Menu

Mode Gelap
Abdul Halim Dituding Gelapkan Uang Organisasi, Bendahara Ungkap Fakta Mengejutkan Dugaan Penyimpangan Dana Organisasi, PWI Aceh Ambil Alih Kepengurusan PWI Aceh Utara Menguak Krisis Air Bersih Kuala Simpang: Dua Jam Mengalir, Lima Hari Menunggu Kabar Gubernur Aceh Nikah Lagi Beredar di Medsos, Pemerintah Aceh Belum Beri Klarifikasi Diduga Tanpa Izin Camat dan Pemkab, Geuchik di Nibong Ikuti Bimtek Tertutup ke Medan, Per Desa Dipungut Rp15 Juta Begini Cara Warga Aceh Timur Akhirnya Mendapat Air Minum Layak Pascabanjir

News

Pendidikan Aceh Tamiang Menjerit, Sekolah Rusak Parah PascabanjirInilah Potret Dunia Pendidikan yang Masih Tertimbun Lumpur

badge-check


					Pendidikan Aceh Tamiang Menjerit, Sekolah Rusak Parah PascabanjirInilah Potret Dunia Pendidikan yang Masih Tertimbun Lumpur Perbesar

Aceh Tamiang, Harianpaparazzi.com – Dunia pendidikan di Kabupaten Aceh Tamiang masih menjerit pascabencana banjir bandang yang melanda wilayah tersebut pada 24 November 2025 lalu. Hingga awal Februari 2026, sejumlah sekolah di Kota Kuala Simpang dan beberapa kecamatan lain masih bergelut dengan kerusakan berat, lumpur tebal, serta keterbatasan sarana belajar mengajar.

Salah satu sekolah yang terdampak parah adalah SD Negeri 1 Kuala Simpang, bangunan tua peninggalan era Belanda yang terdiri dari dua lantai. Sekolah ini terendam lumpur lebih dari satu meter. Hingga Jumat (06/02/2026), proses pembersihan masih terus dilakukan dengan bantuan alat berat, relawan, serta personel TNI. Aktivitas pembersihan tersebut telah berlangsung hampir dua bulan terakhir.

Kerusakan fisik bangunan hanyalah satu sisi dari persoalan. Di sisi lain, ribuan siswa terpaksa mengikuti proses belajar mengajar dalam kondisi serba terbatas, sebagian tanpa meubelair, bahkan belajar di tenda-tenda darurat. Situasi ini menjadi beban tambahan bagi orang tua murid yang juga terdampak langsung secara ekonomi akibat bencana.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Aceh Tamiang, Sepriyanto, mengatakan secara umum proses belajar mengajar di sekolah terdampak sudah kembali berjalan, meski belum sepenuhnya normal.
“Sebagian sekolah sudah mulai beraktivitas kembali, walaupun tanpa mobilier dan masih menggunakan tenda darurat. Untuk sekolah yang tidak memungkinkan melaksanakan kegiatan belajar mengajar, akan direlokasi ke lokasi lain yang lebih aman, seiring perpindahan pemukiman warga,” ujarnya.

Menurut Sepriyanto, sekitar 85 persen meubelair sekolah rusak berat, sehingga sangat membutuhkan dukungan anggaran dari pemerintah pusat. Ia berharap realisasi bantuan dapat dilakukan paling tidak pada bulan Juni atau Juli mendatang.
“Kalau tidak segera dipenuhi, ini berpotensi menurunkan kualitas pendidikan di Aceh Tamiang,” katanya.

Data Dinas Pendidikan mencatat, 85 persen sekolah di Aceh Tamiang terdampak langsung banjir bandang. Total bangunan pendidikan yang mengalami kerusakan berat, sedang, dan ringan mencapai 389 unit, terdiri dari 217 PAUD, 155 SD, dan 47 SMP, termasuk satuan pendidikan nonformal seperti SKB dan PKBM.

Foto: Kondisi terkini lumpur yang menutupi gedung sekolah SDN 1 Kuala Simpang. (6/2)

Tak hanya bangunan, hampir 90 persen peralatan pendidikan digital seperti layar interaktif, smart TV, dan Chromebook dilaporkan rusak berat. Kondisi ini dinilai mengancam keberlanjutan program digitalisasi pendidikan di daerah tersebut.

Dampak bencana juga dirasakan langsung oleh sumber daya manusia pendidikan. Sekitar 42 ribu siswa dan 5 ribu guru tercatat terdampak langsung. Bahkan, tujuh siswa dan tiga guru dilaporkan meninggal dunia akibat bencana tersebut.

Selain kerugian material, persoalan trauma psikologis juga menjadi perhatian. Sepriyanto mengakui pemulihan trauma klinis bagi guru dan siswa masih dilakukan secara terbatas.
“Pemulihan trauma sejauh ini dilakukan seadanya. Kami berharap pemerintah daerah, pemerintah pusat, serta lembaga swadaya masyarakat dapat memberikan pendampingan trauma klinis psikis secara bertahap,” ujarnya.

Sementara itu, bantuan perlengkapan sekolah dari pemerintah pusat, BNPB, Kementerian Pendidikan, dan Kementerian Dalam Negeri memang sudah berjalan. Namun, dengan skala dampak yang begitu besar, bantuan tersebut dinilai masih jauh dari cukup.

Di tengah lumpur yang belum sepenuhnya kering, dunia pendidikan Aceh Tamiang kini menunggu lebih dari sekadar janji. Mereka menanti kepastian, kehadiran negara, dan keberpihakan nyata agar ruang kelas kembali menjadi tempat harapan, bukan sekadar tenda darurat yang menahan waktu. (firdaus)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Polri Turun Tangan Perkuat Ketahanan Pangan, Rakor Bahas Pengawalan Produksi dan Distribusi

6 Februari 2026 - 21:57 WIB

Belum Genap Dua Pekan Menjabat, Kompol Fery Kusnadi Ungkap 30 Kasus Narkoba di Deli Serdang

4 Februari 2026 - 09:33 WIB

Aksi Satresnarkoba Polres Batu Bara Dini Hari Berujung Penangkapan Dua Pemuda

30 Januari 2026 - 12:27 WIB

Dari Sumut ke Dunia Internasional, Febby Chintya Simanjuntak Bersinar di CYLC 2026

30 Januari 2026 - 11:48 WIB

Tingkatkan Kualitas Pendidikan Dasar, Kejaksaan Negeri Batu Bara Gelar Jaksa Mengajar Bahasa Inggris

29 Januari 2026 - 11:39 WIB

Trending di News