JAKARTA, harianpaparazzi.com – Asosiasi Nazhir Indonesia (ANI) ANI Perkuat Sebagai Penjaga Nilai,Penggerak Perubahan dan Pelayan Umat, sekaligus berkomitmen untuk terus mendorong sinergi antar Nazhir, memperkuat advokasi kebijakan, dan membuka ruang kolaborasi lintas sektor demi kemajuan wakaf nasional.
Di tengah dinamika zaman, kita dihadapkan pada tantangan digitalisasi, transparansi, dan akuntabilitas.
Namun di balik itu, terbuka peluang besar untuk menjadikan wakaf sebagai solusi atas berbagai persoalan sosial dari pendidikan, kesehatan, hingga pemberdayaan ekonomi umat.
Demikian dikatakan oleh Imam Nur Azis, Presiden Asosiasi Nazhir Indonesia (ANI) dalam Munas ANI di Jakarta,Sabtu,(30/8).
Nazhir hari ini , lanjut dia, bukan lagi sosok pasif yang hanya menjaga aset. Kita adalah manajer sosial, inovator keuangan syariah, dan pemimpin komunitas.
Oleh karena itu, ANI harus menjadi rumah besar yang mendukung transformasi Nazhir menjadi profesional yang tangguh dan visioner.
“Saya berharap MUNAS ini menjadi ruang dialog yang jujur, strategis, dan solutif. Mari kita rumuskan langkah-langkah nyata untuk memperkuat kelembagaan, meningkatkan literasi wakaf, dan memperluas dampak sosial dari aset wakaf yang kita kelola,” tutur Imam Nur Azis.
Dijelaskan, MUNAS bukan sekadar agenda rutin organisasi. Ia adalah momentum strategis untuk meneguhkan arah gerak kita sebagai Nazhir yang profesional, amanah, dan berdampak.
“Kita hadir di sini bukan hanya sebagai pengelola wakaf, tetapi sebagai penjaga nilai, penggerak perubahan, dan pelayan umat,” ujarnya.
Asosiasi Nazhir Indonesia lahir dari semangat kolaborasi dan visi besar: menjadikan wakaf sebagai instrumen pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.
Keberadaan ANI adalah untuk memperkuat kapasitas Nazhir, memperjuangkan regulasi yang berpihak, dan membangun ekosistem wakaf yang sehat dan produktif.
Nazhir hari ini bukan lagi sosok pasif yang hanya menjaga aset. Kita adalah manajer sosial, inovator keuangan syariah, dan pemimpin komunitas.
Oleh karena itu, ANI harus menjadi rumah besar yang mendukung transformasi Nazhir menjadi profesional yang tangguh dan visioner.
“Saya berharap MUNAS ini menjadi ruang dialog yang jujur, strategis, dan solutif. Mari kita rumuskan langkah-langkah nyata untuk memperkuat kelembagaan, meningkatkan literasi wakaf, dan memperluas dampak sosial dari aset wakaf yang kita kelola,” papar Imam Nur Azis.
Dalam momentum bersejarah ini, izinkan dirinya mengangkat satu kata kunci yang menjadi semangat baru bagi kita semua: Nazhir BERDAYA.
Sebuah akronim yang bukan sekadar slogan, tetapi visi besar untuk membangun ekosistem wakaf yang tangguh dan berdampak.
BER berarti kita, para nazhir Indonesia, harus berjamaah, bersatu, bersinergi, dan berkolaborasi. Tidak ada lagi ruang untuk berjalan sendiri-sendiri.
Wakaf adalah amanah umat, dan kekuatannya terletak pada kebersamaan kita.
Sementara itu, DAYA mencerminkan kualitas yang harus kita miliki: daya juang yang tak kenal lelah, daya cipta untuk melahirkan inovasi, daya kreasi dalam mengelola aset wakaf secara produktif, dan daya kelola_ yang profesional serta akuntabel.
Semua itu harus bermuara pada satu hal: dampak nyata bagi masyarakat.
“Nazhir BERDAYA bukan hanya tentang kita yang kuat, tapi tentang kita yang mampu memperkuat. Bukan hanya tentang mengelola aset, tapi tentang menggerakkan perubahan,” tambah Imam Nur Azis.