Menu

Mode Gelap
Polres Taput Sita 112 Paket Ganja, 2 Kurir Turut Diamankan  Kejari Batu Bara Bongkar Kasus Proyek Jalan Rp43 Miliar, 12 Terdakwa Dituntut, Negara Rugi Rp6 Miliar Siswa Aceh Tengah Masih Dihantui Longsor, Dua Sekolah Direlokasi Pascabencana DLH Tinjau SPPG Mesjid Punteut, Temukan IPAL Belum Berfungsi Optimal Abu Doto Pergi, Jejak Perdamaian yang Ia Tinggalkan Tetap Hidup di Aceh Kejagung Ungkap Dugaan Mark Up Motor Listrik MBG, Harga Dinaikkan hingga Rp47 Juta per Unit

News

Disinformasi Menjadi Salah Satu Tantangan Serius bagi Masyarakat di Era Post-Truth

badge-check


					Disinformasi Menjadi Salah Satu Tantangan Serius bagi Masyarakat di Era Post-Truth Perbesar

Yogyakarta, harianpaparazzi.com — Dosen Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY), Dr. St. Tri Guntur Narwaya, M.Si, mengingatkan pentingnya cara berpikir lebih kritis dan reflektif untuk menghadapi tantangan disinformasi.

Menurutnya, disinformasi tidak cukup ditangkap sebagai problem komunikasi yang sifatnya teknis dan instrumentalistik. Disinformasi sejatinya adalah mengakar pada watak inhern manusia sendiri.

“Watak ketergantungan akan teknologi, sempitnya lanskap dan ruang perpsektif serta interaksi sosial yang sempit lebih akan mempermudah potensialitas disinformasi akan muncul. Disinformasi akan mudah masif diterima dan diyakini sebagai kebenaran, karena ditunjang dengan watak dasar manusia yang malas untuk mengembangkan refleksivitas cara berpikir yang kritis,” ungkap Guntur Narwaya dalam seminar yang digelar Lembaga Pers Mahasiswa POROS Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, yang berlangsung di Hall Utama Kampus 4 UAD.

Dalam keterangan pers Humas UMBY, Rabu (4/12/2024), Guntur Narwaya menjelaskan situasi ‘burnout’ sangat berelasi dengan hadirnya banyak fenomena disinformasi.

“Banyak aspek kondisi post-truth sendiri. Hilangnya banyak batas antara kebenaran dan manipulasi membuat masyarakat dihadapkan pada fenomena ketidakpastian dan mengaburnya pegangan atas jaminan kebenaran,” ujar Guntur.

Dosen ilmu komunikasi UMBY ini mengatakan, seseorang bisa saja secara psikis dan emosional akan merasakan tekanan keletihan justru bukan karena semata beban kerja, melainkan justru karena manusia kehilangan makna hidupnya, karena watak ketergantungannya pada teknologi digital, yang pada akhirnya menyebabkan keletihan secara psikis dan emosional.

Ia menekankan aspek fundamental penting soal sikap kebutuhan seseorang untuk memiliki ‘silent time’ semacam sikap menjaga jarak untuk lebih reflektif dan kritis dalam memaknai realitas sesuatu.

“Dengan kebiasaan ‘reflektif’ ini sesorang tentu saja tidak akan mudah hanyut dan larut dalam berbagai problem informasi yang bisa jadi justru bermasalah dan jauh dari kebenaran” ucapnya.

Topik seminar diskusi ini mengangkat tentang disinformasi yang menjadi salah satu tantangan serius bagi masyarakat di era post-Truth.

Sementara dalam sub topik lain, Dilla Sekar Kinari, mahasiswa Pendidikan Psokologi UAD memberi beberapa pembahasan mengenai problem krusial anak muda yang sering terjadi yakni tentang fenomena ‘burnout’, yakni kondisi keletihan secara psikis dan emosional karena beban aktifitas kerja tertentu.

Dalam pandangan Dilla, ‘burnout’ akan muncul saat seseorang mengalami sebuah kondisi keletihan tidak hanya fisik namun juga mental dan emosional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Pengungkapan Kasus Narkoba di Deli Serdang, Polisi Sita 5 Paket Sabu dari Tangan SL

24 Juni 2026 - 18:32 WIB

Hasil Panen Lapas Labuhan Ruku Mengalir ke Pesantren, SMSI Batu Bara Jadi Jembatan Kebaikan

23 Juni 2026 - 17:42 WIB

Ketua MPC Pemuda Pancasila Ingatkan Kader: Jangan Cuma Pakai Seragam, Kartu Anggota Juga Harus Beres

21 Juni 2026 - 16:09 WIB

Cegah Kecelakaan, Satlantas Polres Batu Bara Tambal Jalan Berlubang di Jalinsum Simpang Dolok

20 Juni 2026 - 19:04 WIB

Firdaus usulkan SMSI Nahkodai Persiapan dan Pelaksanaan HPN 2026

19 Juni 2026 - 10:40 WIB

Trending di News