sementara lima KK lainnya terpaksa menumpang di rumah sanak famili karena rumah mereka rusak akibat banjir.
Pantauan wartawan, lokasi pengungsian masih berlumpur dan lembap. Aktivitas pembangunan hunian sementara mulai terlihat, namun pengungsi berharap proses tersebut dapat segera dirampungkan, mengingat bulan suci Ramadan tinggal sekitar satu bulan lagi.
Salah seorang pengungsi, Halimah Tusakdiah, mengatakan kondisi bertahan di balai desa sudah sangat melelahkan, terutama bagi anak-anak dan kaum lansia.
“Sudah lebih satu bulan kami tidur di balai tanpa dinding. Anak-anak dan ibu hamil sangat butuh tempat yang layak. Kami berharap pemerintah menyegerakan pembangunan hunian sementara ini,” ujar Halimah.
Kepala Desa Meunasah Alue Ie Puteh, Suheri, membenarkan bahwa desanya mendapat jatah 11 unit hunian sementara. Saat ini, pembangunan huntara tersebut sedang berlangsung dan ditargetkan selesai dalam dua minggu ke depan.
“Huntara ini diperuntukkan bagi warga korban banjir, termasuk yang selama ini menumpang di rumah keluarga. Jumlahnya sesuai dengan data yang kami sampaikan ke pemerintah,” kata Suheri.
Namun, terkait santunan dan jatah hidup (JADUP) yang sebelumnya dijanjikan pemerintah kepada korban banjir, Suheri mengaku belum mengetahui perkembangan realisasinya. Hingga kini, bantuan tersebut belum diterima warga di desanya.
Sementara itu, Camat Baktiya, Bakhtiar, S.Sos, menyebutkan bahwa bantuan hunian sementara dari pemerintah pusat belum mencukupi kebutuhan kecamatan. Dari total 244 unit huntara yang diajukan, baru 214 unit yang terealisasi.
“Masih ada kekurangan. Untuk jatah hidup dan santunan bagi pengungsi, sampai sekarang juga belum terealisasi,” ujar Bakhtiar.
Saat ditanya kapan warga dapat kembali menempati rumah yang layak, Bakhtiar menegaskan bahwa hal tersebut sepenuhnya menjadi tanggung jawab pemerintah pusat, karena kewenangan anggaran dan program berada di tingkat pusat.
Berdasarkan data, di Kecamatan Baktiya tercatat 6.052 jiwa mengungsi dari 40 gampong, dengan total 53 desa terdampak banjir. Khusus di Desa Meunasah Alue Ie Puteh, terdapat 18 KK terdampak langsung, dengan rincian 12 rumah rusak berat dan 6 rumah rusak sedang.
Secara keseluruhan, jumlah rumah rusak berat di Kecamatan Baktiya mencapai 556 unit.
Sebelumnya, pemerintah pusat memastikan akan menyalurkan bantuan kompensasi perbaikan rumah bagi korban bencana banjir dan longsor di wilayah Aceh dan Sumatera lainnya. Untuk kategori rusak ringan, bantuan sebesar Rp15 juta per KK, ditambah bantuan perabotan dan pemulihan ekonomi masing-masing Rp3 juta. Untuk rusak sedang, kompensasi mencapai Rp30 juta per KK, ditambah bantuan perabotan dan pemulihan ekonomi.
Sementara untuk rumah rusak berat, penanganan dilakukan melalui skema penggantian hunian, berupa hunian sementara, dana tunggu hunian, hingga pembangunan hunian tetap (huntap).
Meski berbagai skema bantuan telah disiapkan, bagi para pengungsi di Baktiya, kepastian waktu dan realisasi di lapangan masih menjadi tanda tanya. Sementara itu, mereka tetap bertahan di balai desa, menunggu hunian sementara benar-benar bisa ditempati. (firdaus)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Brimob Aceh dan Brimob Banten Gotong Royong Bersihkan Mesjid Di Aceh Utara

10 Januari 2026 - 16:15 WIB

Didampingi Pengacara, Warga Blang Panyang Laporkan Dugaan Perusakan Kebun Libatkan PJ Geuchik

10 Januari 2026 - 16:14 WIB

Proyek Jalan PT Krung Meuh Putuskan Listrik Warga, Kodim dan Danramil Diminta Klarifikasi

10 Januari 2026 - 12:09 WIB

Dana Desa Gampong Meunye Peut Disorot: Dugaan Indikasi Penyimpangan Aset, Program Berubah Sepihak, hingga BLT Dipotong Oknum Geuchik

9 Januari 2026 - 15:33 WIB

Tanggul Krueng Peuto Bobol, Ribuan Warga Desa Kumbang Terancam Mengungsi

8 Januari 2026 - 19:47 WIB

Trending di Aceh