Menu

Mode Gelap
Tiga Media Sehari, Tiga Surat Teguran: Dewan Pers Kehabisan Sabar Hadapi Media yang Ngeyel Oknum Wakil Bupati Aceh Timur Diduga Gunakan Jabatan untuk Mempengaruhi 21 Dapur MBG Plt Kepala DPPKB Aceh Tenggara Periksa Aset Kendaraan Dinas dan Fasilitas Kantor Oknum Pengembang Villa Buket Rata Serobot Aset Desa, Jalan Umum Dijadikan Jaminan Bank Direktur PNL Raih Gelar Doktor Ilmu Teknik USK, Angkat Inovasi Fly Ash untuk Pembangunan Berkelanjutan Oknum Mantan Ketua PWI Aceh Utara Diduga Masih Kuasai Aset Organisasi, PWI Aceh: Seluruh Aset di Bawah Kendali PWI Aceh

News

70 Tahun KAA: Fadli Zon Tegaskan Komitmen Indonesia untuk Warisan Budaya dan Solidaritas Dunia

badge-check


					70 Tahun KAA: Fadli Zon Tegaskan Komitmen Indonesia untuk Warisan Budaya dan Solidaritas Dunia Perbesar

Bandung, harianpaparazzi.com – Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menegaskan pentingnya merawat warisan sejarah dan membangun solidaritas budaya global dalam rangkaian peringatan 70 Tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) di Gedung Merdeka, Bandung, Senin (28/4/2025).

Rangkaian peringatan ini diawali dengan pembukaan Pameran Filateli 70 Tahun KAA, kolaborasi Kementerian Kebudayaan bersama bersama PT. Pos Indonesia, Perkumpulan Filatelis Indonesia (PFI), dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Pameran yang akan berlangsung hingga 3 Mei 2025 di Gedung Kantor Pos Asia Afrika ini menghadirkan koleksi prangko dan benda filateli bersejarah yang merekam semangat solidaritas Asia-Afrika sejak 1955, koleksi prangko 29 negara peserta KAA 1955, dan koleksi foto-foto KAA 1955.

Melalui prangko dan benda filateli tersebut, pengunjung diajak merefleksikan perjalanan perjuangan Negara-negara ‘Dunia Selatan’ (Global South) dalam membangun tatanan dunia yang lebih adil dan setara.

“Prangko adalah ekspresi kedaulatan. Seperti halnya uang, prangko menjadi simbol identitas dan medium diplomasi budaya. Prangko juga menjadi suatu cermin budaya, politik, dan identitas bangsa sehingga dapat menjadi momentum kita dalam mengenang sejarah perjuangan bangsa, termasuk momen bersejarah seperti KAA ini,” ujar Fadli.

Puncak kegiatan ditandai dengan Seminar Hari Warisan Dunia dalam Rangka Peringatan 70 Tahun KAA yang dihadiri oleh para akademisi, sejarawan, masyarakat dan pelaku budaya lintas generasi. Dalam pidatonya, Fadli menegaskan bahwa peringatan ini menjadi momentum untuk memperkuat komitmen pelindungan warisan budaya di tengah bencana, konflik, dan volatilitas global.

“Karena itulah, Kemenbud mendorong penerapan Kajian Dampak Cagar Budaya (KDCB) atau Heritage Impact Assessment (HIA) sebagai salah satu persyaratan dalam setiap perencanaan pembangunan di Indonesia. Pembangunan dan upaya pelestarian harus berjalan selaras dan saling memperkuat,” ujar Fadli.

Ia juga menyoroti tragedi yang dihadapi oleh Palestina, di mana UNESCO mencatat hingga April 2025, sekitar 102 situs budaya hancur akibat genosida yang dilakukan Israel. “Penghancuran sistematis warisan budaya Palestina adalah bentuk perang terhadap ingatan dan identitas. Ini adalah genosida budaya. Solidaritas kita kepada Palestina adalah solidaritas kepada peradaban itu sendiri,” tegas Fadli.

Dalam konteks peringatan 70 tahun KAA, Fadli mengingatkan kembali bahwa Indonesia, meskipun baru merdeka selama 10 tahun, telah mampu berperan sentral dalam memimpin 29 negara Asia-Afrika dalam memperjuangkan prinsip kedaulatan, kemerdekaan, dan hak menentukan nasib sendiri.

“Bandung menjadi tonggak lahirnya solidaritas bangsa-bangsa di Asia dan Afrika, bukan hanya dalam politik, tetapi juga dalam perjuangan identitas budaya,” pungkas Fadli yang juga menggarisbawahi bahwa prinsip-prinsip Dasasila Bandung tetap relevan hingga hari ini untuk menghadapi dunia yang semakin terpolarisasi.

Sebagai bentuk pengakuan internasional, arsip dan dokumentasi Konferensi Asia Afrika telah diinskripsi dalam daftar Memory of the World UNESCO sejak 2015. Fadli juga menyatakan dukungan terhadap prakarsa komunitas pelestari dan sejarawan untuk mengusulkan Gedung Merdeka dan kawasan Jalan Asia-Afrika sebagai Warisan Dunia UNESCO, dan Bandung sebagai Kota Diplomasi.

“Bandung adalah kota bersejarah yang menghidupkan semangat solidaritas global, dan merefleksikan kepemimpinan Indonesia di kancah dunia. Melalui pelestarian warisan budaya, kita perkuat jati diri bangsa, dorong kerja sama budaya sebagai jantung solidaritas global, dan dukung peran Indonesia sebagai bangsa yang berani mewarnai arah dunia dengan nilai-nilai keadilan, kemanusiaan, dan perdamaian,” tutup Fadli.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Kecelakaan Tunggal di Pulau Sejuk, Gerak Sigap Polisi Jadi Sorotan

23 Maret 2026 - 12:16 WIB

Lewat Bantuan Sosial, Satresnarkoba Batu Bara Ajak Masyarakat Jauhi Narkoba

20 Maret 2026 - 16:03 WIB

Ultah ke-9 SMSI, Gusti Sinaga Serukan Soliditas Hadapi Tantangan Pers

18 Maret 2026 - 21:39 WIB

Tiga Media Sehari, Tiga Surat Teguran: Dewan Pers Kehabisan Sabar Hadapi Media yang Ngeyel

17 Maret 2026 - 01:27 WIB

Rapat Koordinasi Humas Lapas Tanjungbalai, Publikasi Kegiatan Pemasyarakatan Diperkuat

16 Maret 2026 - 10:54 WIB

Trending di News