Menu

Mode Gelap
Menguak Krisis Air Bersih Kuala Simpang: Dua Jam Mengalir, Lima Hari Menunggu Kabar Gubernur Aceh Nikah Lagi Beredar di Medsos, Pemerintah Aceh Belum Beri Klarifikasi Diduga Tanpa Izin Camat dan Pemkab, Geuchik di Nibong Ikuti Bimtek Tertutup ke Medan, Per Desa Dipungut Rp15 Juta Begini Cara Warga Aceh Timur Akhirnya Mendapat Air Minum Layak Pascabanjir Menguak Keadaan di Kuala Simpang: Dua Bulan Pascabanjir, Lumpur dan Sampah Masih Mengurung Permukiman Warga Menunggu Bantuan di Tengah Lumpur, Jerit Pengungsi Baktiya di Tanggap Darurat Keempat

Aceh

Listrik Aceh Utara Belum Pulih: Ribuan Warga Hidup dalam Gelap, PLN Akui Sinkronisasi Pembangkit Gagal Total

badge-check


					Listrik Aceh Utara Belum Pulih: Ribuan Warga Hidup dalam Gelap, PLN Akui Sinkronisasi Pembangkit Gagal Total Perbesar

Lhokseumawe, Harianpaparazzi.com — Hampir sebulan setelah bencana hidrometeorologi melanda Aceh dan sejumlah wilayah Sumatera, gelap masih menjadi “lampu malam” bagi puluhan ribu warga di Kabupaten Aceh Utara. Di Seunuddon, Jambo Aye, Langkahan, Baktiya hingga pedalaman Baktiya Barat, malam datang tanpa listrik; siang pun tetap suram.

Meski Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut pasokan listrik Aceh sudah pulih 93 persen, fakta lapangan berkata sebaliknya. Pantauan Paparazi.com dalam sepekan terakhir menunjukkan ribuan rumah penduduk belum dialiri listrik sejak banjir besar Desember lalu. Pasokan hanya hidup 2–4 jam, itu pun tidak tentu kadang pagi, kadang siang, kadang larut malam.

Warga yang kehilangan rumah, harta, dan anggota keluarga kini harus berjuang pula dengan gelap yang tak tahu kapan akan berakhir. “Kami hidup seperti kembali ke tahun 70-an,” ujar Rahmat, warga pedalaman Seunuddon yang rumahnya hilang disapu banjir. “Kalau malam, gelap total. Anak-anak ketakutan, kami pun tak bisa mengisi baterai HP untuk mencari informasi. Mentri bilang listrik normal, tapi kami di sini tidak merasakannya.”

Jaringan Rubuh, Pembangkit Jatuh, Sinkronisasi Gagal

Di tengah keluhan warga, PLN UP3 Lhokseumawe akhirnya buka suara. Manager PLN UP3 Lhokseumawe, Husni, S.E., M.T., mengakui bahwa pihaknya tidak bisa memastikan kapan listrik kembali normal.

Menurutnya, akar persoalan bukan hanya putusnya jaringan tegangan rendah dan menengah, tetapi gagal totalnya proses sinkronisasi antara PLTMG Arun (350 MW) dan PLTU Nagan Raya (750 MW) yang sudah dicoba berhari-hari. “Sinkronisasi dengan Nagan Raya belum sekali pun berhasil,” kata Husni. “Persoalan terletak pada tumbangnya 13 tower SUTET dari Pangkalan Brandan hingga Bireuen. Dengan kondisi begini, pasokan tidak akan normal kalau tidak ada topangan dari Sumut dan Nagan Raya.” Ia menampik anggapan bahwa PLN Aceh bekerja di bawah tekanan manajemen pusat. Namun ia mengakui satu hal “Kalau membangun tower SUTET sesuai konstruksi normal, satu tower butuh tiga bulan. Ada 13 tower tumbang. Jadi bayangkan waktu yang dibutuhkan.”

Tower Darurat: “Seperti Jembatan Bailey, Bisa Dipakai Tapi Risiko Tinggi”


Untuk mengatasi putusnya jaringan transmisi 150–275 kV, Tower SUTET di Bireuen dan Kuala Simpang diganti tower darurat model tiang tunggal. Jaringan dari Pangkalan Brandan (Sumut) ke Langsa sedang dikebut dengan system one-line emergency tower.

Pekerjaan harus berpacu dengan cuaca ekstrem.
Husni tidak menutupinya “Ini seperti jembatan Bailey. Dipakai dulu agar masyarakat tidak menyeberang pakai perahu. Tapi risikonya tetap besar.” Sinkronisasi baru direncanakan ulang pada 19–22 Desember, namun tak ada jaminan akan berhasil.

Petugas Bekerja Tanpa Standar Keselamatan, Banyak dari Mereka Juga Korban Banjir
Meski akses terputus oleh longsor dan jembatan ambruk, para petugas PLN tetap bekerja tanpa menunggu kondisi ideal. Dalam sebuah foto yang diperoleh Paparazi.com, terlihat petugas PLN memanggul trafo di medan perbukitan menuju Bener Meriah, berjalan kaki berkilometer karena kendaraan tak bisa masuk. Husni mengakui “Kami terpaksa mengabaikan sebagian standar K3. Bukan karena kami ingin, tetapi keadaan memaksa. Banyak petugas kami juga kehilangan rumah, keluarganya masih di pengungsian. Tapi tanggung jawab ini tetap kami jalankan.”

Kerusakan Gigantis: Tiang 5 Ribu, Trafo 3 Ribu, Kerugian Hampir Rp5 Triliun


Data PLN UP3 Lhokseumawe menunjukkan, 1.000 tiang tegangan menengah rusak4.000 tiang tegangan rendah tumbang, 2.500–3.000 unit trafo rusak, Kerugian mencapai hampir Rp5 triliun, Beban puncak turun 50% karena ribuan rumah hilang. Pasokan yang tersedia hanya 40 MW, mayoritas dari PLTMG Arun. Upaya terbesar kini dipusatkan di Bireuen, titik kritis interkoneksi Aceh–Sumut. Sementara daerah tinggi seperti Takengon baru menerima 2 MW aliran listrik — cukup hanya untuk fasilitas dasar.

Warga Bertahan di Tengah “Malam Panjang Aceh Utara”


Di pedalaman Lhoksukon, Meurah Mulia, Tanah Luas hingga Nibong, warga hanya berharap satu hal kejelasan. “Kami tidak minta cepat. Kami hanya minta jujur,” kata Nurhayati, ibu tiga anak yang rumahnya rusak di Paya Bakong. “Kalau butuh sebulan, bilang sebulan. Kalau butuh tiga bulan, bilang tiga bulan. Jangan bilang sudah 93 persen, padahal kami masih hidup dalam gelap.”

Harapan Terakhir: Sinkronisasi dari Arah Medan
Dengan gagalnya skema Arun–Nagan Raya, satu-satunya opsi tinggal menghidupkan Aceh melalui jalur Sumatera Utara Pangkalan Brandan, Langsa, Arun, dengan menggunakan Tower darurat one-line 150 kv, di mana Target pengerjaan 19–22 Desember dengan Status keberhasilan: belum pasti.

Husni menutup wawancara dengan penuh kejujuran


“Kami tidak bekerja karena tekanan, Ini moral kami. Kami tahu masyarakat menderita. Karena itu kami akan tetap bekerja meskipun kami sendiri korban.” (firdaus)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Ketika Proyek Negara Takut pada Wartawan

31 Januari 2026 - 13:50 WIB

Haikal Hanyut di Sungai Kuala Simpang, Diselamatkan Taruna Akpol Peserta Latsitardanus

31 Januari 2026 - 12:39 WIB

Aroma Kejanggalan Proyek Lapas Lhokseumawe: Wartawan Diusir Saat Ungkap Progres Pasca Kontrak

30 Januari 2026 - 22:11 WIB

Taruna Akpol Peserta Latsitardanus XLVI Bantu Operasional Dapur Lapangan di POSCO Pengungsian Aceh Tamiang

29 Januari 2026 - 18:35 WIB

PWI Lhokseumawe Gelar Konferensi II, Momentum Regenerasi dan Penguatan Peran Pers

29 Januari 2026 - 11:53 WIB

Trending di Aceh