Menu

Mode Gelap
Kabar Gubernur Aceh Nikah Lagi Beredar di Medsos, Pemerintah Aceh Belum Beri Klarifikasi Diduga Tanpa Izin Camat dan Pemkab, Geuchik di Nibong Ikuti Bimtek Tertutup ke Medan, Per Desa Dipungut Rp15 Juta Begini Cara Warga Aceh Timur Akhirnya Mendapat Air Minum Layak Pascabanjir Menguak Keadaan di Kuala Simpang: Dua Bulan Pascabanjir, Lumpur dan Sampah Masih Mengurung Permukiman Warga Menunggu Bantuan di Tengah Lumpur, Jerit Pengungsi Baktiya di Tanggap Darurat Keempat Proyek Pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih di Aceh Utara Masih Tertunda, Baru Capai 53 Persen

Aceh

Laut Bukan Tempat Sampah: Sulfur Tumpah, PEMA Cuci Tangan

badge-check


					Laut Bukan Tempat Sampah: Sulfur Tumpah, PEMA Cuci Tangan Perbesar

Langsa – Harianpaparazzi.com
Ada yang salah ketika perusahaan milik rakyat justru bikin rakyat muak. PT Pembangunan Aceh (PEMA), yang katanya dibentuk untuk menyejahterakan Aceh, kini sibuk “menyejahterakan” air laut dengan tumpahan sulfur. Laut menangis, tapi PEMA mungkin terlalu sibuk menghitung lifting dan menyusun presentasi, lupa bahwa yang mereka kelola bukan kolam buatan.

Beberapa hari terakhir, aktivitas lifting sulfur di Pelabuhan Kuala Langsa menjadi buah bibir. Tapi bukan karena profesionalisme, melainkan karena lifting sulfur limbah B3 yang tercecer ke laut tanpa pengawasan oleh management PEMA, dan di lakukan seperti tanpa ada prosedur SOP. Padahal aktifitas yang di lakukan merupakan transportasi limbah B3 yang sangat berbahaya jika dilakukan tanpa menggunakan SOP yang ketat, namun tidak ada penerapan standar safety dari management PEMA. Seolah-olah PP Nomor 22 Tahun 2021 hanya brosur seminar yang bisa diabaikan.

“Saya lihat sendiri, sulfur tumpah ke laut. Tidak ada yang bertindak. Diam saja. Laut ini dianggap halaman belakang mereka,” ujar saksi di lokasi.
“Padahal kegiatan gini udah beberapa kali di lakukan, tapi ga pernah kaya gini, bang.”

Kalau sulfur tumpah ke darat, bisa-bisa heboh. Tapi karena laut diam, semua jadi biasa. Padahal sulfur bukan air kelapa, kalau tumpah bisa merusak pH, membunuh mikroorganisme laut, dan menciptakan gas beracun. Tapi siapa peduli? Asal lifting jalan, asal laporan rapi, soal pencemaran biarlah laut yang tanggung.

Ironisnya, ini bukan sembarang perusahaan swasta. Ini perusahaan milik Pemerintah Aceh. Dibentuk dengan nama besar, tapi bertindak kecil: tak transparan, tak akuntabel, tak profesional, tak peduli lingkungan. PAD? Entah ke mana. Yang jelas, Kuala Langsa kini harus ikut menanggung beban.

Tak ada klarifikasi. Tak ada permintaan maaf. Hanya sunyi dan lembaran kertas yang dicetak untuk formalitas.

Kalau lifting saja dilakukan sembarangan, bagaimana publik bisa percaya bahwa miliaran uang migas tidak ikut menguap bersama bau sulfur?

Rakyat Aceh layak bertanya: ini perusahaan daerah atau pencemar daerah?. Pemerintah Aceh sebagai pemilik PEMA juga harus bertanggung jawab membenahi.

Jika lifting lebih penting daripada lingkungan, jika pencitraan lebih utama daripada keselamatan ekosistem, maka PEMA bukan sedang mengelola sumber daya tapi sedang bermain-main dengan masa depan generasi Aceh.

Ingat, laut bukan tempat sampah. Dan Aceh bukan warisan pribadi atau sekelompok pihak.
Berhentilah mencemari, sebelum rakyat mulai bersuara lebih keras dari ombak. (tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Pembuktian Penggugat Dinilai Lemah dalam Perkara 18/Pdt.G/2025/PN Lhoksukon

21 Januari 2026 - 19:13 WIB

Kabar Gubernur Aceh Nikah Lagi Beredar di Medsos, Pemerintah Aceh Belum Beri Klarifikasi

20 Januari 2026 - 16:40 WIB

Bupati Salim Fakhry Peusijuek, Kapolda Aceh Irjen Pol Marzuki Ali Basyah

20 Januari 2026 - 11:09 WIB

Sekian Lama Terlantar Pasca Banjir, Brimob Aceh Turun Tangan Bersihkan Sekolah Para Penghuni Surga

19 Januari 2026 - 16:53 WIB

Bupati Aceh Tenggara Serahkan Bantuan Masa Panik Korban Kebakaran

18 Januari 2026 - 12:33 WIB

Trending di Aceh