Kuala Simpang, Harianpaparazzi.com — Dua bulan setelah banjir besar melanda Aceh Tamiang, jerit warga belum benar-benar reda. Di Kampung Perdamaian, Kuala Simpang, lumpur yang mengering, tumpukan sampah rumah tangga, dan perabot rusak masih mengurung permukiman padat penduduk, membuat lingkungan jauh dari kata layak huni.
Pantauan di lapangan menunjukkan, lorong-lorong sempit di kawasan tersebut belum sepenuhnya pulih. Kasur, lemari kayu, kursi, pakaian, hingga puing rumah tangga rusak masih berserakan di depan rumah warga. Lumpur kecokelatan menempel di dinding dan lantai rumah, menyisakan aroma tak sedap dan potensi gangguan kesehatan.
Aktivitas warga pun berjalan terbatas. Sebagian terlihat menjemur pakaian di pagar rumah, sementara anak-anak melintas di gang-gang yang belum sepenuhnya bersih. Pembersihan lingkungan masih banyak mengandalkan swadaya masyarakat, dibantu relawan dan aparat setempat, namun belum mampu mengembalikan kondisi permukiman seperti sebelum banjir.

Kepala Dusun Kenangan, Desa Perdamaian, Syahrial, mengakui sisa lumpur dan sampah yang menumpuk menimbulkan kekhawatiran serius, terutama bagi anak-anak dan lansia. Bau menyengat masih tercium, khususnya saat cuaca panas, yang dikhawatirkan memicu penyakit pascabanjir.
Masalah lain yang belum teratasi adalah keterbatasan air bersih. Pasokan air PDAM masih mengalir pada jam-jam tertentu dan belum mencukupi kebutuhan warga untuk membersihkan rumah. Kondisi ini memaksa sebagian warga menunda pembersihan, bahkan tidak memiliki pilihan selain buang air besar sembarangan karena rumah dan MCK belum layak digunakan.
Data mencatat, Desa Sriwijaya dihuni 928 kepala keluarga atau 3.092 jiwa, sementara Kampung Perdamaian tercatat 628 kepala keluarga, dan Kota Lintang juga mengalami dampak cukup parah. Di tengah jumlah warga yang besar itu, bantuan yang diterima sejauh ini masih didominasi beras, sementara kebutuhan lain seperti telur, minyak goreng, sabun mandi, odol, kelambu, hingga alat kerja seperti cangkul dan sekop dinilai belum mencukupi.
Seketaris Desa Sriwijaya, Rio mengatakan, pihaknya membutuhkan WC figer glass, karena terdapat kamar mandi rumah penduduk mengalami kerusakan. “ kita butuh wc figer glass, untuk kita tempatkan di lorong-lorong rumah. Begitu juga pasokan air bersih, karena pasokan air dari PDAM dalam satu hari hanya 1 hingga 2 jam. Selain itu, air PDAM juga masih keruh. ”
Dia menyebutkan, keterbatasan alat berat dan sarana pendukung menjadi kendala utama pembersihan pascabanjir. Lorong-lorong sempit di permukiman padat membutuhkan alat berat berukuran kecil, bukan alat konvensional yang hanya bisa beroperasi di jalan utama.
Memasuki tanggap darurat keempat, warga berharap penanganan pascabencana tidak berhenti pada distribusi logistik awal. Mereka mendesak percepatan pembersihan lingkungan, penyediaan MCK portable berbahan fiber glass, tambahan pasokan air bersih, serta kejelasan bantuan lanjutan bagi rumah yang rusak ringan, sedang, maupun berat. (Firdaus)







