Menu

Mode Gelap
Aparat Gagalkan Pengiriman 2 Kg Sabu, Tersangka Disergap di Tol RSUD Cut Meutia Gratiskan Biaya Perawatan Korban Penusukan di Aceh Utara Sanksi Tegas ASN yang Menyalahgunakan WFH, Bisa Berujung Pemecatan Gerakan Peduli Keadilan Layangkan Petisi ke Pejabat Aceh Timur dan BNPB Pusat, Tuntut Hak Korban Banjir Dipenuhi Banjir dan Longsor Terjang Sejumlah Wilayah Sumatera, Aceh Tengah hingga Medan Terdampak Jangan Panik! Harga BBM Pertamina April 2026 Tetap, Ini Rincian Tarif di Sejumlah Daerah

Aceh

Menguak Huntara Mangkrak di Lhok Puuk: Upah Tukang Tertahan, Korban Banjir Terkatung

badge-check


					Menguak Huntara Mangkrak di Lhok Puuk: Upah Tukang Tertahan, Korban Banjir Terkatung Perbesar

Lhoksukon, Harianpaparazzi.com – Jeritan korban banjir di Desa Lhok Puuk, Kecamatan Seunuddon, kian nyaring terdengar. Hampir lima bulan pascabencana, ratusan kepala keluarga belum juga menempati hunian sementara (huntara) yang dijanjikan. Di balik keterlambatan itu, muncul dugaan persoalan serius: pekerjaan belum tuntas akibat sisa pembayaran kepada pekerja yang belum dilunasi.

Sebanyak 133 unit huntara yang diperuntukkan bagi sekitar 543 kepala keluarga hingga kini belum sepenuhnya siap ditempati. Sejumlah pekerja mengaku masih menunggu sisa pembayaran sekitar Rp90 juta dari pihak vendor, terutama untuk pekerjaan instalasi listrik, septic tank, dan sumur bor. Proyek yang berada di bawah penanganan langsung BNPB ini disebut berjalan melalui beberapa lapis subkontrak, dari vendor hingga pekerja lapangan, yang berpotensi memperpanjang rantai tanggung jawab.

Mantan Kepala Desa Lhok Puuk, T. Bahktiar, minggu (20/04), menyebut sebagian fasilitas huntara sebenarnya telah tersedia, namun masih ada pekerjaan kecil yang belum rampung. Ia juga mengakui adanya upah pekerja yang belum dibayar penuh. “Kalau ini tidak segera diselesaikan, wajar muncul kecurigaan di lapangan. Warga sudah terlalu lama menunggu,” ujarnya.

Menurutnya, komunikasi dengan pihak vendor terputus sejak awal pekerjaan berlangsung. Bahkan, vendor disebut tidak pernah turun langsung memantau progres di lapangan. Kondisi ini diperparah dengan pergantian koordinator lapangan dari BNPB yang membuat koordinasi semakin sulit. Sementara itu, warga masih bertahan di rumah kerabat, menyewa tempat tinggal, atau bahkan di tenda pengungsian.

Sementara Kepala desa menyebut warga kemungkinan baru bisa menempati huntara pada pekan depan, dengan catatan seluruh pekerjaan tersisa dapat diselesaikan. Namun, keterlambatan ini memunculkan pertanyaan lebih luas: bagaimana pengawasan proyek dilakukan, ke mana aliran anggaran, serta siapa yang bertanggung jawab atas tertundanya hak korban dan pekerja.

Di tengah kondisi desa yang juga terdampak abrasi dan masih terisolasi, persoalan huntara bukan sekadar keterlambatan proyek. Ini menyangkut kepastian hidup ratusan keluarga yang hingga kini masih menunggu tempat berlindung yang layak. Sementara ketika wartawan Paparazi.com, mengorimasikan hal itu ke pihak vendor yang benama Dedi melalui no hpnya, sama sekali tidak terhubung. (firdaus)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Kejari Aceh Timur Dalami Dugaan Pengalihan Lahan dan Tidak Setor PAD oleh KSO PT Wajar Corpora

17 April 2026 - 21:20 WIB

Kapolda Aceh Terima Audiensi Dekan Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Aceh

17 April 2026 - 15:12 WIB

Pembukaan Lahan Sawit Masif Picu Banjir, Petani Menjerit Menanggung Kerugian

16 April 2026 - 17:08 WIB

Janji Bantuan Mengalir, Petani Menjerit Gagal Tanam di Aceh Utara

16 April 2026 - 15:18 WIB

“Paktam” Harus Dievaluasi: Konten TikTok di Jam Dinas dan Informasi Keliru Ancam Citra Bupati Aceh Utara

11 April 2026 - 23:50 WIB

Trending di Aceh