Panton Labu, Harianpaparazzi – Ribuan warga Panton Labu memadati Masjid Raya Pase sejak subuh untuk melaksanakan Shalat Id yang dimulai pukul 07.15 WIB. Lantunan takbir menggema, menyelimuti kota paling timur Kabupaten Aceh Utara dengan suasana haru dan syukur. Sekitar 3.500 jemaah pria dan wanita larut dalam kekhidmatan, menutup bulan suci dengan ibadah yang sarat makna.
Usai shalat, mereka menyimak khutbah yang disampaikan oleh Tengku Ibnu Hajar dari Dayah Malikussaleh. Dalam khutbahnya, sang khatib mengajak jemaah merenungkan hakikat Ramadhan dan pentingnya mempertahankan amalan baik di bulan-bulan selanjutnya.
Kebahagiaan Sejati dalam Keimanan
“Kita baru saja meninggalkan bulan yang penuh kemuliaan. Bulan yang tidak ada bandingannya dalam hal keberkahan. Ramadhan selalu dikaitkan dengan Al-Qur’an, wahyu Allah, dan di dalamnya terdapat berbagai keutamaan ibadah,” ujar Tengku Ibnu Hajar.
Khatib menegaskan bahwa tanda kebahagiaan seorang mukmin adalah menerima takdir Allah dengan lapang hati, baik dalam keadaan susah maupun senang. Selain itu, sikap qanaah—merasa cukup dengan rezeki yang diberikan Allah—adalah tanda diterimanya amalan seseorang.
“Ketika kita berpuasa, kita menginginkan berbagai makanan, namun setelah berbuka, hanya seteguk air dan sepotong makanan yang kita perlukan. Begitulah perbandingan antara dunia dan akhirat,” lanjutnya.
Amal yang Diterima dan Keikhlasan
Dalam khutbahnya, Tengku Ibnu Hajar menekankan bahwa hanya dua hal yang akan dibawa seseorang saat meninggalkan dunia: amal baik dan amal buruk. Namun, amalan yang diterima Allah bukan sekadar yang dilakukan oleh anggota badan, melainkan yang dilakukan dengan keikhlasan hati.
“Maka dari itu, ketika kita berpuasa, ajaklah hati untuk ikut berpuasa. Ketika kita shalat, ajaklah hati untuk turut serta dalam shalat. Allah tidak memberatkan hamba-Nya, namun apakah kita mampu memahami hikmah dari ibadah yang kita lakukan?” imbuhnya.
Lebih lanjut, khatib mengingatkan bahwa tanda lain diterimanya amal ibadah adalah peningkatan ketaatan di luar Ramadhan. Shalat sunah, puasa sunah, dan amalan lainnya seharusnya tetap dijaga.
Pesan Perpisahan Ramadhan
Di akhir khutbah, Tengku Ibnu Hajar mengingatkan bahwa Ramadhan telah berlalu dan tidak ada yang bisa menjamin apakah kita akan bertemu dengannya kembali tahun depan.
“Kita tidak tahu apakah kita masih akan hidup esok hari. Oleh karena itu, jangan sia-siakan amalan yang telah kita lakukan. Semoga Allah menerima ibadah kita dan mengampuni dosa-dosa kita,” tutupnya.
Masjid Raya Pase: Simbol Keagungan Islam di Aceh Utara
Masjid Raya Pase, tempat berlangsungnya Shalat Id pagi tadi, merupakan salah satu kebanggaan masyarakat Aceh Utara. Dibangun pada era kepemimpinan Bupati Tarmizi A. Karim sekitar tahun 2000, masjid ini menjadi salah satu ikon kemegahan Islam di daerah tersebut. Perintisnya, Abu Ibrahim, dikenal sebagai ulama karismatik dengan keahlian di bidang hukum Islam, tidak hanya di tingkat lokal tetapi juga nasional dan internasional.
Shalat Id pagi ini bukan hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga momentum bagi umat Islam untuk merenungkan esensi dari ibadah yang telah dijalani selama sebulan penuh. Sebuah pengingat bahwa Ramadhan boleh berlalu, tetapi amal kebaikan harus terus berlanjut. (firdaus)