Menu

Mode Gelap
Aparat Gagalkan Pengiriman 2 Kg Sabu, Tersangka Disergap di Tol RSUD Cut Meutia Gratiskan Biaya Perawatan Korban Penusukan di Aceh Utara Sanksi Tegas ASN yang Menyalahgunakan WFH, Bisa Berujung Pemecatan Gerakan Peduli Keadilan Layangkan Petisi ke Pejabat Aceh Timur dan BNPB Pusat, Tuntut Hak Korban Banjir Dipenuhi Banjir dan Longsor Terjang Sejumlah Wilayah Sumatera, Aceh Tengah hingga Medan Terdampak Jangan Panik! Harga BBM Pertamina April 2026 Tetap, Ini Rincian Tarif di Sejumlah Daerah

Aceh

Bahu Jalan Jadi Liang Kubur: Investigasi Proyek Asal Jadi di Aceh Utara & Bireuen”

badge-check


					Bahu Jalan Jadi Liang Kubur: Investigasi Proyek Asal Jadi di Aceh Utara & Bireuen” Perbesar

Lhokseumawe, Harianpaparazzi.com – Jerit keluarga korban belum juga reda, tapi bahu jalan terus menganga jadi liang kubur. Di Aceh Utara dan Bireuen, tubuh-tubuh terpental bukan karena kecepatan, melainkan karena aspal yang mengelupas dan berem jalan yang busuk—dibiarkan rusak seakan nyawa manusia tak lebih mahal dari setetes solar proyek.
Jalan nasional yang menghubungkan Kabupaten Aceh Utara dan Bireuen kembali memakan korban. Dalam empat bulan terakhir, dua nyawa melayang dan satu orang dalam kondisi kritis. Semua akibat satu masalah yang sama: bahu jalan dan berem rusak parah, proyek asal jadi, dan pengawasan teknis yang longgar.

Di Desa Mancang, Kecamatan Samudra, Geudong, Geuchik Meunasah Kota, M. Yusuf, menyebut jalur sepanjang 400 meter itu sering menelan korban karena berem jalan tidak stabil. Lumpur, aspal terkelupas, bekas roda, dan bahu jalan becek jadi pemandangan rutin. “Saat pengendara turun ke berem lalu hendak naik kembali ke badan jalan, di situlah maut menyambar,” ucap Yusuf lirih.

Salah satu kecelakaan tragis terjadi dua bulan lalu. Seorang pengendara ditabrak dari belakang setelah tergelincir di berem dan mencoba kembali ke jalur utama. Empat bulan sebelumnya, hal serupa terjadi dengan korban meninggal di tempat.

“Beremnya busuk, bro. Aspal tinggal nama. Bahu jalan cuma lumpur dan rumput,” tegas Samsul, warga Peudada, Bireuen.

Di Peudada, pasangan suami istri Junaidi dan istrinya juga jadi korban. Mereka jatuh di berem yang rusak, dan ditabrak dari belakang. Sang istri kini masih kritis di RS Zainoel Abidin Banda Aceh. Samsul meminta penegak hukum segera turun tangan. “Ini bukan kecelakaan biasa. Ini pembunuhan struktural,” ujarnya.

Fakta Teknis & Pelanggaran UU:
Mengacu pada Permen PUPR No. 11/PRT/M/2010, pelanggaran mencolok tampak nyata: Berem Tidak Stabil dan Tidak Diperkeras. Fungsi berem sebagai jalur darurat tidak berjalan. Kondisi berlumpur, aspal rusak, roda kendaraan masuk ke berem. Drainase Tidak Memadai Air sawah tergenang dan merembes ke berem tanpa alur pembuangan. Mengakibatkan licin, becek, dan berbahaya bagi pengguna. Pelanggaran Keselamatan Jalan Tidak ada ruang aman bagi kendaraan darurat. Kondisi ini meningkatkan potensi kecelakaan fatal.

Diamnya PPTK, Sunyinya Tanggung Jawab
Wartawan telah menghubungi kamis (22/05) dua Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) di Aceh Utara dan Bireuen. Namun tak satu pun bersedia menjawab panggilan konfirmasi. Seorang staf Balai Pelaksana Jalan Nasional yang enggan disebutkan namanya hanya mengatakan, “PPTK yang bertanggung jawab soal itu, kami tidak bisa menjawab karena bukan kewenangan kami.”

Geuchik Yusuf dan Samsul meminta aparat penegak hukum bertindak tegas dan mengusut proyek jalan nasional ini, karena Ada potensi kuat pelanggaran hukum terkait kelalaian teknis dan perencanaan pembangunan. Selain itu Rasa aman masyarakat tergerus, trauma korban dan keluarga terus berlipat. Belum lagi lanjut merka biaya rumah sakit hingga kematian akibat proyek asal jadi menjadi beban keluarga dan negara. Bila hal ini dibiarkan masyarakat cemas setiap kali melewati jalur maut ini karena Jalur strategis yang menghubungkan dua kabupaten besar justru diabaikan. (firdaus)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Pembukaan Lahan Sawit Masif Picu Banjir, Petani Menjerit Menanggung Kerugian

16 April 2026 - 17:08 WIB

Janji Bantuan Mengalir, Petani Menjerit Gagal Tanam di Aceh Utara

16 April 2026 - 15:18 WIB

“Paktam” Harus Dievaluasi: Konten TikTok di Jam Dinas dan Informasi Keliru Ancam Citra Bupati Aceh Utara

11 April 2026 - 23:50 WIB

Mahasiswa Laporkan Saiful Mujani ke Polda Metro Jaya atas Dugaan Penghasutan

10 April 2026 - 21:55 WIB

RSUD Cut Meutia Gratiskan Biaya Perawatan Korban Penusukan di Aceh Utara

10 April 2026 - 13:54 WIB

Trending di Aceh