Menu

Mode Gelap
Menunggu Bantuan di Tengah Lumpur, Jerit Pengungsi Baktiya di Tanggap Darurat Keempat Proyek Pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih di Aceh Utara Masih Tertunda, Baru Capai 53 Persen Menyingkap Akar Bencana: Banjir Bandang Aceh dan Dugaan Okupasi Hutan Ilegal Saat Jalan Terputus, Bantuan Tak Cukup Datang: Apa yang Harus Dilakukan untuk Bener Meriah, Takengon? Aceh Utara Dilanda Banjir Parah, Ayahwa Nilai Perhatian Pemerintah Pusat Belum Maksimal Komunikasi Pemkab Aceh Utara Tersumbat, Penanganan Banjir Dinilai Lambat!

Aceh

Malam zikir perdamian : 20 tahun janji Mou Helsinki yang terus hidup di Aceh

badge-check


					Malam zikir perdamian : 20 tahun janji Mou Helsinki yang terus hidup di Aceh Perbesar

Lhokseumawe, Harianpaparazzi.com — Langit Kamis malam (14/8/2025) di Lhokseumawe terasa berbeda. Dari kejauhan, cahaya lampu Masjid Agung Islamic Centre memantulkan siluet megahnya, seakan menjadi mercusuar spiritual bagi ratusan orang yang perlahan berdatangan sejak sebelum Magrib. Mereka datang dari berbagai penjuru kota, meninggalkan riuh urusan sehari-hari, untuk larut dalam satu tujuan: mengenang, mensyukuri, dan mendoakan perdamaian Aceh yang sudah berumur 20 tahun sejak penandatanganan MoU Helsinki.

Begitu azan Magrib berkumandang, masjid kian padat. Usai salat, lantunan zikir yang dipimpin Tgk. Munzir bersama tim mengalun pelan, lalu menguat, mengisi setiap sudut ruang. Suara itu bukan sekadar rangkaian lafaz, melainkan gema harapan yang ingin terus dihidupkan. Seorang ibu muda di barisan belakang terlihat menahan haru, bibirnya bergerak mengikuti bacaan, sementara tangannya menggenggam erat jemari putranya yang masih kecil.

Di deretan depan, Wali Kota Lhokseumawe, Dr. Sayuti Abubakar, duduk bersila. Tidak ada jarak yang kaku, ia berbaur dengan jamaah, berdampingan dengan tokoh masyarakat, unsur Forkopimda, pimpinan DPRK, pejabat eselon, dan ASN. Malam itu, jabatan tidak menjadi sekat.

“Damai ini amanah yang mahal harganya,” ucap Sayuti dalam sambutannya. “Ia lahir dari keberanian memaafkan, kekuatan untuk berubah, dan keyakinan bahwa masa depan bisa lebih baik dari masa lalu. Perdamaian sejati bukan sekadar berhentinya kekerasan, tapi hadirnya keadilan, penghormatan hak asasi manusia, kesejahteraan, dan partisipasi yang bermakna dalam pembangunan.”

Kata-katanya seperti menegaskan bahwa MoU Helsinki bukan hanya peristiwa sejarah, melainkan napas yang harus terus dijaga.

Acara berlanjut hingga salat Isya berjamaah. Setelah doa penutup, jamaah mulai beranjak, namun gema zikir seolah masih tertinggal di udara. Malam itu, Lhokseumawe menjadi saksi bahwa perdamaian bukan sekadar kenangan yang dibingkai, melainkan janji yang diwariskan, dari generasi yang pernah merasakan getirnya konflik, kepada generasi yang diharapkan hanya mengenalnya dari cerita . (firdaus)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Siltap Aparatur Desa di Aceh Tenggara 4 Bulan Belum Dibayar, Ini Kata Kaban Pengelolaan Keuangan Daerah

12 Januari 2026 - 20:26 WIB

Sebulan Bertahan di Balai Desa, Pengungsi Banjir Baktiya Menanti Hunian Sementara

12 Januari 2026 - 16:19 WIB

Brimob Aceh dan Brimob Banten Gotong Royong Bersihkan Mesjid Di Aceh Utara

10 Januari 2026 - 16:15 WIB

Didampingi Pengacara, Warga Blang Panyang Laporkan Dugaan Perusakan Kebun Libatkan PJ Geuchik

10 Januari 2026 - 16:14 WIB

Proyek Jalan PT Krung Meuh Putuskan Listrik Warga, Kodim dan Danramil Diminta Klarifikasi

10 Januari 2026 - 12:09 WIB

Trending di Aceh