Menu

Mode Gelap
Proyek Pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih di Aceh Utara Masih Tertunda, Baru Capai 53 Persen Menyingkap Akar Bencana: Banjir Bandang Aceh dan Dugaan Okupasi Hutan Ilegal Saat Jalan Terputus, Bantuan Tak Cukup Datang: Apa yang Harus Dilakukan untuk Bener Meriah, Takengon? Aceh Utara Dilanda Banjir Parah, Ayahwa Nilai Perhatian Pemerintah Pusat Belum Maksimal Komunikasi Pemkab Aceh Utara Tersumbat, Penanganan Banjir Dinilai Lambat! Di Balik Lumpur dan Doa Keluarga: Perjalanan Menggetarkan Seorang Wartawan Bener Meriah

Aceh

Dari Krueng Geukuh ke Dataran Tinggi: Alur Bantuan Banjir Menuju Bener Meriah dan Takengon

badge-check


					Dari Krueng Geukuh ke Dataran Tinggi: Alur Bantuan Banjir Menuju Bener Meriah dan Takengon Perbesar

Kreung Geukuh, Harianpaparazzi.com — Penyaluran bantuan bagi korban banjir di Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah (Takengon) terus berlangsung seiring masuknya berbagai logistik ke Posko Pusat Pelabuhan Krueng Geukuh, Aceh Utara, Minggu (28/12/2025). Posko ini menjadi titik konsolidasi bantuan dari luar Aceh yang kemudian didistribusikan ke 17 kabupaten/kota terdampak bencana hidrometeorologi.

Pantauan wartawan di gudang BPBA Krueng Geukuh menunjukkan arus bantuan yang keluar-masuk tanpa henti. Sejumlah truk barang milik TNI dan BPBD kabupaten tampak bergantian mengangkut beras, mi instan, air mineral, minyak goreng, ikan sarden, telur, serta kebutuhan pokok lainnya menuju daerah tujuan.

Salah satu bantuan datang dari PT Kencana Hijau Bina Lestari yang dikirim melalui jalur laut dan diserahkan oleh Mayjen (Purn) TNI Sunarko, mantan Pangdam Iskandar Muda. Bantuan tersebut diprioritaskan untuk Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah yang hingga kini masih mengalami keterisolasian akses darat.

Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), Abdul Aziz, S.H., M.Si., menjelaskan, penempatan bantuan di Pelabuhan Krueng Geukuh bersifat sementara dan tidak boleh berlama-lama. Seluruh logistik harus segera disalurkan karena merupakan bantuan masyarakat yang mendesak untuk pengungsi.

“Bantuan ini belum diserahterimakan ke masing-masing pemerintah daerah, sehingga kami tempatkan di posko pemusatan. Prinsipnya, bantuan tidak boleh tertahan,” kata Abdul Aziz.

BPBA, lanjutnya, memprioritaskan wilayah dengan dampak terparah, yakni Kabupaten Aceh Tamiang, Bener Meriah, Aceh Tengah, dan Aceh Timur. Sementara kabupaten lain seperti Aceh Utara, Kota Lhokseumawe, Pidie, Pidie Jaya, Aceh Tenggara, dan Nagan Raya tetap menerima distribusi bantuan secara merata.

Khusus bantuan dari PT Kencana Hijau Bina Lestari, Abdul Aziz memastikan seluruh logistik tersebut akan habis disalurkan pada hari yang sama ke Bener Meriah dan Takengon. Untuk dua wilayah tersebut, distribusi masih mengandalkan jalur udara menggunakan helikopter karena akses darat belum memungkinkan.

“Kalau untuk Aceh Tengah dan Bener Meriah, distribusi masih menggunakan helikopter. Jalur darat belum bisa diandalkan,” ujarnya.

Memasuki fase tanggap darurat ketiga, BPBA mengakui kebutuhan pangan bagi pengungsi belum sepenuhnya tercukupi. Hal ini dipengaruhi luasnya kerusakan di 17 kabupaten/kota terdampak banjir, mulai dari permukiman, lahan pertanian, hingga fasilitas publik.

Selain pangan, Abdul Aziz menyoroti masih kurangnya kasur dan perlengkapan dasar pengungsi. Tantangan ke depan semakin besar karena dalam waktu dekat masyarakat Aceh akan memasuki bulan suci Ramadhan, yang menuntut kesiapan hunian sementara, pasokan pangan, serta obat-obatan.

“Bagi masyarakat Aceh, Ramadhan adalah waktu ibadah. Pemerintah harus memastikan pengungsi tetap bisa menjalankan ibadah dengan layak,” katanya.

Dalam pendataan BPBA, tingkat kerusakan antarwilayah tidak bisa disamaratakan. Sebagai contoh, Kabupaten Pidie Jaya mengalami kerusakan berat pada areal persawahan yang tertutup lumpur, sehingga memerlukan penanganan khusus pada masa rehabilitasi dan rekonstruksi.

Untuk penyaluran sembako, BPBA menyalurkannya ke posko masing-masing kabupaten. Sementara kebutuhan pangan seperti beras dihitung berdasarkan data kepala desa sesuai jumlah kepala keluarga, bukan ditentukan langsung oleh BPBA.

“Kalau ditanya apakah bantuan pangan sudah cukup, jawabannya belum. Yang penting sekarang, jangan sampai pengungsi kelaparan,” tegas Abdul Aziz.

Ia juga menjamin seluruh bantuan yang dikirim ke Bener Meriah dan Takengon sampai ke tujuan dengan data distribusi yang akurat. Menurutnya, keterlibatan TNI di garis terdepan menjadi kunci pengawasan penyaluran, terutama melalui operasi udara.

Dalam sekali penerbangan, helikopter mampu mengangkut sekitar 500 kilogram logistik. Intensitas penerbangan disesuaikan dengan kesiapan bandara, yakni Bandara Malikussaleh, Bandara Rembele, dan Bandara Sultan Iskandar Muda.

BPBA menegaskan distribusi bantuan akan terus dilakukan setiap hari hingga kebutuhan dasar pengungsi terpenuhi dan akses wilayah terdampak kembali pulih. (firdaus)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Dana Desa Gampong Meunye Peut Disorot: Dugaan Indikasi Penyimpangan Aset, Program Berubah Sepihak, hingga BLT Dipotong Oknum Geuchik

9 Januari 2026 - 15:33 WIB

Tanggul Krueng Peuto Bobol, Ribuan Warga Desa Kumbang Terancam Mengungsi

8 Januari 2026 - 19:47 WIB

Bupati Salim Fakhry Hadiri Panen Raya Jagung Serentak Kuartal I tahun 2026

8 Januari 2026 - 19:01 WIB

Dinilai Cari Panggung, Ketua IPMAT Banda Aceh Dikritik soal Tudingan Penanganan Bencana di Aceh Tenggara Lamban

7 Januari 2026 - 20:42 WIB

Proyek Pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih di Aceh Utara Masih Tertunda, Baru Capai 53 Persen

7 Januari 2026 - 16:12 WIB

Trending di Aceh