Menu

Mode Gelap
Oknum Mantan Ketua PWI Aceh Utara Diduga Masih Kuasai Aset Organisasi, PWI Aceh: Seluruh Aset di Bawah Kendali PWI Aceh Abdul Halim Dituding Gelapkan Uang Organisasi, Bendahara Ungkap Fakta Mengejutkan Dugaan Penyimpangan Dana Organisasi, PWI Aceh Ambil Alih Kepengurusan PWI Aceh Utara Menguak Krisis Air Bersih Kuala Simpang: Dua Jam Mengalir, Lima Hari Menunggu Kabar Gubernur Aceh Nikah Lagi Beredar di Medsos, Pemerintah Aceh Belum Beri Klarifikasi Diduga Tanpa Izin Camat dan Pemkab, Geuchik di Nibong Ikuti Bimtek Tertutup ke Medan, Per Desa Dipungut Rp15 Juta

Headline

RSUDZA Catat Sejarah, Berhasil Jalankan Operasi Cerebrovascular Pertama di Aceh

badge-check


RSUDZA Catat Sejarah, Berhasil Jalankan Operasi Cerebrovascular Pertama di Aceh Perbesar

Banda Aceh, Harianpaparazzi.com – Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin (RSUDZA) mencatat sejarah baru di dunia medis Aceh. Untuk pertama kalinya, rumah sakit rujukan terbesar di Serambi Mekkah itu sukses melaksanakan operasi cerebrovascular, sebuah tindakan bedah saraf pada pembuluh darah otak yang selama ini hanya bisa dilakukan di pusat layanan kesehatan nasional.

Apresiasi atas pencapaian ini datang langsung dari Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, M. Nasir. Dalam konferensi video bersama Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, Minggu (7/9/2025), Sekda menyebut keberhasilan ini menempatkan RSUDZA sebagai rumah sakit pertama di Sumatera dan ke-8 di Indonesia yang mampu melakukan operasi besar cerebrovascular.

“Apresiasi dan terima kasih kami sampaikan kepada Pak Menteri serta tim dokter RS PON yang telah bekerjasama dengan tim bedah RSUDZA, sehingga operasi ini sukses dilakukan,” ujar Sekda.

Operasi Berisiko Tinggi


Operasi cerebrovascular adalah prosedur kompleks pada pembuluh darah otak, umumnya dilakukan untuk menangani stroke, aneurisma, hingga malformasi arteriovenosa. Prosedur ini selama ini menjadi momok karena keterbatasan fasilitas dan tenaga medis di Aceh, sehingga pasien kerap dirujuk ke Medan atau Jakarta.

Sekda menegaskan keberhasilan perdana ini menjadi tonggak penting. Namun, Pemerintah Aceh tetap harus berbenah. “Kami akan terus meningkatkan SDM dokter di Aceh, serta melengkapi sarana dan prasarana yang dibutuhkan,” ucapnya.

Dukungan Pemerintah Pusat


Menkes Budi Gunadi Sadikin menegaskan pemerintah pusat mendukung penuh penguatan layanan kesehatan di Aceh. Tahun ini, Kemenkes akan menyalurkan 514 unit CT Scan dan Cath Lab ke RSUD di luar Jawa, termasuk RSUDZA.

Tak hanya itu, permintaan PLT Direktur RSUDZA, Arifatul Khorida, untuk mendapatkan mikroskop neurosurgery juga dikabulkan. “Jika Aceh sudah lengkap alatnya, maka rujukan akan jauh berkurang. Kasihan pasien dan keluarganya bila harus dirujuk keluar daerah,” ujar Menkes.

Dengan gaya bercanda, Menkes juga menekankan pentingnya ketersediaan dokter spesialis saraf. “Kalau perlu, sekolahkan sampai luar negeri. Tapi harus orang Aceh, jangan orang Jawa nanti balik lagi ke Jawa. Kalau orang Jawa, ya harus dinikahkan dengan dara Aceh biar betah di sini,” ujarnya, disambut tawa peserta rapat virtual.

Tantangan Masih Mengintai


Meski keberhasilan ini disambut dengan kebanggaan, sejumlah tantangan masih nyata. Ketersediaan dokter spesialis saraf di Aceh masih minim. Ketergantungan pada alat dari pusat menunjukkan kapasitas lokal belum sepenuhnya mandiri.

Selain itu, angka rujukan pasien Aceh ke luar daerah masih tinggi. Bila tidak diimbangi dengan kesiapan SDM dan ruang operasi khusus, keberhasilan ini dikhawatirkan hanya akan jadi prestasi simbolik.

Dimensi Hukum dan Sosial


Secara hukum, keberhasilan RSUDZA sejalan dengan UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dan amanat Pasal 28H UUD 1945 yang menegaskan hak warga atas pelayanan kesehatan. Hibah alat kesehatan dari pemerintah pusat juga diikat aturan ketat soal pemanfaatan dan pengawasan.

Secara sosiologis, keberhasilan ini menumbuhkan kebanggaan kolektif masyarakat Aceh. Mereka tak lagi harus jauh berobat ke luar daerah. Namun, ekspektasi sosial ikut meninggi. Masyarakat bisa menaruh harapan besar agar semua penyakit saraf ditangani di Aceh, yang berpotensi menimbulkan tekanan bila layanan tak konsisten.

Harapan Pasien Aceh


Bagi pasien dan keluarga, operasi ini bukan sekadar prestasi medis, tetapi juga solusi nyata. Tidak sedikit pasien stroke yang sebelumnya harus menempuh perjalanan panjang ke luar daerah. Kini, harapan itu semakin dekat.

“Kasihan pasien kalau harus dirujuk jauh. Dengan alat dan tenaga di Aceh, mereka bisa ditangani lebih cepat, lebih dekat, dan lebih murah,” tegas Menkes.

Kolaborasi untuk Masa Depan


Sekda menutup dengan menekankan pentingnya kolaborasi. “RSUDZA harus jadi pengampu RS regional di Aceh. Cita-cita kita adalah agar pelayanan kesehatan prima benar-benar dirasakan masyarakat di seluruh kabupaten/kota,” katanya.

Sementara Menkes mengingatkan pentingnya pencegahan. “Semua orang tidak ingin terkena stroke. Mari manfaatkan layanan pemeriksaan kesehatan gratis yang diluncurkan Presiden Prabowo, sekali setahun. Lebih dini diketahui, lebih cepat ditangani,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Oknum Mantan Ketua PWI Aceh Utara Terancam Dipolisikan, Diduga Beli Rumah Dengan Dana Organisasi

22 Februari 2026 - 01:51 WIB

Oknum Mantan Ketua PWI Aceh Utara Diduga Masih Kuasai Aset Organisasi, PWI Aceh: Seluruh Aset di Bawah Kendali PWI Aceh

15 Februari 2026 - 10:13 WIB

Anggota PWI Aceh Utara Layangkan Protes, Minta Abdul Halim Didiskualifikasi dari Konferensi

8 Februari 2026 - 08:51 WIB

Abdul Halim Dituding Gelapkan Uang Organisasi, Bendahara Ungkap Fakta Mengejutkan

5 Februari 2026 - 21:40 WIB

Sayuti Achmad Terpilih Aklamasi, Lanjutkan Kepemimpinan PWI Lhokseumawe Periode Berikutnya

4 Februari 2026 - 12:25 WIB

Trending di Headline