Tarutung, harianpaparazzi.com – Dibalik sisi positif upaya melestarikan budaya melibatkan siswa sembari memperkenalkan potensi wisata menuai sorotan terkait beban biaya yang harus ditanggung orang tua siswa.
Sorotan tercetus dari Jimmi Tambunan anggota Badan Anggaran (Banggar) DPRD Taput dalam agenda pembahasan Perubahan APBD Taput 2026 oleh Banggar DPRD dengan Tim Anggaran Pemkab Taput,Rabu(3/9/2026) di ruang paripurna dewan.
Kegiatan seperti tortor dan pertunjukan budaya lainnya di pentas terbuka Salib Kasih setiap Minggu memiliki nilai positif. Selain menjadi ruang kreativitas bagi anak-anak, kegiatan tersebut juga dapat menjadi sarana memperkenalkan budaya sekaligus menggaungkan potensi wisata daerah. Namun, menurut Jimmi , pemerintah perlu melihat persoalan dari sisi lain, terutama kemampuan ekonomi keluarga.
Politisi PDI Perjuangan ini menilai peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pariwisata jangan sampai justru menimbulkan beban baru bagi masyarakat, khususnya orang tua siswa peserta tortor.
“Dari sektor pendapatan asli daerah atau PAD yang ditargetkan kepada Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga mungkin tercapai karena pelajar bersama orang tua hadir di sana. Tetapi jangan sampai kegiatan wisata justru membebani orang tua,”pungkas Jimmi.
Ia menyebut, setiap siswa atau peserta tortor yang tampil mengisi pentas diperkirakan mengeluarkan biaya sekitar Rp 30 ribu untuk transportasi belum lagi kebutuhan lainnya.
Beban tersebut akan semakin terasa bagi keluarga yang memiliki lebih dari satu anak yang harus mengikuti kegiatan. Belum lagi kata Jimmi , terdapat pengeluaran tambahan berupa retribusi masuk sekitar Rp 6 ribu serta biaya lainnya selama berada di lokasi.
“Bagaimana kalau ada orang tua yang memiliki dua atau tiga anak harus mengikuti kegiatan? Tentu bebannya semakin besar. Di tengah kondisi ekonomi masyarakat saat ini, hal seperti ini perlu menjadi perhatian,” tegasnya
Jimmi mengaku sejumlah konstituennya juga telah menyampaikan keluhan setelah mengikuti kegiatan budaya di Salib Kasih. Salah satu persoalan yang disorot adalah fasilitas bagi pengunjung yang dinilai belum memadai.
“Kita dukung peningkatan pariwisata tetapi kegiatan perlu dievaluasi. Sarana dan prasarana seperti tempat berteduh bagi penonton saja belum tersedia. Sangat tidak pas jika retribusi ditarik, tetapi fasilitas belum memberikan kenyamanan,” ujarnya.
Ia pun mendorong agar pemerintah mencari solusi sehingga kegiatan budaya tetap berjalan tanpa menambah beban ekonomi keluarga. “Kalau memang anak-anak kita dilibatkan dalam kegiatan kalau bisa perongkosan peserta dibantu melalui dana BOS sesuai ketentuan. Sehingga orang tua tidak terbebani,tegas Jimmi Tambunan
Kadis Pariwisata Pemuda Olah Raga Betty Sitorus menilai kegiatan tersebut tetap memiliki manfaat bagi para pelajar. Selain mendapatkan ruang berkreasi, siswa dan guru disebut tidak dikenakan tiket masuk.
Kegiatan di Salib Kasih juga menjadi kesempatan bagi sebagian pelajar untuk mengenal objek wisata tersebut secara langsung.
Betti Sitorus menilai kegiatan tersebut dapat menjadi perpaduan antara aktivitas budaya, pembelajaran dan rekreasi bagi pelajar.
Sementara Kepala Dinas Pendidikan Freddy Advent Panjaitan dalam menanggapi sorotan terhadap biaya transportasi mengatakan akan melakukan evaluasi agar pelaksanaan kegiatan ke depan tidak memberatkan orang tua.
Freddy juga membuka opsi agar biaya transportasi kegiatan dapat disiapkan melalui dana BOS sesuai mekanisme dan ketentuan yang berlaku seraya menyatakan akan melakukan evaluasi. (Udut)






