ACEH UTARA | HARIAN PAPARAZZI – Delapan abad perjalanan Samudera Pasai menjadi momentum bagi Kabupaten Aceh Utara untuk tidak sekadar mengenang kejayaan masa lalu, tetapi juga menanam harapan bagi masa depan.
Semangat tersebut diwujudkan melalui penanaman 800 pohon di kawasan Situs Cagar Budaya Kompleks Makam Sultanah Nahrisyah, Aceh Utara, Jumat (11/9/2026). Kegiatan ini menjadi salah satu rangkaian peringatan Milad Samudera Pasai ke-800 tahun.
Penanaman perdana dilakukan secara simbolis oleh Bupati Aceh Utara, H. Ismail A. Jalil, SE., MM., atau yang akrab disapa Ayahwa. Kegiatan tersebut turut dihadiri Kapolres Lhokseumawe dan Wakapolres Aceh Utara, serta unsur terkait lainnya.
Kehadiran unsur pemerintah daerah dan aparat keamanan dalam kegiatan tersebut mencerminkan semangat kolaborasi dalam menjaga lingkungan sekaligus merawat kawasan yang memiliki nilai sejarah dan budaya bagi masyarakat Aceh Utara.
Menanam Pohon, Merawat Warisan Sejarah
Pemilihan Kompleks Makam Sultanah Nahrisyah sebagai lokasi penanaman bukan tanpa alasan. Kawasan tersebut merupakan salah satu situs penting yang berkaitan dengan sejarah Samudera Pasai dan menjadi bagian dari jejak perjalanan peradaban Islam di Aceh.
Karena itu, kegiatan penghijauan di kawasan situs sejarah tersebut memiliki dua makna sekaligus. Di satu sisi, penanaman pohon menjadi bagian dari kepedulian terhadap kelestarian lingkungan. Di sisi lain, kegiatan tersebut menjadi pengingat pentingnya menjaga situs-situs peninggalan sejarah agar tetap terawat dan dapat dikenali oleh generasi yang akan datang.
Bagi Aceh Utara, Samudera Pasai bukan hanya bagian dari catatan sejarah, tetapi juga merupakan identitas dan warisan peradaban yang memiliki nilai penting. Upaya menjaga peninggalan tersebut membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk pemerintah dan masyarakat.
Melalui momentum Milad ke-800, semangat tersebut kembali ditegaskan dengan menghadirkan kegiatan yang tidak hanya bersifat seremonial, tetapi memiliki manfaat jangka panjang.
800 Pohon, 800 Tahun, Satu Pesan untuk Masa Depan
Angka 800 dalam rangkaian kegiatan ini memiliki makna simbolis yang kuat. Delapan ratus tahun Samudera Pasai menjadi pengingat perjalanan panjang sebuah peradaban, sedangkan 800 pohon yang ditanam menjadi simbol harapan untuk masa depan.
Setiap pohon yang ditanam hari ini diharapkan dapat tumbuh, memberikan keteduhan, menjaga kualitas lingkungan, sekaligus memperindah kawasan situs sejarah.
Lebih dari itu, kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran masyarakat bahwa menjaga lingkungan dan merawat sejarah merupakan tanggung jawab bersama.
Ketika pohon-pohon tersebut tumbuh besar di kawasan Kompleks Makam Sultanah Nahrisyah, generasi mendatang tidak hanya akan melihat sebuah kawasan yang lebih hijau, tetapi juga dapat memahami pesan yang terkandung di balik penanaman tersebut: bahwa warisan sejarah harus berjalan beriringan dengan kepedulian terhadap lingkungan.
Milad Bukan Sekadar Seremoni
Peringatan Milad Samudera Pasai ke-800 di Kabupaten Aceh Utara diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat berbagai upaya pelestarian sejarah, budaya dan lingkungan secara berkelanjutan.
Semangat memperingati delapan abad Samudera Pasai juga dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan kembali kekayaan sejarah Aceh Utara kepada generasi muda. Dengan demikian, nilai-nilai sejarah tidak berhenti sebagai cerita masa lalu, tetapi dapat menjadi bagian dari kesadaran generasi masa kini dan masa depan.
Penanaman 800 pohon menjadi salah satu bentuk nyata dari semangat tersebut. Sebuah kegiatan sederhana, tetapi menyimpan pesan yang panjang: bahwa memperingati sejarah bukan hanya dengan mengenang apa yang telah terjadi, melainkan juga dengan melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk masa depan.
Delapan abad Samudera Pasai telah menjadi bagian dari perjalanan sejarah Aceh. Kini, 800 pohon ditanam sebagai simbol bahwa warisan masa lalu akan terus dirawat, sementara harapan untuk masa depan terus ditumbuhkan. (Advertorial)






