Lhoksukon, Harianpaparazzi.com – Di satu sisi Bulog mengklaim mampu menjaga pasokan dan harga beras dengan serapan gabah yang berlimpah. Namun di sisi lain, pengepul dan pedagang lokal justru mengeluh sulit mendapatkan gabah, bahkan terpaksa menggiling beras di bawah standar kualitas.
Peran Bulog kembali menjadi sorotan setelah menyerap gabah petani dalam jumlah besar di wilayah timur Aceh Utara. Serapan yang diklaim untuk stabilisasi pangan ini justru menimbulkan keluhan dari pengepul dan pedagang beras lokal. Mereka mengaku kesulitan memperoleh gabah sehingga terpaksa menggiling beras dengan kualitas di bawah standar, yang akhirnya merugikan mereka.
Seorang pengepul di Kecamatan Baktiya menyebut harga gabah di tingkat petani kini Rp6.500 per kilogram. Namun saat sampai di penggilingan, modal mereka membengkak karena harus menambah Rp1.000 per kilogram untuk biaya proses, sementara hasil beras yang didapat tidak sesuai standar pasar. “Kami rugi, karena gabah semakin sulit, sementara Bulog menyerap lebih banyak,” katanya.
Pantauan wartawan Paparazi.com, dugaan pedagang tersebut tampak benar adanya. Salah satu gudang besar milik pengusaha lokal, M. Noor, di Desa Alue Bili Rayeuk, Kecamatan Baktiya, terlihat penuh dengan stok beras. Para pekerja di gudang mengakui beras tersebut milik Bulog, meski mereka menolak memperlihatkan contoh kualitas beras yang disimpan.
Kritik juga datang dari kalangan legislatif. Anggota Komisi II DPRK Aceh Utara sempat menyoroti pola pembelian Bulog yang dianggap tidak transparan. Selain membeli gabah dalam jumlah besar saat panen gadu di Seunuddon, pembayaran pun tidak dilakukan secara tunai.
Kepala Bulog Sub Divre Lhokseumawe, Muhammad Iqbal, tidak menampik kritik itu. Ia menjelaskan bahwa pihaknya membeli gabah melalui Gapoktan sesuai data pembelian. “Pembayaran dilakukan setelah penimbangan, biasanya sore hari setelah panen,” ujarnya.
Soal stok berlimpah di gudang M. Noor, Iqbal menyebut gudang itu dipakai Bulog dengan sistem sewa maupun pinjam pakai. Hal ini dilakukan karena kapasitas gudang resmi Bulog di Punteut hanya 14.000 ton, sementara hasil serapan mencapai 35.000 ton. “Ada kekurangan 21.000 ton, sehingga kami perlu sewa gudang swasta. Jika ada pemilik gudang tidak perlu sewa, kami lakukan pinjam pakai,” katanya.
Namun, Iqbal tidak merinci besaran biaya sewa gudang dan mekanismenya. Ia hanya menegaskan, “Bulog sudah melepas 3.000 ton untuk bantuan pangan, stabilisasi pasokan, dan distribusi ke toko, PT Pos, PT PIM, Polres, Brimob, Kodim, dan koperasi.”
Ketika ditanya soal jaminan kualitas beras yang disimpan hingga enam bulan ke depan, Iqbal menyebut ada metode perawatan seperti spraying per bulan dan fumigasi setiap tiga bulan.
Meski Bulog memastikan stok aman, harga beras di pasar tetap melonjak. Di Pasar Inpres Lhokseumawe, Panton Labu, dan Matang Kuli, harga beras medium yang sebelumnya Rp186.000 per sak 15 kg kini naik menjadi Rp210.000. Sedangkan beras premium berkisar Rp230.000–Rp240.000 per sak 15 kg, lebih mahal dibanding sebelum Lebaran.
Menurut pedagang kecil, Kondisi ini memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat, apakah penyerapan besar-besaran oleh Bulog justru meminggirkan pedagang lokal dan membuka ruang spekulasi harga Dari sisi ekonomi, Bulog diuntungkan dengan stok besar, tetapi pedagang kecil tertekan modal dan kualitas. Dari sisi sosial, masyarakat khawatir kenaikan harga makin memberatkan, meski stok di gudang melimpah. Dari sisi psikologi, kepercayaan publik terhadap Bulog tergerus karena ada kesan tidak transparan soal sewa gudang dan mekanisme serapan. Dari sisi geografi, wilayah timur Aceh Utara kini menjadi pusat pergulatan antara stabilisasi pangan nasional versus kerugian lokal.
Bulog memastikan stok beras di Aceh Utara aman dengan berbagai metode penyimpanan. Namun keluhan pedagang lokal, kritik legislatif, dan kenaikan harga beras di pasar menimbulkan pertanyaan besar: apakah serapan besar Bulog benar-benar menstabilkan pasar, atau justru mengganggu ekosistem perdagangan beras di daerah. (firdaus)