Menu ✖

Otomatis
Breaking News

News

Disinformasi Menjadi Salah Satu Tantangan Serius bagi Masyarakat di Era Post-Truth

badge-check

Disinformasi Menjadi Salah Satu Tantangan Serius bagi Masyarakat di Era Post-Truth Perbesar

Yogyakarta, harianpaparazzi.com — Dosen Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY), Dr. St. Tri Guntur Narwaya, M.Si, mengingatkan pentingnya cara berpikir lebih kritis dan reflektif untuk menghadapi tantangan disinformasi.

Menurutnya, disinformasi tidak cukup ditangkap sebagai problem komunikasi yang sifatnya teknis dan instrumentalistik. Disinformasi sejatinya adalah mengakar pada watak inhern manusia sendiri.

“Watak ketergantungan akan teknologi, sempitnya lanskap dan ruang perpsektif serta interaksi sosial yang sempit lebih akan mempermudah potensialitas disinformasi akan muncul. Disinformasi akan mudah masif diterima dan diyakini sebagai kebenaran, karena ditunjang dengan watak dasar manusia yang malas untuk mengembangkan refleksivitas cara berpikir yang kritis,” ungkap Guntur Narwaya dalam seminar yang digelar Lembaga Pers Mahasiswa POROS Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, yang berlangsung di Hall Utama Kampus 4 UAD.

Dalam keterangan pers Humas UMBY, Rabu (4/12/2024), Guntur Narwaya menjelaskan situasi ‘burnout’ sangat berelasi dengan hadirnya banyak fenomena disinformasi.

“Banyak aspek kondisi post-truth sendiri. Hilangnya banyak batas antara kebenaran dan manipulasi membuat masyarakat dihadapkan pada fenomena ketidakpastian dan mengaburnya pegangan atas jaminan kebenaran,” ujar Guntur.

Dosen ilmu komunikasi UMBY ini mengatakan, seseorang bisa saja secara psikis dan emosional akan merasakan tekanan keletihan justru bukan karena semata beban kerja, melainkan justru karena manusia kehilangan makna hidupnya, karena watak ketergantungannya pada teknologi digital, yang pada akhirnya menyebabkan keletihan secara psikis dan emosional.

Ia menekankan aspek fundamental penting soal sikap kebutuhan seseorang untuk memiliki ‘silent time’ semacam sikap menjaga jarak untuk lebih reflektif dan kritis dalam memaknai realitas sesuatu.

“Dengan kebiasaan ‘reflektif’ ini sesorang tentu saja tidak akan mudah hanyut dan larut dalam berbagai problem informasi yang bisa jadi justru bermasalah dan jauh dari kebenaran” ucapnya.

Topik seminar diskusi ini mengangkat tentang disinformasi yang menjadi salah satu tantangan serius bagi masyarakat di era post-Truth.

Sementara dalam sub topik lain, Dilla Sekar Kinari, mahasiswa Pendidikan Psokologi UAD memberi beberapa pembahasan mengenai problem krusial anak muda yang sering terjadi yakni tentang fenomena ‘burnout’, yakni kondisi keletihan secara psikis dan emosional karena beban aktifitas kerja tertentu.

Dalam pandangan Dilla, ‘burnout’ akan muncul saat seseorang mengalami sebuah kondisi keletihan tidak hanya fisik namun juga mental dan emosional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Tata Kelola Wali Nanggroe Jadi Perhatian dalam Evaluasi Kekhususan Aceh

30 Sep 2026 - 21:36 WIB

Tata Kelola Wali Nanggroe Jadi Perhatian dalam Evaluasi Kekhususan Aceh

TNI AL Sabet Penghargaan Ganda Pemprov Kepri

25 Sep 2026 - 17:57 WIB

TNI AL Sabet Penghargaan Ganda Pemprov Kepri

Meski Telah Kantongi Putusan Bebas MA, Rido Panjaitan Masih Mendekam di Rutan dan Keluarga Ajukan Penangguhan ke Ketua PN Medan

25 Sep 2026 - 14:08 WIB

Meski Telah Kantongi Putusan Bebas MA, Rido Panjaitan Masih Mendekam di Rutan dan Keluarga Ajukan Penangguhan ke Ketua PN Medan

Polres Taput Tetapkan RBS Tersangka Cabul Terhadap Putri Kandung

23 Sep 2026 - 15:05 WIB

Polres Taput Tetapkan RBS Tersangka Cabul Terhadap Putri Kandung

Putusan Kasasi Mahkamah Agung Tegaskan Kasus Bimtek Guru Batu Bara 2024 Bukan Korupsi, Rido Panjaitan Resmi Bebas

23 Sep 2026 - 08:11 WIB

Putusan Kasasi Mahkamah Agung Tegaskan Kasus Bimtek Guru Batu Bara 2024 Bukan Korupsi, Rido Panjaitan Resmi Bebas
Trending di News