Aceh Tenggara, Harianpaparazzi.com – Warga desa di Kecamatan Deleng Pokhkisen mengeluh terkait penyaluran bantuan pangan berupa beras sebanyak 20 kilogram.
Wati salah satu warga setempat mengungkapkan kekecewaannya terhadap petugas dalam penyaluran bantuan pangan beras sebanyak 20 kilo gram.
“Penyaluran bantuan pangan ini, di dalam undangan diambil di kantor desa masing-masing, namun kenyataannya di ambil di kantor camat, jadi warga dari 22 desa berkumpul di kantor camat Deleng Pokhkisen, sehingga antrian panjang mulai pagi hari sampai sore hari,” ungkap Wati.
Syarat pengambilan bantuan pangan yang diwakilkan keluarganya harus ada surat keterangan dari kepala desa setempat, hal ini dianggap mempersulit warga, warga harus bolak – balik minta tanda tangan kepala desa.
Ia menyebutkan, untuk membuat keterangan kita harus ke tempat fotocopy bayar, dan menjumpai kepala desa.
“Kepala desa payah (sulit-red) dijumpai, ditelpon ga diangkat, terakhir besok lagi, harus ambil bantuan itu , jadi waktu untuk ambil bantuan itu bisa memakan waktu 2 sampai 3 hari,” keluhnya.
Wati berharap kepada pihak bulog sebagai penyalur bantuan tersebut tidak dipersulit, KTP asli penerima manfaat ada dan KTP asli perwakilan pun ada, harusnya jangan lagi buat keterangan dari kepala desa, lebih baik bantuan itu diberikan di desa masing-masing biar tidak repot.
Sementara itu, Pimpinan Cabang Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) Kutacane, Fahmi Hafiza Siregar saat dikonfirmasi harianpaparazzi.com mengatakan pengambilan bantuan melalui perwakilan telah sesuai prosedur.
“Memang pak, untuk perwakilan ada tata caranya, tidak sama dengan orang yang bersangkutan langsung mengambil. Saya lagi di Gayo Lues pak coba komunikasi dengan bang Rizal Hasibuan,” singkatnya.
Sementara itu Rizal Hasibuan mengatakan akan mengevaluasi hal tersebut.
“Di seluruh Indonesia memang sedang banyak temuan seperti ini bang, ini nanti untuk kita laporkan ke bappenas pusat dan jadi bahan evaluasi. Saat ini aplikasi pusat sedang ada perbaikan juga,” ungkapnya.
“Semua laporan masyarakat kita tampung bang sebagai bahan perbaikan kedepannya, karena pusat tidak tau kondisi langsung menghadapi rakyat di lapangan, kita di lapangan ini yg merasakan,”tambahnya mengakhiri. (Yusuf)