Kuala Simpang, Harianpaparazzi.com – Memasuki bulan ketiga pascabanjir, distribusi air bersih di Kabupaten Aceh Tamiang mulai bergerak pulih. Namun di sejumlah titik, terutama wilayah Kota Kuala Simpang, air yang mengalir masih tampak keruh dan belum layak konsumsi. Di tengah masa rehabilitasi dan rekonstruksi, kebutuhan air bersih tetap menjadi persoalan mendasar bagi masyarakat.
Direktur PDAM Tirta Tamiang, Juanda, Rabu (04/03), menjelaskan pihaknya melayani pelanggan di 12 kecamatan dengan dukungan delapan unit Water Treatment Plant (WTP). Dari jumlah tersebut, belum seluruhnya berfungsi optimal akibat kerusakan mesin dan jaringan distribusi pascabanjir. Hingga kini, layanan baru mencapai sekitar 58 persen.
Data PDAM mencatat total pelanggan sebanyak 29.572 sambungan rumah, namun yang sudah kembali terlayani baru 16.163 pelanggan. Sementara itu, 24.041 unit water meter dilaporkan mengalami kerusakan. Kerusakan jaringan juga dipicu proses normalisasi saluran oleh alat berat yang berdampak pada patahnya pipa distribusi di sejumlah kecamatan.
Juanda mengakui, kualitas air di beberapa titik belum memenuhi standar konsumsi, salah satunya di Kuala Simpang. Kerusakan total filter Instalasi Pengolahan Air (IPA) menjadi penyebab utama. Selain itu, keterbatasan bahan kimia pengolahan memperlambat pemulihan kualitas air. Untuk enam bulan masa pemulihan, PDAM membutuhkan tawas antara 229 hingga 294 ton serta 35 ton kaporit. Saat ini, stok bahan kimia dilaporkan habis.

Di sisi sosial, pasokan air untuk warga yang masih bertahan di tenda pengungsian dan kebutuhan sosial lainnya disebut diberikan secara gratis tanpa pembedaan. Namun Juanda belum dapat memastikan kapan distribusi air akan kembali normal sepenuhnya. Pihaknya masih melobi sejumlah NGO dalam negeri guna membantu pengadaan material dan bahan kimia.
Bagi warga, air bersih bukan sekadar layanan publik, tetapi menyangkut kesehatan, aktivitas ekonomi rumah tangga, hingga ibadah. Di wilayah yang secara geografis berada di hilir aliran sungai dan terdampak sedimentasi berat, pemulihan sistem air bersih menjadi pekerjaan teknis sekaligus sosial yang mendesak.
Pemerintah daerah melalui PDAM menegaskan upaya perbaikan terus berjalan. Namun publik kini menanti kepastian waktu, transparansi data produksi, serta jaminan kualitas air yang aman dikonsumsi. Dalam konteks pemulihan pascabencana, keberhasilan distribusi air bersih menjadi indikator nyata hadirnya negara di tengah masyarakat. (firdaus)








